Minggu pertama setelah tanggal sidang, Nirwa belajar bahwa tiga minggu bukan jeda. Tiga minggu adalah antrian yang berbunyi di tulang.
Ia tetap ke gedung, tetap ke papan delay, tetap menolak empat mata. Badan yang tidak menurut ia catat di kolom: *tidur tiga jam. telur. teh. keran tujuh menit.* Rahmi tidak menelepon untuk memeluk. Rahmi mengirim pesan tidak teratur: *Telur. Aku tidak tanya sidang.* Nirwa membalas: *Telur.* Satu kata. Cukup untuk komisaris. Tidak cukup untuk dada. Dada ia bawa ke keran, bukan ke kop perusahaan.
Sinta sudah paham pemisahan itu di meja, belum di muka. Pagi itu ia ragu di ambang. 'Bu, Ibu pucat. Saya tidak tanya rumah. Saya tanya: rapat kredit jam sepuluh, Lestari siap, IR siap. Ibu masuk bingkai atau ruang sebelah?'
'Ruang sebelah,' kata Nirwa. 'Ratu di bingkai makanan. Saya kendali. Kalau mereka tanya sidang, IR: bukan agenda perusahaan. Angka.' Sinta ketik, pergi. Nirwa ke pantry, air, sepuluh detik. Dua staf. Angguk. Pergi. Angguk boleh. 'Bu, semoga kuat' tidak. Kuat adalah naskah istri. Ia CEO di lantai ini. Istri di kalender Intan.
Intan datang siang, bukan dewan, map harta. 'Kita daftar apa yang bersama, apa yang perusahaan, apa yang sudah di aparat. Rekening Singapura bukan barang cerai untuk ditawar. Itu pidana. Apartemen Kuningan sama. Arman akan coba tarik semuanya ke meja hakim cerai supaya sidang jadi teater vendor. Kita tolak campur. Hakim cerai: rumah tangga dan harta yang sah. Hakim pidana: cangkang. Dua meja. Ibu hafal itu sampai mulut kering.'
Nirwa membaca daftar. Rumah komplek. Mobil. Rekening bersama yang sudah dibekukan penyidik, bukan oleh istri. Perhiasan. Cincin di laci. Lemari yang belum ia buka. 'Lemari saya tidak buka untuk sidang,' katanya. 'Buka lemari adalah dada. Dada bukan bukti.'
'Baik. Kita tidak butuh isi saku baju. Kita butuh akta, saldo, bukti pecat yang sudah sah, timeline yang sudah di Sari — sebagai fakta, bukan sebagai pentungan. Kalau hakim tanya perselingkuhan, Ibu jawab singkat: terjadi, ada bukti, sudah di jalur lain. Tidak cerita teras. Tidak cerita parfum.' Intan menatapnya. 'Ibu makan siang?'
'Telur nanti.' Nirwa hampir tersenyum. Tidak. 'Rahmi menagih. Saya bayar tagihan itu di dapur, bukan di restoran pengacara.' Intan tidak memaksa. Memaksa makan adalah empat mata yang menyamar. Mereka selesai. Map harta di tas Intan, bukan di laci Sinta. Sinta tidak boleh jadi saksi rumah tangga karena jadwal mobil. Beda kop.
Sore Lestari rapat resmi: invoice jembatan masih tertahan, vendor bersih di distribusi mulai kirim, tutup buku terkendali. Kaku. Nirwa: 'Jangan percepat karena kalender saya. Kalender saya bukan covenant.' Lestari: 'Saya tidak percepat karena kalender siapa pun. Saya percepat karena tanggal bank. Beda.' Nirwa hampir, hampir, merasa aman di kalimat itu. Aman tidak ia rilis. Ia ke delay Cikarang di papan. Palet. Kepala ritel tidak menyinggung selasar. Bagus. Truk tidak punya sidang. Setelah papan ia ke lantai logistik sebentar, bukan parade: tanya supervisor soal palet menumpuk, dengar jawaban jujur — menumpuk, belum kacau — lalu pergi sebelum muka belas tersusun. Supervisor tidak sempat bilang kuat. Nirwa suka itu. Di lift Sinta merangkum dua permintaan wawancara 'human interest menjelang sidang'. Nirwa: 'Tolak. Human interest dada. Dada keran. Kop perusahaan diam.' Sinta ketik. Nirwa minum kopi pahit di meja, bukan sebagai pesta, sebagai kerja. Pahit jujur. Sidang belum. Truk sekarang.
Wiryo diam di portal hari itu. Diam orang elegan kadang lebih mahal daripada pernyataan. Nirwa tidak mengisi diam itu. Mengisi adalah duet. Dessy tidak kop. Roni masih angin. Tiga barang lama, plus tanggal baru. Ia tidak menelepon siapa pun untuk 'sekadar pastikan'. Pastikan adalah empat mata. Sinta, sebelum pulang, ragu: 'Bu, saya taruh roti di laci. Bukan bunga. Roti.' Nirwa: 'Terima kasih. Itu bukan kultus. Itu kolom. Saya makan.' Sinta hampir tersenyum, lalu tidak, pergi. Nirwa buka laci, roti, makan tiga suap di meja CEO, cuci tangan. Rahmi akan menghitung itu sebagai telur versi siang. Badan tidak peduli nama. Badan peduli masuk. Ia tulis di sudut kertas delay, untuk kepala: *roti siang. jangan campur.* Dua baris. Bukan rilis. Kepala. Lalu papan lagi. Palet. Kerja.
Malam dapur, telur, teh, lampu kristal mati. Ia makan berdiri, lalu duduk di bangku rendah. Rumah terlalu besar. Lemari tertutup. Cincin di laci. Ia buka daftar risiko: *sidang minus dua puluh hari; harta tidak dicampur cangkang; capek; diam Wiryo.* Empat baris. Ia tidak menulis menang. Ia menulis telur. Telur masuk kolom tubuh. Rahmi akan puas, atau tidak, Rahmi tidak perlu puas. Badan perlu. Badan yang pecah di selasar adalah naskah Arman. Ia cuci piring, kunci, kamar tamu. Tidur gagal. Keran lima belas menit, lama, lalu mati. Cuci muka. Cermin kecil: 'Saya penggugat. Saya saksi. Saya CEO. Tiga, tidak dicampur. Besok truk. Bukan selasar.' Cermin tidak berdebat. Pukul empat bangun, kerja memo yang tidak menyebut cerai, hanya mengingatkan spekulasi rumah tangga di grup tetap dilarang. Bukan bungkam. Lindungi orang tanpa pengacara. Lalu ia ke tepi ranjang, dada sakit, tidak telepon Intan. Intan tidur. Ratu tidak boleh jadi anak yang menelepon pengacara karena gelap. Gelap ia isi papan delay di kepala. Palet. Suku cadang. Dua belas ribu. Tahta masih di sini. Tahta tidak luruh karena tiga minggu. Tiga minggu luruh kalau ia mencampur jalur. Ia tidak mencampur. Itu kerja malam ini. Kerja malam ini tidak kelihatan di notulen. Notulen tidak menagih telur. Badan iya. Di komplek, angin. Satpam ganti. Nirwa tidak ke gerbang. Ia seduh teh kedua, tawar, minum, catat kolom lagi: *teh. tidak portal. tidak Dessy.* Inventaris kecil di gelap. Gelap boleh. Kepala tidak boleh kosong. Kepala isi truk sampai mata berat. Mata berat. Tidur sebentar. Cukup untuk lift. Tidak cukup untuk damai.