Angka itu muncul pertama kali di layar laptop tua Sekar, di sudut ruang riset kampus yang dipinjamkan Prof. Hadi, pada sore yang gerimisnya menempel di kaca jendela. Bayu sudah memasukkan data minggu kelima uji klinik—keluhan pegal yang diukur dengan skala sederhana, frekuensi keluhan angin, catatan harian dua belas subjek yang ditulis tangan oleh Yu Tarmi karena sebagian dari mereka sudah tak lancar membaca tulisan cetak—dan ketika ia menekan tombol terakhir, kurva di layar membentuk garis yang turun. Bukan turun liar, bukan turun yang bisa kebetulan. Turun yang konsisten, dari minggu ke minggu, pada hampir semua subjek, dengan jarak yang rapi dari kelompok yang minum rebusan tiruan tanpa bahan aktif.
Sekar menahan napas. "Ini... ini nyata, ya?"
Bayu tidak langsung menjawab. Ia membaca ulang tabel, mencari kesalahan yang biasa ia cari—subjek yang datanya hilang, hari yang dicatat dua kali, angka yang dibulatkan terlalu rajin. Ia mengangkat catatan harian Pak Sopian, lelaki tukang batu yang punggungnya bertahun-tahun keras seperti papan, dan membandingkannya dengan grafik. Keluhan pegal Pak Sopian, yang di minggu pertama ia tulis 'sakit terus dari bangun sampai tidur', di minggu kelima berbunyi 'pagi masih, siang sudah enteng'. Bukan sembuh. Bukan ajaib. Tapi membaik, terukur, dan kelompok pembanding tidak.
"Ini efek nyata," kata Bayu akhirnya, dan ia mendengar suaranya sendiri pelan, seperti orang yang takut menakuti sesuatu yang baru hinggap. "Rebusan angin dan pegal Mbah Kunto, dalam dosis yang kita standarkan, menunjukkan perbedaan yang tidak bisa dijelaskan oleh kebetulan. Pertama kali kita punya angka yang membela mereka."
Mereka membawa kabar itu ke dapur Mbah Kunto malam itu juga, dan dapur yang berminggu-minggu terasa muram sejak urusan Bu Warsih, untuk sesaat menyala lagi. Mbah Kunto, yang sejak terbelahnya kampung lebih banyak diam, menegakkan punggungnya saat Sekar menjelaskan grafik itu dengan kata-kata yang ia sederhanakan—bukan 'kurva', bukan 'signifikan', tapi 'jamu ini benar bikin enteng badan, dan sekarang ada hitungannya'. Mata tua itu, untuk pertama kali sejak lama, tidak menatap lantai.
"Jadi yang selama ini saya rasa di tangan," kata Mbah Kunto perlahan, "sekarang ada di kertas."
"Mulai ada, Mbah," kata Bayu. "Belum selesai. Tapi mulai."
Berita itu menjalar lebih cepat dari yang Bayu inginkan. Esok paginya, di los pasar, beberapa peracik sudah mendengar—dari mana, Bayu tidak tahu, mungkin dari subjek yang bercerita, mungkin dari Yu Tarmi yang tak bisa menahan kabar baik di dada—dan mereka mendatanginya dengan wajah yang sudah lama tak ia lihat: berharap. Pak Sukro, yang sempat tergoda banting setir jual temulawak kemasan, bertanya apakah ini artinya jamu mereka 'menang'. Mbok Jainah bertanya apakah ini bisa dipakai untuk menjawab kotak hijau di apotek. Ada semangat yang bangkit, dan semangat itu, Bayu sadari dengan firasat dingin, justru yang harus ia jaga jangan sampai membakar mereka.
"Saya harus berhati-hati di sini," katanya kepada Sekar, ketika mereka berjalan pulang melewati gang yang sama tempat dulu Sekar mencium bau pelarut di dapur Bu Warsih. "Ini baru hasil antara. Lima minggu, dua belas orang. Bukan hasil akhir. Belum diperiksa orang lain, belum lengkap masa pantaunya, belum dianalisis sampai tuntas."
"Tapi ini benar," kata Sekar. "Kamu sendiri yang bilang."
"Benar sejauh data sekarang. Itu kalimat yang penuh, Sekar, jangan dipotong." Bayu berhenti, menatapnya. "Kamu tahu apa yang aku tuduhkan ke Wreksa Hayati? Mereka mengambil sesuatu yang benar, lalu mengucapkannya lebih besar dari buktinya, dan menjualnya. Kalau kita sekarang berlari ke balai, mengumumkan jamu kita 'sudah terbukti', menempelkan kata itu ke spanduk untuk melawan kotak hijau—kita mengerjakan dosa yang persis sama. Dengan tangan kita sendiri."
Sekar terdiam. Gerimis turun lagi, menempel di rambutnya. "Susah ya, jadi jujur waktu kalah."
"Lebih susah jujur waktu mulai menang," kata Bayu. "Waktu kalah, jujur itu cuma menahan diri. Waktu mulai menang, jujur itu menahan diri dari senjata yang sudah ada di tangan."
Malam itu ia tak bisa tidur, bukan karena cemas seperti dulu, melainkan karena sebuah pikiran yang terus berputar. Selama ini ia mengira pertarungan ini soal membuktikan jamu berkhasiat. Ternyata, setelah bukti itu mulai datang, pertarungan yang lebih sulit baru kelihatan: menahan diri tidak melampaui bukti, justru ketika bukti itu akhirnya berpihak. Ia membuka buku catatannya—bukan yang kosong dulu, melainkan buku baru yang kini penuh angka, nama, tanggal, keluhan—dan di halaman terakhir ia menulis satu garis untuk dirinya sendiri, sebuah pagar yang ia pasang sebelum godaan datang: hasil antara bukan klaim. Disimpan, bukan diteriakkan.
Ia tidak tahu bahwa esok lusa, godaan itu akan datang persis dari arah yang paling ia sayangi—dari peracik-peracik yang lelah dipukul, yang melihat angka ini sebagai pedang pertama yang akhirnya mereka punya, dan yang tidak akan mengerti mengapa orang yang membawakan pedang itu justru melarang mereka menghunusnya.