Arman mengirim set berkas ke pengadilan, tembus Intan: daftar 'kerugian nama', usul mediasi, dan — yang Intan garis merah — lampiran berita vendor sebagai bukti bahwa perceraian 'bermotif kuasa, bukan rumah tangga'. Teater. Nirwa membacanya di kantor Intan sore itu, bukan di gedung. Gedung tidak menampung teater suami.
'Kita tolak mediasi, sudah. Kita tolak lampiran berita sebagai dalil cerai. Berita bukan akta. Motif kuasa adalah naskah Wiryo yang pindah meja. Hakim cerai tidak mengadili mosi dewan,' kata Intan. 'Ibu tidak perlu marah di atas kertas. Saya yang kasar. Ibu kering di sidang. Di sini Ibu boleh capek.'
Nirwa duduk, map di pangkuan, kota di kaca Intan lebih kecil daripada kaca CEO. 'Saya capek. Saya tidak campur. Kalau saya marah di lampiran, saya kelihatan terluka. Terluka peluru. Tulis tolakan: perkara pidana berjalan di forumnya; perceraian soal ikatan dan harta yang sah; perusahaan bukan pihak.' Ia minum air. Tangan tidak gemetar. Dada ya. 'Apartemen Kuningan jangan kita klaim di cerai sebagai 'barang bukti yang ingin saya miliki'. Saya tidak ingin. Saya ingin jalur Sari tidak rusak karena istri yang serakah di meja lain.'
Intan mencatat, puas kering. 'Tepat. Serakah adalah judul. Kita tidak serakah. Kita pisah. Harta bersama yang bersih dibagi menurut hukum. Yang kotor tidak kita sentuh di sini.' Mereka kerja satu jam. Nirwa tidak ke restoran. Roti di meja Intan, teh. Ia makan karena kolom tubuh, bukan karena nyaman. Nyaman adalah delapan tahun. Delapan tahun sudah pecah. Intan menuang teh lagi, tidak memaksa cerita teras. Nirwa syukur pada sunyi itu, tidak mengucapkan. Mengucapkan syukur adalah dada. Dada keran. Di sini map, garis merah, tolakan yang kering. Kering ia hafal. Capek ia bawa pulang. Map ditutup. Teh habis. Cukup untuk sore itu.
Kembali ke gedung lewat basement. Sinta: 'Bu, Pak Dodi minta lima menit resmi. Bukan sidang. Aparat.' Nirwa masuk ruang kecil, Dodi, notulen. 'Sari minta tambahan dokumen anak usaha distribusi — jembatan invoice. Kita kasih surat, bukan razia. Arman sudah teriak penggeledahan lagi di surat ke perusahaan. Pola. Ibu jangan ke portal.' Nirwa: 'Tidak portal. Lestari tahu?' Dodi: 'Tahu, jalur CFO. Pemisahan.' Bagus. Tiga jalur tetap tiga, bahkan ketika kertas saling merembes di tepi. Rembes di tepi ditahan kop. Kop adalah sabun. Nirwa ke jendela ruang kecil, napas empat. 'Kalau media tanya penggeledahan, IR diam atau: mematuhi permintaan aparat. Tanpa nama. Tanpa sidang.' Dodi catat. Mereka tidak bicara Gilang sebagai suami. Suami meja Intan. Di sini dokumen, surat, pola teriakan. Nirwa keluar, lorong, muka kerja. Capek menempel di bahu. Bahu ia tidak serahkan ke empat mata yang ingin 'mendengar keluh'. Keluh adalah naskah. Naskah selasar. Selasar masih jauh. Jauh ia jaga dengan kop.
Sore rapat delay. Palet bergerak. Kepala operasional hampir tanya 'Bu, kapan Ibu... cuti sebentar'. Tidak selesai. Nirwa menunggu. Kalimat itu mati. Yang hidup: jadwal vendor. Ia tidak tawarkan cuti. Cuti CEO tiga minggu sebelum sidang adalah jeda yang Wiryo gagal beli, versi rumah tangga. Ia tidak jual. Setelah rapat Pak Harun pesan: *Gudang tidak baca mediasi, Bu. Gudang baca truk.* Nirwa: *Bagus.* Dua cuaca lorong: logistik noda kerja, keuangan menempel. Ia tidak meratakan. Capek membuatnya ingin senyum palsu supaya orang tenang. Senyum palsu Gilang. Ia bawa muka kerja. Debu tidak di sepatu. Ia tidak ke Bekasi. Kampanye tidak. Ritual tidak. Di pantry air, sepuluh detik, dua staf, angguk, pergi. Ia tidak duduk di lantai. Duduk retak. Retak klip. Gelas. Datar. Cukup.
Malam paman — jalur Intan — surat pendek: keluarga 'prihatin sidang akan mempermalukan rumpun', tawar 'damai diam-diam, nama Karina tidak disebut di persidangan'. Nirwa di dapur, teh tawar, membalas lewat Intan dalam kepala dulu, lalu biarkan Intan ketik: nama yang sudah di slide dan di berita acara tidak bisa ditarik sebagai hadiah rumpun; damai diam-diam bukan barang pengadilan; saluran Karina ke Sari tetap terbuka, bukan ke rumah tua. Sopan. Tidak kejam di kata. Kejam sudah di tolakan. Ia makan nasi, piring kecil. Hampir buka lemari. Tidak. Gagang. Lepas. Parfum ditunda. Sidang bukan kunci parfum. Parfum perang lain. Setelah makan ia duduk di bangku rendah dan membiarkan dada ingin 'sekadar tulis sendiri ke paman, lebih cepat'. Cepat adalah warung. Warung ia tolak. Intan yang ketik. Kop pengacara, bukan kop keponakan. Beda itu tata kelola di atas piring nasi. Piring ia cuci. Kunci. Kamar tamu. Tidak TV. TV mediasi dan motif kuasa. Mejanya ranjang. Ranjang tidak wawancara.
Pukul dua keran, tujuh menit. Cermin: 'Daftar harta bukan dendam. Dendam ingin pentungan. Saya tidak pentung Sari dengan cerai, tidak pentung hakim dengan cangkang. Pisah. Capek boleh. Campur tidak.' Cermin tidak berdebat. Ia ke ranjang tamu. Tidur empat jam, lebih baik. Kolom: *roti. tolak mediasi. tolak lampiran berita. telur malam.* Inventaris. Bukan kemenangan. Kemenangan jauh. Vonis jauh. Yang dekat: minus empat belas hari, kira-kira, kalender Intan. Ia tidak menghitung di rilis. Ia menghitung di tulang, dan tulang ia bayar dengan telur. Besok lift. Tolak empat mata. Angka. Jangan baca portal Arman. Portal Arman meja mereka. Mejanya: delay, kop Dodi, map Intan yang tidak ia taruh di laci Sinta. Tiga meja. Satu dada. Dada masih ada. Dada belum ia serahkan ke selasar. Selasar masih dua minggu. Dua minggu ia jaga dengan kertas yang tidak jadi pentungan. Kertas itu kerja. Kerja itu tahta. Tahta masih dudukannya. Ia nyala lampu pagi, jaket, kota. Ratu kerja. Tidak menoleh ke rumpun. Tidak menoleh ke mediasi. Tidak menoleh ke judul motif kuasa. Motifnya: urutan. Urutan sudah menyelamatkan rantai. Urutan akan menyelamatkan sidang, kalau ia tidak pecah di dapur. Dapur tidak pecah malam itu. Piring utuh. Ia utuh cukup. Menang belum. Cukup begitu.