Tujuh hari itu berjalan seperti detik menuju tiang gantungan — dan Nirwa mengisinya dengan presisi seorang algojo.
Hari pertama dan kedua: auditor forensik eksternal yang disewa lewat jalur resmi komisaris independen menyelesaikan laporannya. Seratus empat puluh miliar, dua belas kontrak, tiga perusahaan cangkang — kini lengkap dengan rantai bukti yang sah: rekening koran, akta perusahaan, dan benang merah yang menghubungkan semuanya ke satu alamat kantor dan satu nama komisaris. Karina.
Hari ketiga: Rahmi menemui dua komisaris independen yang mengambang — bukan dengan janji, tetapi dengan map. 'Baca ini di rumah. Jangan bicara dengan siapa pun. Hari Senin, pilih sesuai nurani kalian.' Dua orang itu membaca map itu dan tidak tidur nyenyak sampai Senin.
Hari keempat: Nirwa menjalankan bagian yang paling pribadi, bagian yang tidak ia delegasikan kepada siapa pun. Ia mengundang Karina makan siang — sepupu dengan sepupu, seperti biasa, di restoran keluarga langganan mereka.
Karina datang dengan gaun baru dan kulit yang bercahaya. Perempuan itu sedang berada di puncak kemenangan rahasianya; ia bahkan memesan sampanye kecil.
'Jarang-jarang Mbak ngajak aku,' katanya ceria. 'Sibuk terus kan, dengan semua urusan dewan itu? Aku dengar-dengar... beritanya kurang enak?'
Nirwa menatap sepupunya — perempuan yang bermain di kolamnya saat mereka kecil, yang tidur di kamarnya saat liburan keluarga, yang sekarang tidur dengan suaminya di apartemen yang dibayar dari uang curian — dan ia merasakan belas kasih yang aneh. Karena Karina tidak tahu. Karina benar-benar mengira ia menang.
'Berita itu memang kurang enak,' kata Nirwa ringan. 'Makanya aku mau memastikan keluarga baik-baik saja. Kamu kan keluarga terdekatku, Rin. Kalau aku jatuh... kamu juga ikut terkena, kan? Vendor-vendormu banyak yang kerja sama dengan kami.'
'Aduh, Mbak, jangan jatuh dong.' Karina tertawa, meraih tangan Nirwa dengan sandiwara sayang. 'Nanti aku doakan. Mbak pasti menang. Mbak kan paling kuat.'
'Iya,' kata Nirwa, tersenyum pada sepupunya. 'Aku memang paling kuat. Terima kasih sudah mengingatkan.'
Makan siang itu berakhir dengan pelukan. Karina pulang dengan hati ringan. Nirwa pulang dengan satu rekaman kecil: bukan bukti hukum — makan siang itu memang tidak dimaksudkan untuk itu — melainkan untuk dirinya sendiri. Ia perlu mendengar sepupunya berbohong satu kali terakhir, agar hatinya selesai. Dan hatinya selesai.
Hari keenam, malam: Gilang pulang dengan mata merah dan bau kopi berlebihan. Ia sudah mencium sesuatu — dua komisaris independen itu tidak menjawab pesannya, auditor eksternal terlihat keluar-masuk gedung, dan Karina meneleponnya lima kali sehari dengan suara panik.
'Nirwa.' Ia berdiri di pintu kamar, dan topengnya akhirnya retak. 'Apa yang sedang kamu lakukan?'
Nirwa menutup laptopnya, menatap suaminya dari tempat tidur mereka. 'Aku sedang menjadi CEO, Gilang. Sesuatu yang kamu rekomendasikan sendiri di mosimu: kepemimpinan yang tegas.'
'Kalau kamu menyentuh kontrak-kontrak itu—' Gilang berhenti, terlambat menyadari bahwa ia baru saja mengaku ada 'kontrak-kontrak itu'.
Nirwa membiarkan keheningan itu duduk di antara mereka. Lalu ia berkata, sangat pelan: 'Kontrak-kontrak yang mana, Sayang?'
Gilang menatapnya — dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Nirwa melihat ketakutan telanjang di mata suaminya. Bukan takut kehilangan kursi. Takut kehilangan kebebasan.
'Tidak ada,' kata Gilang akhirnya. 'Tidur saja.'
Ia menutup pintu kamar terlalu keras, dan Nirwa mendengar langkahnya turun, cepat, seperti orang yang berlari dari rumah yang terbakar.
Senin tinggal dua hari. Dan sang ratu sudah selesai menghitung.