Sekar yang membawa Bayu ke kafe kecil dekat kampus, tempat mahasiswa mengerjakan tugas berjam-jam dengan satu gelas kopi. Di sudut, di balik tumpukan map dan laptop, duduk seorang lelaki muda berkacamata dengan kaus polos dan tatapan yang tajam tapi lelah. "Damar," Sekar memperkenalkan. "Teman kuliahku. Hukum. Dia yang lihat draf paten Wreksa Hayati waktu itu, lewat temannya di kantor pendaftaran."
Damar menjabat tangan Bayu dengan jabatan cepat. "Jadi kamu yang bikin perusahaan farmasi marah dalam waktu kurang dari dua bulan," katanya, separuh kagum separuh prihatin. "Itu rekor. Biasanya orang butuh tahunan."
Bayu duduk. "Saya butuh tahu satu hal. Kalau kampung mau punya pijakan hukum—untuk memiliki resepnya, untuk mendaftarkan produk, untuk berdiri sama tinggi dengan perusahaan—itu mungkin atau tidak?"
Damar menggeser laptopnya, membuka beberapa dokumen. "Mungkin. Tapi 'mungkin' di hukum itu kata yang panjang sekali ekornya." Ia menjelaskan, dan Bayu mendengarkan dengan disiplin seorang yang terbiasa belajar bahasa asing. Kampung tidak bisa memiliki sesuatu sebagai 'kampung'—hukum tidak mengenal entitas itu. Yang dibutuhkan adalah wadah berbadan hukum. Ada beberapa bentuk: perusahaan, yang berorientasi laba dan dimiliki pemegang saham; yayasan, yang cocok untuk tujuan sosial tapi tidak bisa membagi keuntungan ke anggota; dan koperasi, yang dimiliki dan dikelola bersama oleh anggotanya, di mana keuntungan dibagi sesuai partisipasi.
"Untuk kasus kalian, koperasi paling masuk akal," kata Damar. "Resep itu milik komunal—banyak peracik, turun-temurun, tidak ada satu pemilik. Koperasi bisa jadi wadah di mana semua peracik jadi anggota, sama-sama pemilik, sama-sama menanggung dan sama-sama menikmati. Secara filosofi, koperasi adalah versi hukum dari apa yang sudah kalian lakukan turun-temurun: kepemilikan bersama."
Sekar mencondongkan badan. "Kalau begitu kita bentuk koperasi. Apa susahnya?"
Damar tersenyum lelah. "Di sinilah ekornya. Koperasi butuh anggota yang sepakat—minimal sekian orang, dengan anggaran dasar yang disetujui bersama, rapat pembentukan yang sah, kepengurusan yang dipilih. Bukan soal mengisi formulir. Soal kesepakatan. Semua peracik harus duduk di satu meja, setuju soal siapa pemiliknya, bagaimana untungnya dibagi, siapa yang memutuskan, siapa yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa." Ia menatap mereka berdua bergantian. "Dari yang Sekar ceritakan, kampung kalian sekarang sedang terpecah. Sebagian ingin jual cepat ke perusahaan demi uang. Sebagian curiga pada semua orang luar. Sebagian curiga pada—maaf—kamu, Bayu, karena kamu masih dianggap orang perusahaan."
Bayu mengangguk pelan. Ia sudah merasakannya: tatapan dingin di los pasar, ibu yang dulu menawarinya teh kini hanya mengangguk pendek.
"Jadi masalah terbesar kalian bukan hukum," lanjut Damar. "Saya bisa menyusun anggaran dasar koperasi dalam seminggu. Yang tidak bisa saya susun adalah kepercayaan antarmanusia di kampung itu. Tanpa itu, koperasi cuma kertas. Akan pecah di rapat pertama soal pembagian untung, dan pecahnya lebih buruk daripada tidak pernah dibentuk, karena meninggalkan luka."
Kalimat itu mengubah sesuatu dalam cara Bayu melihat masalahnya. Selama ini ia memetakan tantangan sebagai daftar teknis: dana, lab, badan hukum, dokumen mutu. Variabel-variabel yang bisa ia kunci satu per satu, seperti menstandarkan ramuan. Tapi Damar baru saja menunjukkan variabel yang tidak ada di timbangan mana pun—kepercayaan, dan kepercayaan tidak bisa diukur, tidak bisa dibeli, tidak bisa dipercepat dengan jadwal. Ia teringat Mbah Kunto yang menjelaskan beras kencur: yang harus dijaga sama bukan beratnya, melainkan yang masuk ke badan orang. Mungkin di sini pun begitu. Yang harus ia bangun bukan struktur di atas kertas, melainkan sesuatu yang masuk ke dalam orang.
"Saya selalu mengira masalah ini soal sains," kata Bayu pelan, lebih ke dirinya sendiri. "Bukti, kandungan, izin edar. Ternyata sainsnya bagian yang paling mudah."
"Sains selalu bagian yang paling mudah," kata Damar, menyeruput kopinya yang sudah dingin. "Yang susah selalu manusianya. Kamu bisa membuktikan ramuan itu manjur sampai sepersejuta gram, dan tetap kalah karena dua peracik tidak saling bicara sejak tahun lalu gara-gara utang lima ratus ribu."
Sekar tertawa kecil, getir, karena ia tahu persis utang dan kerenggangan macam apa yang Damar maksud. "Bu Saminah dan Bu Wati," gumamnya. "Sepuluh tahun tidak akur gara-gara warisan kompor."
Mereka membahas detail teknis sebentar lagi—dokumen apa yang dibutuhkan, biaya pendirian yang ternyata tidak besar, langkah-langkah formalnya. Tapi Bayu tahu, dan ia melihat Sekar juga tahu, bahwa rapat di kafe ini baru saja memindahkan medan perang. Bukan lagi dari dapur ke lab, bukan lagi dari indra ke instrumen. Kali ini dari soal yang ia kuasai—angka, bukti, metode—ke soal yang sepanjang hidupnya ia hindari justru karena tak bisa ia ukur: bagaimana membuat sekelompok orang yang sama-sama benar, sama-sama takut, dan sama-sama terluka, mau berdiri di satu meja dan mempercayai satu sama lain.
Di perjalanan pulang, Sekar diam lama, lalu berkata, "Kamu tahu apa yang lucu? Kamu datang ke kampung untuk mengajari kami soal standar. Sekarang yang harus kita standarkan justru yang paling tidak bisa distandarkan. Kepercayaan orang." Ia menatap ke luar jendela. "Mbah benar dari dulu. Yang sulit itu bukan timbangannya."
Bayu tidak menjawab, karena untuk pertama kali ia setuju sepenuhnya, dan kesepakatan itu terasa seperti kalah dan menang sekaligus.