Arman mengajukan tunda sidang cerai dengan dalih dakwaan: 'supaya dua forum tidak mencemari satu sama lain'. Kalimat itu hampir terdengar seperti milik Nirwa. Hampir adalah jebakan. Nirwa membacanya di kantor Intan pagi Senin, kopi Intan lebih pahit daripada miliknya, roti di meja karena kolom tubuh, bukan karena nyaman.
'Mereka mencuri sabun kita,' kata Intan. 'Kita yang jaga pemisahan. Sekarang pemisahan dipakai untuk menahan cerai. Jawaban: dakwaan tidak membatalkan ikatan; tunda justru mencampur karena membuat cerai menunggu pidana. Kita minta jalan. Hakim yang putus. Ibu tidak perlu marah di atas kertas. Saya yang tulis. Ibu kering kalau dipanggil.'
Nirwa mengangguk, kunyah roti, telan. 'Tulis. Saya tidak panik. Saya capek. Capek bukan alasan tunda. Tunda adalah jeda versi pengadilan. Jeda sudah ditolak dewan. Saya tidak jual di meja lain.' Intan mencatat. Nirwa minum air. Tangan tidak gemetar. Dada ya. Dada keran nanti, rumah. Di sini map. 'Kalau hakim tunda, kita terima. Terima bukan kalah. Terima tempo. Kalau jalan, kita datang. Dua-duanya bukan rilis perusahaan.' Intan: 'Tepat. Kop Intan, bukan kop Tanjung Grup.' Beda. Beda itu yang mereka jaga sejak harta tidak jadi pentungan. Intan menuang teh, tidak memaksa cerita lutut. Nirwa syukur pada sunyi, tidak ucap. Ucap dada. Dada keran. Mereka selesai. Roti habis. Kolom siang terisi. Badan belum lunas. Lunas antri. Antri ia bawa ke gedung. Gedung bukan pengadilan. Pengadilan kop Intan. Gedung kop Tanjung. Beda. Beda sabun. Sabun ia pakai sebelum lift.
Sore, sebelum putusan tunda, Nirwa ke gedung. Lorong masih belah, dakwaan membuat keuangan menempel lagi. Ia tidak meratakan. Lestari rapat resmi, lima belas menit: invoice jembatan tetap tertahan, vendor bersih di Cikarang terlambat satu hari, covenant terkendali. 'Saya tidak longgar karena judul jaksa,' kata Lestari. 'Longgar menunggu orang capek. Ibu kelihatan capek. Saya tetap kaku.' Nirwa hampir tersenyum. Tidak. 'Kaku. Terima kasih. Kalender Intan bukan covenant. Kalender jaksa bukan izin cangkang.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan. Nirwa nasi kotak, pintu ke Sinta. Empat mata 'menyikapi dakwaan' ditolak, email resmi: *Proses hukum. Kerja. Jangan spekulasi.* Kaku. Sabun. Setelah makan ia ke lantai operasional, bukan parade: papan, satu pertanyaan suku cadang, pergi sebelum muka belas. Supervisor jawab angka. Nirwa suka angka. Di lift Sinta: dua media minta 'sikap istri setelah dakwaan'. Nirwa: 'Tolak. Istri kop Intan. CEO diam di luar rilis. Beda.' Sinta ketik. Nirwa kopi pahit di meja. Pahit jujur. Tunda belum putus. Truk sekarang. Badan berat. Berat ia tidak jual sebagai cuti. Cuti jeda. Jeda gagal. Ia paraf forecast, berdiri di jendela, napas empat, kota. Tahta masih. Meja ketiga belum ia sewa.
Sinta ragu di ambang. 'Bu, portal bilang Ibu akan cabut cerai karena sudah menang pidana. Saya kanal: tidak ada pernyataan perusahaan soal cerai.' Nirwa: 'Tepat. Cabut adalah naskah rumpun. Saya tidak cabut. Saya juga tidak 'menang pidana'. Pidana baru dakwaan. Vonis jauh. Cabut jauh. Kerja dekat.' Ia ke papan delay. Palet. Kepala ritel tidak menyinggung jaksa. Bagus. Truk tidak punya dakwaan. Pak Harun pesan: *Gudang baca truk.* Nirwa: *Bagus.* Dua kata. Gudang sabun. Di keuangan, kaca, kepala ke layar, menempel. Ia tidak masuk. Tidak meratakan. Capek di bahu. Bahu tidak ia serahkan ke ucapan kuat. Kuat naskah istri. Ia CEO di lantai. Paraf satu angka, pergi ke meja, jendela, napas. Penetapan belum. Truk iya. Truk lebih jujur daripada rumor cabut. Rumor biar portal. Portal biar mereka. Mejanya palet.
Malam Intan: hakim menolak tunda. Sidang berikut tetap, dua minggu. Alasan singkat di penetapan: dua forum, dua kepentingan, tidak otomatis tunda. Arman akan bocor 'hakim didorong CEO'. 'Kita tidak bantah dorong. Bantah dorong adalah judul. Diam. Datang dua minggu. Kering.' Nirwa di dapur, telur, teh, lampu kristal mati. 'Diam. Telur. Dua minggu. Saya tidak rilis kemenangan penetapan. Penetapan bukan pesta. Penetapan tangga.' Ia cuci piring. Kunci. Tidak buka lemari. Dakwaan bukan kunci parfum. Parfum tunda. Cincin laci. Sebelum daftar risiko ia duduk di bangku rendah, bukan sofa — sofa terlalu lebar. Rumah besar. Ia dengar hujan, hujan sebagai hujan. Tanda sudah cukup di penetapan. Ia tidak menelepon Rahmi untuk 'kita menang'. Menang judul. Rahmi tidak suka judul. Rahmi suka telur. Telur sudah masuk. Ia buka daftar risiko: *tunda ditolak; dua minggu; spin dorong; capek; Wiryo diam atau hormat.* Lima baris. Ia tidur empat jam. Keran tujuh menit. Cermin kecil: 'Saya tidak mencuri sabun. Mereka yang pinjam. Hakim yang jaga forum. Saya jaga truk dan telur.' Cermin tidak berdebat. Pukul lima telur lagi, teh, komplek gelap, satpam angguk, tidak bicara. Ia kerja satu jam dari dapur, delay, lalu gedung. Lorong. Map. Kopi. Tahta masih. Tunda tidak ia beli. Tempo dua minggu ia bayar dengan badan. Badan menagih. Ia bayar sebagian. Sebagian utang. Utang bukan milik Arman. Utang milik ranjang tamu yang masih bukan kamar utama. Kamar utama delapan tahun. Delapan tahun tidak ia selesaikan dengan penetapan. Penetapan hanya menolak jeda di meja ketiga. Tiga meja. Satu dada. Dada masih ada. Dada belum diserahkan ke judul cabut. Cabut tidak. Jalan. Kering. Kerja. Cukup untuk Senin. Tidak cukup untuk damai. Damai antri di belakang banyak tangga. Tangga berikutnya dua minggu. Tangga itu ia naik tanpa sewa kursi, tanpa cabut, tanpa pesta dakwaan. Tanpa itu adalah kerja. Kerja adalah ratu yang tidak jadi naskah. Naskah biar portal. Portal biar Arman. Ia pilih penetapan yang tidak ia rilis. Pilih itu perang yang belum tutup. Perang itu ia bawa ke lift. Lift buka. Lorong belah. Ia di tengah. Tidak menempel. Tidak menyapa berlebihan. Masuk ruang. Nyala lampu. Jaket. Kota. Angka. Truk. Dua minggu. Telur. Cukup begitu. Sinta kopi kedua. Pahit. Nirwa minum. Tidak pesta penetapan. Pesta naskah. Naskah ditolak. Angka diterima. Diterima kerja. Kerja tahta. Tahta masih di sini.