Pagi setelah daftar yang tidak ia kejar, Nirwa tidak membuka portal 'dewan baru'. Portal lapar. Lapar judul. Yang ia buka: map delay, air dulu, kopi belum. Lorong belah, kurang rapat. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Tanggal palu tiga minggu bukan di mejanya. Mejanya suku cadang. Suku cadang jujur. Jujur cukup. Palu hakim antri. Kursi orang antri di prosedur. Nama ia di kop. Beda. Sinta di ambang, tidak tanya wawancara. Tidak tanya belas sah. Belas yang tidak sah: 'Bu, lantai bilang kita sudah pulih'. Pulih judul. Judul ditolak. Kanal sudah tertulis. Tertulis kaku.
Pagi itu telur ia makan berdiri. Berdiri kolom. Kolom menahan jari agar tidak menulis rilis 'bersih'. Bersih janji. Janji peluru. Ia pilih delay. Delay telat yang jujur lebih mahal daripada kalimat pulih. Di mobil radio mati. Sinta tidak mengulang rumor lantai. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Menang palu. Palu belum. Hari ini rantai. Rantai yang mulai jujur. Jujur belum selesai. Selesai cantik. Cantik ditolak.
Lestari lima belas menit, resmi: tertahan sebagian, vendor bersih tiga, satu telat yang bukan cangkang, covenant terkendali, jangan longgar karena 'tanggal sudah ada dan daftar sudah jalan'. 'Tanggal bukan izin invoice. Daftar bukan izin cangkang,' kata Lestari. 'Saya tidak rilis pulih. Pulih judul. Ibu kelihatan lebih utuh. Saya tetap kaku.' Nirwa: 'Kaku. Terima kasih tidak rilis pulih. Pulih palu orang lain dan waktu. Waktu belum. Angka iya. Angka delay. Kursi Rahmi. Papan saya. Tiga. Tidak dicampur.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan. Nirwa ke papan. Palet. Kepala ritel ingin satu kalimat 'kita sudah aman'. Nirwa: 'Aman janji. Terkendali. Atau diam. Pilih diam kalau ragu.' Mereka pilih delay. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Bukan bunyi pulih yang dikejar. Kejar naskah. Naskah ditolak.
Siang Sinta: dua media minta 'sikap CEO menjelang palu dan dewan'. Tolak. Format spekulasi. IR diam. Pasar datar. Nirwa ruang sebelah, tidak bingkai. Pertanyaan mundur. Tidak. Ia mencatat. Tidak masuk muka. Setelah call lutut berat, bukan lantai. Pantry, air, pegang wastafel, napas empat, gelas, kembali. Sinta kopi pahit. 'Warna Ibu manusia.' Nirwa: 'Jangan rilis kesehatan. Kesehatan dada. Kerja. Jangan rilis pulih. Pulih waktu, bukan judul.' Sinta angguk. Nirwa ke jendela. Kota. Rantai jujur. Jujur ia jaga di papan, bukan di koran. Koran lapar palu. Palu hakim. Hakim antri. Antri bukan selesai. Selesai naskah. Naskah ditolak.
Sore, sebelum Dodi, Nirwa ke lantai operasional sekali, bukan parade. Satu pertanyaan suku cadang, jawaban angka, pergi sebelum muka belas. Belas 'Bu kita hampir selesai'. Hampir judul. Ia pilih diam. Diam kerja. Kerja palet. Palet tidak punya vonis. Vonis milik hakim. Hakim antri. Antri ia jalani di papan. Di keuangan kaca, kepala ke layar, menempel kurang. Ia tidak masuk. Tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Tengah. Map. Kerja.
Sore ia cuci muka di kamar kecil CEO. Cermin: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Ia tidak membuka draf sapu. Sapu sudah ditolak. Ia buka pintu, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur ia bawa ke delay lagi. Satu kolom mundur sehari, alasan jujur, bukan cantik. Cantik ditolak. Ia catat. Catat kerja. Kerja bukan rilis pulih. Rilis pulih naskah. Naskah ditolak.
Sore Dodi: tanggal tiga minggu tetap; Roni angin; penyidik tidak minta CEO. 'Ibu jangan rilis pulih. Pulih judul. Kalau analis tanya, angka atau diam. Dewan biar Rahmi. Nama di kop jaga dengan truk. Orang akan cuci nama Ibu dengan klip dewan plus tanggal. Cuci naskah. Naskah ditolak. Cuci yang sah: angka, vendor, gudang.' Nirwa: 'Angka. Tidak klip. Tidak nonton. Tidak buru kursi. Truk.' Intan: cerai antri. 'Jangan campur tanggal palu ke gugatan. Gugatan kering. Kering sudah.' Nirwa pantry, air, napas empat. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Ia ke delay lagi sampai lampu lorong ganti. Palet. Pak Harun: *Gudang baca truk. Orang tanya pulih. Saya bilang tidak tahu, kerja.* Nirwa: *Bagus.* Dua kata. Gudang tidak nonton palu. Gudang nonton palet. Itu yang ia jaga. Empat mata 'menyusun narasi pulih' ditolak. Email: *Tidak ada rilis pulih. Kerja. Jangan spekulasi pidana.* Kaku. Sabun. Capek bahu. Bahu tidak ia serahkan ke ucapan kuat. Kuat naskah ratu yang sudah menang. Menang palu. Palu belum. Ia paraf satu angka, jendela, napas. Tahta masih. Pulih tidak ia rilis. Tidak. Satu kata. Cukup untuk sore.
Malam Rahmi restoran, kuah, tagih telur. 'Perusahaan mulai jujur. Jujur belum pulih. Pulih waktu. Waktu belum. Kamu truk. Jangan senang. Senang rilis. Rilis Wiryo baca. Tidur. Enam. Palu antri. Kursi antri. Cerai antri. Tiga antrian. Satu badan. Badan dibayar tidur, bukan judul bersih.' Nirwa makan pelan. 'Tidak rilis pulih. Tidak buru. Tidak nonton. Tidak sapu. Empat. Kerja iya. Nama di kop. Kop kerja.' Rahmi: 'Bagus. Rapat dewan minggu depan. Sah. Bukan lobi. Kamu datang sebagai CEO, bukan sebagai yang mengisi kursi. Datang. Jangan usul. Jangan telepon. Aku jaga independen.' Nirwa: 'Datang. Tidak usul. Tidak telepon. Truk.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang, radio mati. Rumah. Dapur. Nasi. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *tidak rilis pulih; rantai jujur; rapat dewan minggu depan; palu antri; capek bahu.* Lima baris. Kolom: *telur restoran. nasi. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak rilis pulih. Saya papan. Papan truk. Cukup untuk hari jujur. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di kamar tamu. Palu belum. Kursi iya, yang miliknya. Yang bukan miliknya tidak ia kejar. Kerja besok. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, komplek gelap. Satpam angguk. Tidak bicara. Jujur bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Nama di kop. Kursi orang di prosedur. Palu hakim antri. Tiga. Tidak dicampur. Tidak. Tahta masih.
Rumah malam itu besar. Ia tidak nyala lampu kristal. Menyala rujuk lampu. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Dapur cukup. Setelah cuci ia hampir cek portal 'pulih'. Tidak. Dua kali duet. Ia kunci. Kamar tamu. Perang. Belum kesepian. Rantai jujur milik papan. Palu milik hakim. Beda. Beda ia jaga sampai tidur. Tidur tagihan. Tagihan ia coba. Coba cukup.