“Ada masalah apa ya kak?” Pertanyaan tersebut akhirnya melesat keluar dari Rei yang sudah menahannya sedari tadi. Ia masih berada di pepustakaan bersama salah seorang senior cowok yang memiliki kedudukan Starzy Bintang Ganda di sekolah. Mereka masih saling terdiam setelah beberapa kian menit yang lalu.
“Tidak ada, katanya lo merupakan anak yang unik ya?” ucap senior di depannya mulai menatap Rei, sebelumnya ia hanya melihat buku yang baru saja dipilihnya dari perpustakaan.
“Unik?” celetuk Rei, ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh senior di depannya. Bagaimana bisa ia menilai tanpa pernah berjumpa dengan Rei? Seperti ia percaya saja jika siapapun berkata bahwa ikan bisa berjalan tanpa melihatnya terlebih dahulu.
“Iya, unik. Gue dengar dari beberapa yang pernah bersangkutan dengan lo.”
“Jadi, tujuan kakak ingin bertemu saya kenapa ya?” tanya Rei to the point. Rei emang tipe yang tidak pandai basa-basi. Senior itu hanya melihatnya dengan pandangan yang sulit diartikan, “Gue hanya ingin memastikan, bahwa orang yang ada di depan gue ini ... memiliki kemampuan yang membuat gue tercengang atau tidak.”
***
Rei sekarang sedang berada di restoran seafood bersama Stella dan Sera. Mereka ingin mendiskusikan sesuatu perihal masalah yang belakangan ini kerap terlihat dan dengan sangat jelas membuat gerak mereka semakin sulit dan harus hati-hati.
“Xander kemana?” tanya Stella yang baru menyadari kalau Xander tidak ada.
“Dia ada beberapa urusan sama Xera,” ucap Rei. “Urusan apa?” tanya Stella spontan. Rei mengaitkan tangannya di depan dadanya, “Lo lupa atau gimana sih?”
Stella yang masih dengan senangnya meminum jus alpukat kesukaannya terlihat berpikir apa yang dikatakan oleh Rei, “Tapi Rei, gue emang pelupa,” jawab Stella yang membuat Rei memejamkan matanya, ia lupa kalau sosok Stella emang pelupa.
“Tugas kimia,” timpal Sera yang masih dengan fokus bermain permainan yang ada di ponselnya. Stella langsung teringat saat itu juga tentang tugas kimia dan memukul dahinya pelan seakan merutuki dirinya yang sangat pelupa, “Iya-iya, gue baru ingat,”
“Tumben lo main hp,” ujar Rei yang ditujukan kepada Sera. Tidak biasanya ia melihat Sera melakukan hal seperti yang sekarang di lihatnya, sudah jelas sekali kalau Sera memiliki masalah. Tatapannya lesu dan ia tidak fokus dengan apapun, dan mata sembap yang sempat dilihat oleh Rei menandakan bahwa Sera lagi tidak baik-baik saja.
“Lo lagi ada masalah ya, Ser?” tanya Stella yang berhasil mewakilkan pikiran Rei.
“Nothink,” ucapnya singkat. “Lo kira gue bakal percaya?” Stella memperhatikan raut wajah dari Sera, tidak ada yang berubah, Sera sangat pandai dalam menyembunyikan kegundahannya, tetapi tetap saja suasana janggal membuat hal itu gagal.
“Gue pergi dulu,” ujar Sera. Lalu pergi ke arah luar Restoran meninggalkan kedua temannya yang masih bertanya-tanya apa yang terjadi dengannya.
***
“Angkasa! Woi, Lo dengerin gue nggak sih?” Nayla menampar kecil pipi Angkasa yang berada di hadapannya, mereka berdua sedang berada di kafetaria yang ada di Villatte.
“Hah? Apa?” Angkasa buyar dari lamunannya dan sekarang ia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Nayla, “Lo kenapa nampar gue sih?” celetuk Angkasa saat menyadari pipinya sedikit nyeri.
“Alay banget lo. Jadi, lo paham nggak sama apa yang gue bilang?” tanya Nayla untuk kesekian kalinya, ia sudah capek, ia ingin balik saja ke kamarnya dan tidur selama seminggu lamanya.
“Nggak,” jawab Angkasa yang membuat Nayla melemaskan tubuhnya dan menjatuhkan wajahnya pada meja yang ada di depannya, bagaimana bisa Angkasa setega itu padanya setelah ia sudah menjelaskan panjang lebar? Entah apa yang menganggu pikiran Angkasa, tetapi ini membuatnya lelah.
“Gendong gue balik ke kamar cepat!” perintah Nayla random. Tidak lama ia merasakan tubuhnya melayang dan ringan, Nayla berpikir ia sudah di alam mimpi dengan begitu cepat, tetapi ia merasa ada yang aneh.
“Cepat banget gue ke alam mimpi, eh? Kok rasanya kaya-“ Nayla membuka matanya dan melihat langit-langit restoran, ia juga melihat wajah Angkasa yang sangat tampan jika dilihat dari bawah.
“LO NGAPAIN SIH? TURUNIN GUE NGGAK?!” ancam Nayla. Ia tidak menyangka Angkasa akan benar-benar melalukan apa yang dikatakannya. Orang-orang yang berada di sekitar Kafetaria menatap mereka dengan eskpresi yang beragam, mereka mungkin terkejut karena seorang Angkasa membopong seorang cewek. Mereka tidak akan menyangka Angkasa mampu menunjukkan sisi gentleman nya.
“Tapi lo sendiri kan yang bilang? Kalau kita harus cari cara menghindari orang-orang curiga sama hubungan kita? Lagian tidak akan ada yang tau bagaimana kedepannya, bisa saja kan tujuan lain kita terbongkar suatu saat, kita harus dapat mencegah itu terjadi.”
“Ya tapi kan lo nggak bisa seenak hati juga,” kesal Nayla menatap tidak suka pada Angkasa, ia mengambil keputusan sepihak.
“Lo kan yang nyuruh gue gendong lo begini,” jawab Angkasa.
“Tapi jangan sampai kamar juga lo bawa gue begini,”
“Siapa bilang kita mau ke kamar lo? Orang gue mau bawa lo ke perpustakaan buat ngerjakan tugas yang udah nganggur lama,” timpal Angkasa.
“Lo gila ya? Disana kan ada guru yang ngawas, bisa-bisa kita dipisahkan dan lo dikirim ke Kingdom,”
“Baiklah, kalau begitu kita balik ke kamar lo aja.”
***
“Ini seriusan tugasnya?” tanya Nayla seakan ia tidak yakin dengan apa yang dikerjakan di depannya.
“Iya, emang kenapa?” Angkasa yang sedari tadi fokus membaca ulang materi teralihkan dengan pertanyaan tidak biasa Nayla.
“Tidak, ini hanya terlalu mudah. Bahkan anak sekolah dasar saja dapat mengerjakannya,” ungkap Nayla. Kemudian ia kembali fokus menulis jawaban yang terpikirkannya dengan sangat cepat di atas tempat tidur.
“By the way, Angkasa!” panggil Nayla saat ia teringat akan suatu hal. Ia membalikkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya. Angkasa menoleh ke Nayla yang memanggilnya dengan nada cukup serius, “Ada apa?”
Nayla mendudukkan dirinya dan melihat Angkasa yang berada di meja belajarnya dan menunggu perkataannya, “Lo tau Xera kan?” tanya Nayla.
“Sera? Bukannya ia pernah kesini bersama Stella?” tanya Angkasa polos.
“Bukan Sera b**o! Tapi Xera pake huruf X, lagian gue heran nama mereka bisa kembar gitu.” Nayla mengelus dadanya, ia terlalu emosional belakangan ini.
“Sepertinya gue kenal, dia Starzy kan?”
“Iya, katanya dia juga anak kepala sekolah Starlight School,”
“Oh iya, gue cuma tau dia doang, tapi nggak kenal. Emang ada apa?”
“Gue cuma nanya aja, soalnya kemarin gue lihat dia malam-malam keliaran di hutan terlarang.” Nayla kembali membarinkan tubuhnya menghadap langit-langit kamarnya.
“Oh begitu...”
“Tunggu bentar, lo ngapain malam malam ke hutan?” tanya Angkasa cepa. Nayla memukul jidatnya, ia tidak menyangka akan keceplosan hal seperti itu di depan Angkasa.
“Gue udah terbiasa sa.. waktu gue masih tinggal di rumah, gue juga sering tengah malam ke luar terus lihat pemandangan langit malam. Itu menenangkan,” ucap Nayla.
Angkasa terdiam, ia tidak salah melihat saat beberapa waktu lalu. Saat ia pergi ke hutan untuk patroli malam yang emang patroli tersebut dirahasiakan, saat itu juga Angkasa melihat sosok perempuan kecil yang sangat mirip dengan Nayla. Perempuan itu sedang memakan daging dari rusah mentah dengan rakus dan berdarah-darah.