INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[9:12 AM]
Keesokan paginya, nama Varelia Teknologi kembali muncul di kepalaku sebelum aku tiba di kantor. Aku tidak berniat mencari saham itu, tetapi papan harga di lantai kerja menampilkan pergerakan berbagai emiten. Ketika nama tersebut muncul, pandanganku otomatis tertahan.
Harganya naik tajam sejak pembukaan. Dalam beberapa menit, kenaikannya mencapai dua puluh lima persen.
Aku tidak bergerak. Tidak ada posisi atas namaku, tidak ada transaksi, dan tidak ada keuntungan yang masuk ke rekening. Aku hanya melihat angka yang berubah, sambil mengingat kertas yang aku tinggalkan di meja Julian.
“Kenapa, Sen?” tanya Pak Reyhan dari belakang.
Aku menunjuk layar. “Varelia naik dua puluh lima persen.”
Pak Reyhan membaca kode saham dan menatapku. “Kamu punya posisi?”
“Tidak.”
“Jangan masuk sekarang hanya karena melihat kenaikan.”
“Saya tidak akan.”
Aku mengatakan bahwa Julian menulis nama saham itu kemarin, dan aku langsung mengirim laporan kepada Bu Sekar. Pak Reyhan tidak menegur, tetapi raut wajahnya berubah serius.
“Pastikan kepatuhan tahu kenaikan ini. Jangan menyimpulkan dia punya informasi rahasia hanya karena prediksinya benar.”
“Saya tahu, Pak.”
Aku mengirim pembaruan kepada Sekar melalui jalur resmi. Aku mencatat bahwa harga saham naik sekitar dua puluh lima persen pagi itu, tanpa menyatakan bahwa Julian menyebabkan atau mengetahui kenaikannya. Setelah itu aku menjauh dari panel dan menyelesaikan pekerjaan lain.
Saka berdiri di dekat mejaku ketika aku kembali. “Dengar-dengar ada nama saham yang dikasih Julian dan langsung naik?”
Aku menatapnya. “Saya tidak membeli saham itu.”
“Gue belum nanya lo beli atau tidak.”
“Kalau begitu jangan menyebarkan cerita yang belum jelas.”
Saka tertawa kecil. “Santai, Sen. Gue cuma heran.”
Aku tidak membalas. Kenaikan Varelia memang membuatku heran, tetapi aku tidak akan memberi Saka bahan untuk mengubahnya menjadi gosip lain. Aku kembali mengerjakan laporan dengan perasaan campur aduk: kagum, curiga, dan sedikit kecewa karena aku tidak mengambil keuntungan.
Yang terakhir itu paling sulit aku akui. Aku menolak tawaran Julian karena tidak ingin memakai informasi yang tidak bisa aku verifikasi. Namun ketika angka naik, aku tetap bertanya-tanya berapa besar keuntungan yang mungkin aku dapat.
***
[11:38 AM]
Kenaikan Varelia menjadi bahan pembicaraan di beberapa meja, tetapi aku berusaha tidak ikut menambah cerita. Aku tidak memiliki sahamnya dan tidak memperoleh keuntungan. Hanya itu fakta yang bisa aku sampaikan.
Bu Sekar memanggilku ke ruang kepatuhan melalui kanal internal. Ia sudah menerima pembaruanku dan ingin memastikan bahwa aku tidak membuka data perusahaan atau meneruskan nama itu kepada nasabah.
“Saya tidak melakukan keduanya, Bu.”
“Apakah Anda membeli saham itu?”
“Tidak.”
“Apakah Anda menyarankan nasabah untuk membelinya?”
“Tidak.”
Sekar mencatat jawabanku. “Kenaikan harga setelah seseorang menulis nama saham tidak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut mengetahui informasi nonpublik. Kita tetap harus memeriksa sumbernya. Jangan menyebarkan cerita ini di kantor.”
“Saya mengerti.”
“Dan jangan menganggap kesempatan yang terlewat sebagai kerugian yang harus Anda kejar kembali.”
Kalimat itu membuatku terdiam. “Saya tidak melakukan transaksi.”
“Saya tahu. Saya sedang mengingatkan Anda tentang tekanan yang mungkin muncul setelah melihat hasilnya.”
Aku kembali ke meja dengan rasa tidak nyaman yang berbeda. Sekar bukan hanya memeriksa transaksi; ia juga mengingatkanku agar tidak membiarkan satu prediksi yang benar mendorongku melanggar batas berikutnya.
Aku membuka laporan komisi bulan ini. Angkaku belum berubah karena Varelia. Aku menatap jumlah itu lebih lama dari biasanya. Dulu aku akan menganggap keuntungan yang tidak aku ambil sebagai kesempatan bodoh yang hilang. Sekarang aku mencoba melihatnya sebagai keputusan yang memang aku buat.
Aku kehilangan kemungkinan untung, bukan uang yang sudah aku miliki. Perbedaan itu sederhana, tetapi aku harus mengulangnya beberapa kali sebelum benar-benar terasa.
Pada jam makan siang, Irene lewat dan melihatku masih di meja. Ia memperlambat langkah, seolah hendak menyapa. Aku mengangkat wajah. Ia akhirnya hanya mengangguk, lalu berjalan terus. Jarak di antara kami belum pulih setelah percakapan di pantry.
Aku ingin memperbaikinya, tetapi tidak hari itu. Aku masih perlu memahami mengapa aku begitu cepat menolak penjelasannya dan begitu mudah tertarik pada teka-teki Julian.
Di layar, harga Varelia masih naik-turun. Aku menutup panel tersebut. Tidak ada alasan bagiku untuk terus menatap sesuatu yang tidak aku miliki.
***
[2:17 PM]
Setelah pembicaraan dengan Bu Sekar, aku kembali bekerja dengan aturan yang lebih jelas. Jika Julian menyebut nama saham, aku akan melapor dan tidak bertransaksi. Jika ia mengajukan pesanan sebagai nasabah, aku harus meminta persetujuan sebelum mengeksekusinya. Tidak ada ruang untuk menafsirkan sendiri.
Pak Reyhan memastikan aku memahami prosedur tersebut. “Kamu tidak perlu menolak semua komunikasi dari Julian. Tapi jangan bertindak sebelum izin Sekar. Pastikan ada catatan.”
“Baik, Pak.”
Aku kembali ke meja. Dua panggilan dari nasabah masuk berurutan. Aku menyelesaikan keduanya, lalu memperbarui laporan. Hari berjalan normal sampai menjelang akhir sesi, ketika telepon kantorku berdering.
Nama Julian muncul pada layar panggilan masuk.
Aku menatapnya sebentar. Ini pertama kalinya ia menelepon meja kerjaku sejak pemeriksaan dimulai. Aku mengangkat gagang tanpa menyapanya terlalu akrab.
“Selamat siang, Pak Julian. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin melakukan transaksi,” katanya.
Aku tidak membuka akun atau menyentuh papan ketik. “Sebelum saya mencatat permintaan, mohon sebutkan nama saham dan jumlah lotnya.”
“Delapan ratus lot Naratama Pangan Tbk,” jawabnya. “Saya ingin Anda yang mengeksekusi.”
Aku mencatat pesanan itu pada log panggilan tanpa mengirimkannya ke bursa. “Saya harus meminta persetujuan kepatuhan terlebih dahulu. Mohon tunggu.”
“Silakan.”
Aku menutup mikrofon, memberi tahu Pak Reyhan, lalu mengirim rincian pesanan kepada Bu Sekar melalui prosedur yang sudah ditetapkan. Saham itu bukan Evalean dan bukan Varelia, nama yang ditulis Julian di kertas kemarin. Belum ada keputusan saat panggilan masih berlangsung.
Aku kembali ke gagang telepon. “Pak Julian, saya sedang menunggu konfirmasi. Saya belum bisa menjalankan pesanan.”
“Baik, Pak Arsenio.”
Nada suaranya tetap tenang. Aku menatap lampu panggilan yang masih menyala dan menunggu jawaban Sekar. Kali ini aku sudah menyebutkan setiap rinciannya; keputusan berikutnya tetap bukan milikku seorang.