Dakwaan mengubah cuaca lorong lebih dari pecat. Pecat adalah dalam. Dakwaan adalah negara. Negara membuat orang takut kelihatan dekat dengan nama yang sudah di kop jaksa — dan takut kelihatan jauh dari CEO yang masih duduk.
Nirwa berjalan di tengah, sama seperti dulu. Tidak meratakan. HR laporkan: dua orang keuangan minta pindah tim, bukan cuti palsu, tertulis, alasan 'konsentrasi'. Dodi: sah, prosedur, jangan dibaca pengkhianatan. Nirwa paraf. 'Jangan saya yang telepon. Telepon CEO ke orang takut adalah tekanan. Tekanan naskah Wiryo: lihat, dendam.' Sinta catat. Nirwa ke rapat kredit. Ruang sebelah, tidak bingkai. IR angka. Pertanyaan mundur muncul lagi, lebih kencang. IR: tidak ada perubahan jabatan. Nirwa di sebelah mencatat, tidak masuk. Mundur adalah jeda berjas jaksa. Ia tidak sewa. Setelah call IR ingin paragraf penenang. Nirwa: 'Penenang judul. Diam atau angka. Saya tidak di lobi.' IR pergi. Nirwa air, sepuluh detik, kembali. Negara di lorong. Negara tidak ia lawan dengan senyum. Senyum palsu Gilang. Muka kerja. Debu tidak. Kantor. Angka. Lutut belum pantry. Pantry nanti. Nanti ia jaga supaya tidak lantai.
Siang badan memberontak. Di pantry, setelah air sepuluh detik, lututnya ingin duduk di lantai. Ia pegang wastafel, napas empat, tidak duduk. Dua staf masuk, diam, keluar cepat. Nirwa minum, kembali ke meja, tutup pintu lima menit — bukan empat mata, kosong — kepala di meja, bukan pecah, hanya berat. Sinta ketuk. 'Bu, Lestari agenda tertulis.' Nirwa: 'Lima menit. Kopi. Bukan dokter. Bukan cuti.' Sinta kopi, pahit, tidak tanya rumah. Nirwa minum. Berat pindah sedikit. Cukup untuk rapat. Tidak cukup untuk damai. Ia cuci muka di kamar kecil CEO, cermin kecil yang bukan cermin rumah: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Ia tidak telepon Intan. Intan bukan perawat. Intan kertas. Badan kolom. Kolom ia isi kopi, bukan keluh. Keluh naskah. Naskah selasar. Selasar belum. Hari ini lutut. Lutut menurut, pelan. Sinta di luar, tidak ketuk lagi. Nirwa buka pintu, muka kerja. Kerja. Bukan dokter. Bukan cuti. Cuti jeda. Jeda gagal. Lima menit kosong sudah cukup sebagai keran versi kantor. Keran rumah nanti. Nanti enam jam. Enam tagihan Rahmi. Tagihan ia coba bayar. Coba kerja. Kerja tahta. Tahta masih, meski lutut tadi wastafel. Wastafel tidak jadi judul. Judul ditolak. Angka diterima.
Lestari: jembatan invoice, satu nama baru di lampiran kecil — bukan Roni, bukan Karina, staf ex distribusi yang sudah mundur tahun lalu. 'Ke forensik, ke Dodi, ke Sari. Bukan ke Ibu untuk rilis. Bukan ke lorong.' Nirwa: 'Jalur itu. Saya tidak korek. Korek buru. Buru naskah intimidasi.' Lestari mengangguk kaku, pergi. Nirwa tulis di sudut: *nama kecil ke Sari. tidak mesin pencari.* Tangan ke delay. Palet. Kepala operasional merengek telat. Nirwa: 'Telat. Bukan cangkang. Pilih.' Mereka pilih telat. Ruangan kerja. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Setelah rapat ia lewat logistik, noda kerja, angguk, tidak berhenti. Berhenti wawancara. Pak Harun tidak telepon. Bagus. Ritual gudang tidak. Kampanye tidak. Dakwaan bukan alasan pawai Bekasi. Pawai kultus. Kultus senjata. Ia bawa muka kerja. Debu tidak di sepatu. Sepatu kantor. Kantor angka. Angka tidak merayakan jaksa. Angka jujur. Jujur ia jaga meski lutut baru saja hampir lantai.
Sore Rahmi restoran kecil, meja belakang, kuah, bukan parfum. Nirwa datang karena tagihan telur, dan karena lutut tadi. Rahmi menatapnya lama. 'Kamu hampir duduk di lantai. Sinta tidak bilang. Mukamu yang bilang. Aku tidak minta jeda. Aku minta tidur enam jam dua malam. Enam. Bukan pahlawan. Pahlawan pecah di selasar. Pecah itu judul dingin yang lebih dingin.' Nirwa makan telur di restoran, pelan. 'Saya coba enam. Saya tidak cuti. Cuti adalah dampingan yang gagal.' Rahmi: 'Coba. Aku tidak datang ke dewan untuk memelukmu. Aku jaga Wiryo. Dia akan pakai muka pucatmu sebagai suasana. Kamu makan. Kamu jangan rilis. Dessy diam. Jangan telepon.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang lewat jalan lain. Di mobil radio mati. Ia tidak cek portal. Portal jaksa. Mejanya kolom tubuh. Kolom akan diisi mandi dan tidur, kalau badan menurut. Badan hari ini hampir lantai. Hampir bukan judul kalau tidak duduk. Tidak duduk kerja. Kerja ia bawa pulang, pelan, tanpa pawai.
Malam ia mandi, bukan keran lima belas menit dulu — mandi, lalu keran singkat, lalu ranjang tamu sebelum pukul sepuluh. Kolom: *telur restoran. mandi. coba enam jam.* Inventaris. Daftar risiko: *lorong jaksa; nama kecil ex staf; muka pucat; dua minggu cerai.* Empat baris. Ia tidak membuka portal. Portal dakwaan sudah ia tolak merayakan. Tidur. Gagal pukul dua, keran, kembali, tidur. Pagi lebih utuh sedikit. Utuh cukup. Sinta di lift: 'Bu, warna Ibu lebih manusia.' Nirwa: 'Kanal tetap: kerja. Bukan kesehatan CEO. Kesehatan adalah dada. Dada keran.' Sinta hampir tertawa, lalu tidak. Lift buka. Lorong menempel. Ia di tengah. Map. Kopi. Lestari kaku. Truk. Enam jam belum penuh, tetapi lebih dari tiga. Rahmi akan menagih lagi. Tagih itu belas yang tidak jadi bunga. Bunga ditahan. Telur jalan. Tahta masih dudukannya, bukan karena ia pahlawan, karena ia bayar badan supaya tidak jadi naskah. Naskah biar orang yang ingin jeda. Ia tidak jeda. Ia tidur lebih. Beda. Beda itu tata kelola tubuh, sama seperti tata kelola dewan: tidak sewa, tidak campur, tidak pesta. Kerja. Cukup untuk Selasa. Tidak cukup untuk damai. Damai antri. Jaksa antri. Cerai antri. Antrian ia jalani satu per satu. Satu per satu adalah urutan. Urutan sudah menyelamatkan rantai. Urutan akan menyelamatkan lutut supaya tidak jadi judul. Lutut hari ini tidak duduk di lantai. Itu kerja. Kerja tidak kelihatan di notulen. Notulen tidak menagih tidur. Badan iya. Badan ia jawab. Pelan. Di meja, map terbuka. Ratu kerja. Jendela. Kota. Tidak gerbang. Tidak jaksa di rilis. Angka. Truk. Kopi. Cukup.