Sera duduk di tepi pantai dekat bandara tempat khusus kunjungan orang tua. Ya, Sera sekarang sedang menunggu kedua orang tuanya yang hari ini datang berkunjung. Karena masalah internal keluarga mereka yang sulit dijelaskan, makanya hari ini kedua orang tuanya yaitu Felix dan Lucia.
Setelah menunggu sekitar dua jam di pantai dengan laut pasang, Sera masih belum menemukan keberadaan kedua orang tuanya itu, ia menghelakan napasnya berat menerima kenyataan yang dihadapinya. Kakinya serasa lemas dan tidak bertenaga, bahkan ia tidak selera untuk menyentuh makanan apapun.
Desiran ombak mulai mengenai kaki Stella, ia tetap saja berada disana dan berniat pindah, Sera menerima air pantai yang sangat indah tersebut dengan perasaan yang tenang. “Kenapa mereka berdua selama ini tidak pernah jujur? Sampai aku harus mendengar semuanya dari mulut orang lain,” ucap Sera. Ucapannya terasa sangat dalam, nadanya bergetar, auranya menjadi suram.
Sera memutuskan untuk menidurkan dirinya di pantai dengan pasir putih tersebut, menikmati ombak yang semakin naik dan membahasi seluruh bajunya hingga sampai ke rambutnya, menenangkan pikirannya dengan hanya melihat langit biru yang begitu cerah. Sera berpikir sejenak tentang tempat yang sudah ia tinggali hampir selama sebulan, sejujurnya tempat seperti ini sangat indah untuk dilewatkan, tetapi sayang banyak sekali hal-hal yang menjadi nilai minus.
Manipulatif. Satu kata yang menggambarkan Starlight School menurut Sera, ia berpikir semua di sekolah itu tidak ada yang dapat ditebak dan sangat misterius. Sebenarnya Sera tidak tau apa yang dilakukannya sekarang, mencoba menentang rencana yang dibuat oleh Starlight School, tetapi ia hanya seorang murid, bahkan ia tidak pantas melakukan hal seperti itu.
Tidak lama Sera terlarut dalam pikirannya, terdengar suara sebuah pesawat kecil melesat dengan kecepatan sedang menghampiri pulau Starlight School, ia melihat pesawat itu turun tepat ke arah bandara yang berada di belakangnya. Sera mengambil ponselnya dan membuka pesan ia dengan ibunya.
‘Ibu aku menunggu di pantai depan Bandara.’
Sera mematkan kembali ponselnya yang ternyata basah dan mencampakkanya ke belakang tepat di daerah kering. Sera menunggu kedatangan kedua orang tuanya yang mungkin dapat mengubah seluruh kehidupannya beberapa saat lagi, karena ia akan mendapati pernyataan yang sangat sulit diterima oleh dirinya.
***
“Rei, lo ingat nggak sih ini tempat apa?” tanya Stella.
“Taman,” jawab Rei singkat. Stella dengan cepat menimpuk Rei, “Bukan gitu b**o! Dah ah, malah gue sama lo, datar mulu hidupnya.” Stella membuang mukanya ke arah berlawanan dari Rei.
Mereka berdua sedang berada di taman sekolah dan duduk di sebuah bangku tempat pertama kali mereka berkenalan setelah kejadian saat mereka dipergoki Starzy.
“Lo seriusan ngambek?”
“Siapa juga yang ngambek, aneh lo,”
“Tapi ekspresi sama nada bicara lo nunjukkin itu semua.”
Stella melihat ke arah Rei, “Nggak tuh, lo aja terlalu kaku.” Sera menyandarkan kembali diriya pada bangku taman itu, ia kembali teringat dengan kejadian tiga minggu yang lalu, tetapi entah kenapa rasanya sudah lama sekali.
“Gue inget, waktu itu lo marah-marah nggak jelas karena Starzy dan mendadak jadi mind reader,” sindir Rei yang langsung mendapat tatapan sinis Stella. “Lo ... kenapa malah jadi nyinidir gue begitu?”
“Rei, gue jadi teringat sesuatu, lo pasti ngerti kan?” tanya Stella tiba-tiba ia teringat akan suatu hal.
“Surat dari Starzy dan makan malam penutupan,” jawab Rei.
“Iya bener, itu yang gue pikirkan!” seru Stella.
“Gimana kalau kita cari akarnya dari mereka dahulu? Secara nggak langsung pengalaman ada di mereka,” saran Stella, Rei terlihat berpikir sejenak sembari mengelus dagusnya. “Ide bagus, tapi bukannya tenggat waktu penciptaan benda itu sekitar sebulan lagi? Dan bahkan Starzy Ara belum pada balik sama sekali,”
“Kemarin gue liat lo di perpustakaan lagi sama Starzy bintang ganda,”
“Gue sedikit nggak yakin kalau sama mereka, secara sikap mereka seperti sudah di brainwash.”
“Itu dia! Brainwash!” Stella menjentikkan jarinya, ia mendapatkan sesuatu yang seharusnya mereka pahami sedari awal. “Menurut lo Rei, kenapa seakan sikap senior kita terlalu kaku? Mereka di brainwash, dan itu juga terjadi pada angkatan kita, lo pasti ngerti kalau sering perhatikan sikap anak kelas lain. Itu semua karena mereka di brainwash!”
Stella menatap Rei serius sekarang, “Hal yang paling penting itu adalah hal yang membuat mereka tercuci otaknya, menurut lo apa?”
“Makanan?”
“Tepat sekali dan hal itu yang harus kita tuntaskan sekarang. Sebenarnya gue juga merasa aneh, rumor tentang sekolah ini menentang hukum alam udah sering tersebar di antara paara murid, tapi entah kenapa tidak ada yang pernah berani berindak. Dan gue rasa ini dapa menjawab semuanya,” ungkap Stella.
Rei bangkit dari duduknya dan berdiri meregangkan tubuhnya, begitu juga dengan Stella.
“Kita nggak bisa gerak kalau nggak ada Sera dan Xander,” ucap Rei. Ia sudah berjalan mendahului Stella, mereka ingin balik ke Kingdom untuk membuat perencanaan ulang yang lebih matang.
“Sebentar, kalau begitu gue suruh Angkasa dan Nayla datang ke Kingdom aja.”
“Untuk apa?”
“Setau gue Nayla punya kemampuan yang sangat bagus dalam memasak dan Angkasa lo tau sendiri kan? Wawasannya sangat luas tentang dunia ini,” jawab Stella.
“Okesip udah, kalau begitu lo duluan aja ya. Gue mau beli sesuatu dulu dan menunggu mereka nanti di halaman Kingdom.”
Stella dan Rei berpisah di gerbang sekolah. Mereka berdua ke sekolah karena ada beberapa urusan dengan Dater masing-masing dan kebetulan berjumpa, hal itu yang membuat mereka berdua masih memakai pakaian sekolah, walaupun hari ini sekolah libur.
Rei yang sudah tidak melihat Stella lagi, akhirnya memutuskan pergi ke tempat parkiran khusus untuk murid. Ia memakai mobil pribadinya kesini yang merupakan fasilitas dari Kingdom. Tidak lama, Rei melesatkan mobilnya pergi menuju Villatte, ada sesuatu yang harus ia pastikan terlebih dahulu.
***
“Angkasa, ini Stella suruh kita ke Kingdom buat bicarain sesuatu,” beritahu Nayla kepada Angkasa yang asik bermain games di ponselnya.
“Kapan?”
“Sekarang,”
“Yaudah ayo!” seru Angkasa, tetapi ia masih setia rebahan di kasur miliknya tanpa berniat gerak sedikitpun.
“Kok lo nggak gerak sih?!” teriak Nayla kepada Angkasa dan dengan cepat mengambil ponsel milik Angkasa. “EH! Balikin nggak itu hp gue!” Angkasa berteriak balik pada Nayla. “Nggak! Udah cepat sana lo mandi, jangan kelamaan.” Nayla dengan muka tidak bersalahnya mematikan daya ponsel Angkasa dan menyimpannya di tas kecilnya.
Angkasa yang melihat perlakuan Nayla kepadanya meringis dalam hati, ia ingin saja mencabik kulit Nayla, tapi apa daya dia seorang cewek yang harus dilindungi. “Yaudah, gue mandi dulu. Lo tunggu sini aja,” ucap Angkasa mengalah dan berjalan dengan langkah yang berat menuju kamar mandinya.