Hari rapat dewan. Undangan kop sah, bukan restoran, bukan empat mata. Agenda: pengisian kursi komisaris independen dari daftar pendek. Bukan sewa kursi CEO. Bukan hadiah menjelang palu. Nirwa membacanya di meja, kopi masih panas, dada dingin dari keran. Ia tidak membalas dengan pesta. Pesta pengisian adalah naskah 'sudah aman'. Aman cantik. Cantik ditolak. Sinta di ambang. 'Bu Rahmi minta Ibu datang. Bukan lobi. Notulen. Ibu jangan usul nama. Usul tekanan. Tekanan naskah.' Nirwa: 'Datang. Tidak usul. Tidak pesta. Tidak telepon.' Ia buka folder delay sepuluh menit sebelum ruang. Bukan kampanye. Kampanye tidak. Ia perlu noda di mata sebelum suara, supaya pengisian tidak jadi naskah pahlawan. Pahlawan pecah. Pecah judul. Palet jujur. Jujur ia bawa ke ruang. Ruang notulen. Notulen sabun. Sabun dua kop, bukan satu naskah meja CEO.
Pagi itu telur, air, kopi tidak. Tangan. Di mobil ia tidak latihan muka di kaca. Latihan naskah. Naskah ratu yang merancang dewan. Naskah ditolak. Badan lebih utuh dari lutut lantai. Enam jam semalam hampir. Cukup untuk duduk tanpa usul. Tidak damai. Di tas map delay, sengaja, bukan map nama. Nama calon milik Rahmi. Rahmi jaga independen. Nirwa jaga truk. Beda kop. Beda sabun.
Siang ruang dewan, air mineral, bukan sampanye. Rahmi membuka: kekosongan tercatat, prosedur, daftar pendek, bukan buru karena tanggal hakim. Wiryo hadir, hormat, tidak usul dampingan. Pisau di sela diam. Dessy suara kecil. Nirwa tidak duet. Ia buka map delay, sengaja, supaya ruangan melihat palet sebelum mendengar dada. 'Catat. Saya tidak usul nama. Saya tidak telepon. Kursi ini milik independen, bukan milik CEO. Kalau Bapak ingin suasana, suasana sudah ditolak. Hari ini prosedur. Kalender hakim bukan alasan isi. Alasan isi: lubang terlalu lama.' Rahmi: 'Usul dari komite, bukan dari CEO. Satu nama dari daftar pendek. Independen, bukan loyalis basah. Voting.' Wiryo: tidak menolak, mencatat keberatan tempo. Independen yang tidak basah: setuju. Loyalis: setuju, sebagian karena takut kelihatan mengganjal. Dessy: setuju, suara kecil, cukup. Nirwa tidak berterima kasih. Terima kasih undangan. Rahmi ketuk. 'Diterima. Kursi terisi, sah, prosedur. Kerahasiaan sampai rilis dewan. Bukan rilis CEO. Tutup.' Selesai. AC. Nirwa tidak berjabat tangan. Jabat tangan duet. Ia kumpulkan map, keluar lebih dulu, tidak berfoto.
Di koridor Wiryo tidak menyusul. Dessy tidak menyusul. Kekosongan itu sudah ia kenal: faksi kehabisan jas dokter, belum kehabisan naskah. Naskah akan pindah ke portal sebagai hormat. Hormat nanti. Sekarang lift. Lift cermin: utuh. Utuh cukup. Menang belum. Menang kata portal. Notulen: kursi sah. Itu yang dewan beli. Beli prosedur. Bukan pesta. Pesta ditolak. Nama Nirwa tidak didudukkan. Nama Nirwa di kop CEO. Cukup. Cukup itu tahta. Tahta tidak perlu dua kursi.
Setelah lift ia berdiri sebentar di basement, bukan karena ragu, karena dada ingin merayakan. Merayakan naskah. Naskah ditolak. Kursi sah adalah lubang yang ditutup, bukan mahkota yang dipasang. Mahkota sudah di kop. Kop kerja. Kerja truk. Truk ia kejar setelah notulen, bukan bunga. Bunga dikembalikan. Sinta tidak tersenyum di mobil. Tidak tersenyum belas sah. Nirwa menatap kaca sekali lagi. Muka kerja. Kerja cukup. Cukup untuk tidak usul. Usul sudah tidak. Tidak. Satu kata. Ia bawa kata itu ke papan.
Basement. Sinta. Nirwa: 'Kanal: tidak ada perubahan jabatan CEO. Komisaris independen terisi, prosedur dewan, bukan karena sidang. Kerja. Jangan spekulasi vonis. Jangan kata merancang. Jangan kata menang.' Sinta ketik. Nirwa mobil, radio mati, napas empat. Palu hari ini notulen kursi. Bukan palu hakim. Beda. Beda sabun. Gedung. Lorong. Seseorang hampir selamat. Nirwa tidak meratakan. Lestari mampir lima menit, resmi: 'Saya tidak percantik karena dewan terisi. Invoice berbau tetap tertahan. Terima kasih tidak menjadikan saya kemenangan Ibu.' Nirwa: 'Bukan kemenangan. Angka. Tahan. Terima kasih kaku.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan tetap. Nirwa nasi kotak. Empat mata selamat ditolak. Email: *Diterima. Kerja.* Kaku. Sabun. Ia ke papan. Palet. Kepala ritel pilih delay. Ketukan. Kerja. Bukan pesta kursi.
Sore Dodi: tanggal palu tetap; rilis dewan kop dewan, bukan kop CEO. 'Ibu tidak wawancara "merancang". Merancang naskah Arman: lihat, dendam. IR diam. Kalau portal pasang kursi di samping kalender hakim, kita tidak klarifikasi. Klarifikasi campur. Campur makan malam.' Nirwa: 'Tidak klarifikasi. Tidak nonton. Truk.' Intan: cerai antri, tidak dipercepat. 'Jangan campur notulen dewan ke cerai. Ibu kering. Makan. Enam.' Nirwa: 'Kering. Telur. Tidak nonton. Tidak usul. Tidak pesta.' Tutup. Pantry. Air. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Rahmi akan puas sebagian. Sore ia tidak ke Bekasi. Ritual ditahan. Kursi sah bukan alasan pawai. Pawai kultus. Ia lewat logistik, noda, angguk, pergi. Supervisor angka. Nirwa suka angka. Angka tidak mengucapkan selamat. Selamat naskah. Naskah ditolak. Ia paraf forecast, jendela, napas empat. Tahta masih. Kursi orang terisi. Terisi prosedur. Prosedur bukan lobi. Lobi ditolak. Kerja diterima.
Malam dapur, telur, teh, lampu kristal mati. Tidak TV. TV dewan yang dijadikan menang. Mejanya piring. Cuci. Kunci. Cincin laci. Daftar: *kursi sah prosedur; bukan lobi; palu antri; rantai jujur; capek.* Lima baris. Kolom: *telur. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak usul. Saya tidak duduk di kursi orang. Nama saya di kop kerja. Kursi sah. Palu belum. Cukup untuk hari rapat. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Ia tidur. Palu hakim antri. Palu dewan kursi sudah. Beda. Kerja besok. Palet. Tidak selasar. Tidak judul merancang. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh. Satpam. Rapat bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Kursi sah. Sah prosedur. Nama di kop. Kop kerja. Kerja cukup. Palu hakim antri. Antri ia jalani di papan. Papan truk. Truk jujur. Jujur masih.
Rumah besar. Ia tidak nyala TV. TV dewan. Mejanya ranjang tamu. Ranjang kerja. Kerja cukup. Cukup untuk tidak merayakan kursi orang. Merayakan pesta. Pesta ditolak. Palu antri. Antri ia jalani di papan besok. Besok truk. Truk jujur. Jujur masih. Ia dengar hujan. Hujan sebagai hujan. Tanda sudah cukup di notulen. Ia tidak menelepon Rahmi untuk 'kita menang'. Menang bunga. Bunga dikembalikan. Tidur. Coba enam. Coba cukup.