Rapat dewan luar biasa itu dihadiri sembilan kursi penuh — dan suasana di dalamnya seperti pemakaman yang belum tahu siapa jenazahnya.
Wiryo membacakan mosi dengan gaya negarawan: kinerja yang 'terpolarisasi', gaya kepemimpinan yang 'sentralistis', dan kebutuhan akan 'wajah profesional baru'. Di sebelahnya, Dessy mengangguk pada setiap jeda yang tepat. Dan di kursi CFO, Gilang duduk dengan ekspresi duka yang dipoles — ekspresi suami yang 'terpaksa' memilih perusahaan di atas pernikahan.
'Dengan berat hati saya mendukung mosi ini,' katanya ketika tiba gilirannya. 'Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi saya. Tetapi kepentingan dua belas ribu karyawan harus di atas kepentingan pribadi saya.'
Nirwa menontonnya dari kursi pimpinan dan merasakan sesuatu yang aneh: kagum. Suaminya benar-benar aktor terbaik yang pernah ia nikahi.
Pemungutan suara pendahuluan berjalan menegangkan. Tiga suara jelas untuk mosi: Wiryo, Dessy, dan satu komisaris muda yang sudah dibeli janji jabatan. Tiga suara jelas menolak: Nirwa dan dua loyalis ayahnya. Dua independen terlihat goyah — dan semua mata akhirnya jatuh pada kursi paling ujung.
Bu Rahmi menyesap tehnya tanpa buru-buru, menikmati keheningan itu seperti menikmati panggung.
'Mosi ini sah secara prosedur,' katanya akhirnya. 'Tetapi pemungutan suara definitif untuk mencopot CEO pendiri perusahaan tidak boleh dilakukan dengan setengah informasi.' Ia meletakkan cangkirnya. 'Saya mengusulkan penundaan voting tujuh hari. Selama itu, semua anggota dewan berhak meminta data apa pun yang relevan dengan kinerja kepemimpinan — termasuk dari bagian keuangan. Semua kontrak, semua vendor, dua tahun terakhir. Transparansi total. Adil untuk semua pihak.'
Wajah Gilang berubah sepersekian detik — dan Nirwa menangkapnya: ketakutan pertama. Transparansi total adalah kata paling berbahaya di ruangan itu bagi satu orang, dan semua orang yang salah mengira kata itu ditujukan kepada sang CEO.
'Keberatan,' kata Wiryo cepat. 'Tujuh hari hanya menunda ketidakpastian—'
'Keberatan dicatat dan ditolak,' potong Rahmi, dengan suara mantan regulator yang pernah membuat bankir-bankir menangis. 'Yang takut pada tujuh hari transparansi adalah orang yang menyimpan sesuatu di laci gelapnya. Ada di sini yang merasa?' Ia mengedarkan pandangan. 'Tidak ada? Bagus. Voting ditunda tujuh hari.'
Rapat ditutup dengan guncangan yang belum selesai. Di koridor, faksi Gilang bergerombol dengan wajah-wajah menghitung. Dan Gilang — Gilang berjalan cepat ke ruangannya sendiri dan mengunci pintu.
Malam itu, di rumah, pernikahan itu menampilkan babak teranehnya: dua orang yang tahu segalanya tentang satu sama lain, makan malam dalam kesunyian yang sopan.
'Kamu diam saja hari ini,' kata Gilang akhirnya, menatap istrinya dari seberang meja. 'Mosimu digantung seminggu dan kamu diam. Itu bukan kamu, Nir.'
Nirwa menatapnya balik — lama, tenang, tanpa kedip. 'Kamu mengharapkan aku apa, Gilang? Menangis di depan dewan?'
'Aku mengharapkanmu bertahan. Kamu selalu bertahan.' Gilang menyipitkan mata. 'Kecuali kalau kamu sudah tahu sesuatu yang membuatmu tidak perlu bertahan.'
Udara di antara mereka berubah listrik. Inilah momennya — tepi jurangnya. Dan Nirwa memilih untuk berdiri di tepinya tanpa mundur satu langkah pun.
'Aku hanya tahu satu hal,' katanya pelan. 'Orang yang yakin menang tidak gelisah. Kamu gelisah sejak rapat tadi, Sayang. Kenapa?'
Gilang tidak menjawab. Ia berdiri, meletakkan serbetnya, dan keluar ke teras dengan ponselnya — dan Nirwa tahu kepada siapa telepon itu akan pergi, dan tentang apa.
Biarkan, pikirnya, menyendok makan malamnya dengan tenang. Biarkan dia menelepon, menghitung, ketakutan.
Tujuh hari. Itu semua yang ia butuhkan — dan Gilang Ramadhan baru saja memberikannya dengan tangan sendiri, di rapat yang ia rancang untuk menghancurkan istrinya, dengan mosi yang akan menjadi kuburannya sendiri.