INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[2:23 PM]
Bu Sekar membalas permintaan persetujuan melalui kanal internal. Ia menanyakan apakah Naratama Pangan Tbk terkait dengan sembilan akun yang menjual Evalean. Aku memeriksa catatan yang boleh aku akses dan menjawab bahwa aku tidak menemukan hubungan di data yang tersedia. Aku juga menegaskan bahwa pesanan ini bukan transaksi pribadiku dan tidak didasarkan pada nama yang ditulis Julian di klinik.
Sekar memintaku membacakan kembali jumlah lot, harga batas, dan instruksi Julian. Aku mengulang semuanya, memastikan tidak ada angka yang salah. Setelah ia memberi persetujuan untuk memproses pesanan sebagai transaksi nasabah, aku kembali ke panggilan.
“Pak Julian, kepatuhan mengizinkan pesanan diproses sesuai instruksi yang tercatat. Saya akan membacakan rinciannya sekali lagi.”
Aku menyebut jumlah delapan ratus lot dan ketentuan harga yang ia berikan. Julian mengonfirmasi. Baru setelah itu aku memasukkan pesanan ke sistem.
Tidak ada kejadian dramatis. Transaksi berjalan sesuai prosedur, tercatat, dan selesai tanpa kendala. Aku mengirim konfirmasi kepada Julian melalui jalur resmi, lalu melaporkan waktu eksekusi kepada Bu Sekar.
“Terima kasih, Pak Arsenio,” kata Julian sebelum menutup telepon.
“Sama-sama. Saya hanya menjalankan instruksi yang telah disetujui.”
Menjelang penutupan sesi, harga Naratama bergerak naik. Kenaikannya cukup besar untuk menghasilkan komisi yang jauh di atas rata-rata transaksiku. Aku tidak bersorak. Aku mencatat angka tersebut dan memastikan catatan persetujuan kepatuhan terlampir.
Pak Reyhan berdiri di samping mejaku. “Kamu melakukan semuanya dengan benar?”
“Saya menunggu izin Sekar, membacakan ulang instruksi, lalu menjalankannya. Log-nya lengkap.”
“Bagus. Jangan biarkan hasil yang bagus membuatmu lupa prosedur.”
“Saya tidak akan.”
Ketika bursa tutup, angka komisi muncul di laporan harian. Nilainya membuatku menatap layar lebih lama dari yang seharusnya. Aku membutuhkan uang, dan hasil itu terasa seperti pembenaran atas semua jam kerja panjangku.
Namun aku juga tahu keuntungan itu tidak datang dari kemampuan membaca rahasia Julian. Pesanan diproses secara terbuka sebagai pesanan nasabah dan diperiksa kepatuhan. Untuk pertama kalinya sejak Evalean jatuh, aku bisa memandang hasil kerjaku tanpa merasa sedang menyembunyikan sesuatu.
***
[8:41 AM]
Laporan komisi transaksi Naratama masuk ke sistem pagi berikutnya. Angkanya tercatat resmi, bersama waktu persetujuan dan eksekusi. Tidak ada catatan keberatan dari kepatuhan. Aku menyimpan salinan laporan sesuai prosedur, lalu membuka daftar pekerjaan hari itu.
Pak Reyhan mampir sebelum rapat tim. “Sekar sudah mengonfirmasi pesanan kemarin tercatat lengkap. Jangan menganggap pemeriksaan selesai untuk semua hal, tapi untuk transaksi itu tidak ada masalah prosedural.”
“Baik, Pak.”
“Dan jangan mengejar transaksi besar hanya untuk mengulang hasilnya.”
“Saya tidak berniat melakukannya.”
Aku mengatakannya dengan yakin, meski sebagian diriku langsung teringat betapa besar komisi yang masuk. Ternyata bahkan ketika aku berusaha memisahkan diri dari uang, angka itu tetap punya daya tarik. Aku hanya harus lebih waspada agar daya tarik tersebut tidak mengubah penilaianku.
Di sisi lain ruangan, Saka menanyakan kepada Vivi apakah komisi Julian masuk ke laporan Arsenio. Vivi menjawab bahwa semua transaksi klien masuk melalui sistem. Saka melihat ke arahku dan mengangkat alis.
“Selamat, Sen. Nasabahmu tahu cara memilih hari.”
“Transaksi itu diperiksa dan disetujui kepatuhan.”
“Gue cuma bilang selamat.”
“Kalau begitu, terima kasih.”
Aku tidak menambahkan apa pun. Aku sudah lelah menjelaskan hal yang tercatat dengan jelas. Jika Saka masih curiga, ia bisa mengajukan pertanyaan melalui jalur resmi.
Menjelang siang, Pak Reyhan memintaku membantu memeriksa laporan komisi tim lima. Ia tidak memberikan pekerjaan itu sebagai hadiah, tetapi sebagai bagian dari tugas rutin. Saat membuka rekap, aku melihat komisiku meningkat cukup jauh dibanding minggu sebelumnya.
Untuk beberapa menit, aku membiarkan diri merasa bangga. Bukan karena Julian, melainkan karena aku tetap mengikuti prosedur ketika peluang untuk bertindak cepat terbuka di depanku.
Aku menutup laporan dan kembali ke meja. Hari kerja berjalan biasa, tetapi ada perasaan bahwa sesuatu mulai berubah. Angka-angkaku akhirnya bergerak ke arah yang selama ini aku kejar.
***
[9:03 AM]
Papan komisi bulanan diperbarui sebelum rapat pagi. Biasanya aku hanya meliriknya sekilas, lalu kembali ke layar. Kali ini beberapa orang berkumpul di tengah ruangan dan berbicara sambil menunjuk daftar peringkat.
Aku berdiri di belakang mereka. Namaku tercantum di dalam dua puluh besar untuk pertama kalinya.
Aku membaca baris itu sekali, lalu memastikan aku tidak salah melihat nama. Tidak ada perubahan nama atau angka. Arsenio Sadewadiningrat berada di antara orang-orang yang selama ini hanya aku lihat dari jauh.
Vivi bertepuk tangan kecil. “Selamat, Pak Arsenio.”
“Terima kasih, Vi.”
Pak Reyhan ikut tersenyum, meski ia segera mengingatkan bahwa peringkat bulan ini bukan jaminan untuk bulan depan. Aku mengangguk. Aku tahu betul betapa cepatnya angka bisa berubah.
Saka datang belakangan. Ia menatap papan itu, lalu menepuk bahuku dengan gerakan ringan yang terasa lebih seperti ejekan daripada ucapan selamat.
“Wah, Sen. Akhirnya masuk juga.”
“Terima kasih, Pak Saka.”
“Jangan puas dulu. Tim tiga punya target lebih berat.”
Aku belum sempat bertanya apa maksudnya ketika Pak Wirasetya muncul di ambang ruangannya. Ia melihat daftar peringkat, lalu memanggil namaku.
“Arsenio, ke ruangan saya setelah menyelesaikan laporan pagi.”
“Baik, Pak.”
Ia kembali ke ruangannya tanpa menjelaskan lebih jauh. Beberapa orang langsung melirikku. Aku tidak tahu apakah ia ingin membahas hasil komisi, pemeriksaan Julian, atau hal lain.
Pak Reyhan menyentuh map di mejaku. “Selesaikan laporan dulu. Apa pun yang ditawarkan, dengarkan sampai selesai sebelum menjawab.”
“Saya akan melakukannya.”
Aku kembali ke kursi dan menyelesaikan laporan dengan teliti. Namaku masih terlihat di papan saat aku berdiri untuk menuju ruangan Pak Wirasetya. Ada kebanggaan yang tumbuh, tetapi juga rasa waswas. Kesempatan yang selama ini aku inginkan akhirnya datang, dan aku belum tahu apa yang harus aku korbankan untuk menerimanya.
***
[10:16 AM]
Pak Wirasetya mempersilakanku duduk di hadapan mejanya. Ia membuka laporan komisi di layar, lalu menunjuk namaku pada daftar dua puluh besar.
“Peningkatanmu terlihat jelas,” katanya. “Kamu bekerja baik dalam beberapa minggu terakhir, terutama ketika menghadapi pesanan Julian.”
“Saya mengikuti prosedur yang berlaku, Pak.”
“Benar. Itu salah satu alasan saya memanggilmu.”
Ia menjelaskan bahwa tim tiga sedang membutuhkan pialang yang mampu menangani portofolio lebih besar. Rotasi itu akan memberiku akses ke nasabah dengan nilai transaksi lebih tinggi, tetapi targetnya juga lebih berat. Ia tidak menjanjikan kenaikan gaji tetap. Komisi bergantung pada hasil dan evaluasi.
“Kalau menerima, kamu harus siap bekerja dengan standar tim tiga dan tidak membawa persoalan tim lima ke sana,” katanya.
Aku memahami maksudnya. Pindah tim berarti meninggalkan rutinitas dan orang-orang yang sudah aku kenal. Itu juga berarti kesempatan mengembangkan karier dan menghasilkan komisi lebih besar.
“Apakah saya boleh mempertimbangkan sampai besok?”
“Tentu. Saya ingin jawaban yang kamu pilih sendiri, bukan karena merasa terpaksa.”
Aku memandang laporan di layar. Aku sudah lama mengejar posisi yang memberinya lebih banyak ruang untuk berkembang. Namun ketika tawaran itu benar-benar ada, aku juga memikirkan Reyhan, Irene, dan bagaimana kepindahan ini akan memengaruhi pemeriksaan Julian yang masih berjalan.
“Apakah perpindahan ini akan mengganggu pemeriksaan kepatuhan?”
“Tidak. Sekar tetap menangani pemeriksaan. Kamu tetap wajib melaporkan semua interaksi dan memenuhi instruksinya, di tim mana pun kamu berada.”
Jawaban itu menghilangkan satu keraguan. Aku menarik napas.
“Saya menerima tawaran pindah ke tim tiga, Pak.”
Pak Wirasetya mengangguk. “Baik. Administrasi akan mengatur tanggalnya. Sampai perpindahan resmi, selesaikan tanggung jawabmu di tim lima.”
“Siap, Pak.”
Aku berdiri dan menjabat tangannya. Saat keluar dari ruangannya, aku merasa lega sekaligus gugup. Aku mendapatkan sesuatu yang selama ini aku inginkan, tetapi langkah berikutnya akan mengubah keseharianku.