“Kalau misalkan kamu berada di exoplanet yang dapat mendukung kehidupan, apakah menurutmu usia rata-rata manusia dapat berubah akibat perbedaan kondisi geografis di planet tersebut?”
Pertanyaan itu berasal dari seorang Dater yang memegang bidang Astronomi, Rei sedang bersamanya belajar di ruang observasi untuk konsultasi ilmu astronomi Rei. Para Starzy yang berada di Starlight School emang diwajibkan untuk konsultasi rutin setiap bulan kepada Dater sesuai dengan minat mereka masing-masing.
Saat konsultasi selesai, Dater akan memberi penilaian terkait level bidang pengetahuan yang sesuai dengan minat mereka, dan level tersebut nantinya akan berpengaruh dengan hasil akhir nilai pada akhir semester mereka. Level itu sendiri terdiri dari, zero, basic, primary, elementary, intermediate, advanced, dan Expert.
“Kalau menurut saya, itu tidak mungkin terjadi, karena bagaimanapun faktor terbesar yang mempengaruhi hidup panjang seorang manusia adalah pola hidupnya, terlebih lagi reaksi kimia yang terjadi di bumi dan exoplanet tetap saja sama karena itu mutlak dan satu semesta, tidak akan ada perbedaan yang signifikan.” Rei menjawab pertanyaan Dater itu dengan singkat dan tentunya itu murni opininya.
“Ya, kau benar. Tapi bagaimana jika di exoplanet manusia tidak bernapas menghirup oksigen?” tanya Dater tersebut kembali.
“Dater Saga, bukankah ini sudah di luar pembahasan ilmu keastronomian?” tanya Rei sedikit bingung dengan pertanyaan yang katanya sangat mendasar.
“Tidak Rei, apa kamu melupakan tugas seorang astronom adalah meneliti kehidupan yang memungkinkan di luar angkasa sana?” Dater Rei tersenyum melihat tingkah anak didik barunya itu.
“Ayolah Dater, itu tentang kimia, aku terlihat seperti penentang hukum alam ketika mencoba menemukan jalan keluarnya.” Rei membuka ensiklopedia astronomi yang berada di depannya, dan membaliknya dengan cepat tanpa minat dibacanya.
“Tidak apa, saya hanya ingin mengetahui pendapatmu saja Rei,” balas Dater tersebut terkesan memaksa.
“Mungkin iya, karena sirkulasi pernapasan pasti tidak seperti ilmu biologi sekarang. Kemungkinan jika manusia tidak bernapas menggunakan oksigen, bisa saja manusia memiliki alat pernapasan lain yang pastinya itu tidak dapat ditebak bagaimana nantinya kondisi kesehatan atau tubuh manusia saat itu, karena bagaimanapun ini Cuma khayalan semata yang tidak mungkin dapat terjadi, bahkan ketika manusia berevolusi sekalipun, hal seperti ini terdengar mustahil.” Rei menatap Dater Saga dan menatapnya serius.
“Terlebih lagi Dater, semua hal seperti usia, kehidupan, kelahiran, itu semua mutlak kuasa tuhan. Kita sebagai manusia tidak dapat dan tidak bisa membayangkan atau menerka hal-hal yang mustahil, bahkan hal seperti itu tidak mungkin dapat terjadi,” sambung Rei.
Dater Saga setelahnya memberikan Rei tepuk tangat, “Akhirnya kam mendapatkan jawabannya Rei, nilai plus buat kamu,” ucap Dater Saga.
“Tapi itu tidak menjawab pertanyaanmu Dater, kenapa saya mendapatkan nilai plus?” tanya Rei bingung.
“Itu sudah lebih dari cukup, banyak para ilmuwan dan astronom sekarang hanya meneliti tanpa mengingat siapa pencipta semua materi yang ada sekarang, sampai akhirnya mereka menjadi sombong dan melakukan hal yang di luar batas kemampuan manusia, bahkan dapat dibilang menyamai Sang Pencipta, saya mmeberi kamu pertanyaan seperti ini untuk melihat itu pada dirimu. Karena tidak ada satupun dari Starzy yang sudah saya aja bertahun-tahun merendah sedikit dan berpikiran bijak seperti kamu,” jelas Dater Saga kepada Rei yang membuat Rei mengangguk paham.
“Pertemuan kita sampai disini, dan coba tebak level kamu berapa?” tanya Dater Saga.
“Ntahlah, mungkin Basic? Atau bahkan Zero?” Rei tidak yakin atau mungkin ia tidak memiliki level yang berarti.
“Kamu terlalu merendah Rei, ubah sikapmu itu. Karena itu aku menurunkan levelmu yang seharusnya Expert menjadi Advanced, saya pamit dulu.” Dater Saga berlalu pergi meningalkan Rei yang masih tidak percaya dengan ucapan Dater Saga, bagaimana bisa ia mendapatkan level Advanced? Padahal ia menjawa seluruh pertanyaan Dater Saga hanya dengan pemahaman dasarnya ditambah opini pribadinya saja.
“Mungkin dia keliru,” lirih Rei dan tidak lama juga pergi dari ruang observasi tersebut.
***
“Lo ngapain sih?” Nayla melempar bantalnya pada Angkasa yang tiba-tiba saja datang ke kamarnya dan langsung rebahan di kasur Nayla.
“Gue? Mau tidurlah! Apalagi coba?” Angkasa melanjutkan tidur dan memeluk guling Nayla.
“Bangun nggak lo!” Nayla menjambak jabang Angkasa dengan kuat, “Aaaaah! Iya iya gue bangun nih, lepasin!” teriak Angkasa cepat, ia kaget tiba-tiba saja Nayla menjambaknya.
“Lo ada masalah hidup apa sih? Heran gue, udah hilang dua harian, datang-datang malah jadi random. s***p ya lo?” Nayla menatap malas orang yang sekarang duduk di tempat tidurnya dengan raut wajah memelas.
“Darimana aja lo?” tanya Nayla.
“Ada urusan sama Dater,” ucap Angkasa yang membuat Nayla mengangkat alisnya sebelah dengan tangan ditautkan di dadanya.
“Dater? Lo kira gue bodoh? Ngapain lo berurusan dengan Dater?”
“Ya meski gue bodoh dalam mata pelajaran, tetap aja gue masuk ke sepuluh murid terbaik masa orientasi sekolah kan? Mereka Cuma minta gue koordinasikan bakat dan minat anak kelas X-1,” jawab Angkasa.
“Lo serius? Tapi tetap aja gue masih nggak yakin sama omongan lo, kenapa ya?” Nayla masih curiga pada Angkasa, sikapnya dalam seminggu dapat berubah secara drastis, itu tentu menjadi pertanyaan besar dalam kepala Nayla.
“Iya, nggak percayaan kali sih lo jadi orang,” kesal Angkasa.
“Terus kenapa sampai dua harian lo nggak keliatan?”
“Ada banyak berkas dari siswa tahun sebelumnya yang harus gue pelajari dan sekalian trainee sama ketua organisasi kelas 2, lo tau sendiri kan gue ketua organisasi kelas 1.”
“Oh gitu.. oke deh, tapi lo nggak ada sembunyikan sesuatu kan dari gue?”
“Nggak.”
***
“Asli George, gue nggak paham sama kimia, apalagi atom ginian yang nggak bisa gue bayangkan bentuk aslinya gimana, lo gimana?” tanya Zadith pada George yang membaca buku kimia dengan raut serius dengan kacamatanya.
“Gue?” tanya George kembali yang masih tefokus pada bukunya, ia juga terlihat mengangguk-angguk.
“Iya, lo lah, emag siapa lagi? Ngerti kagak?” tanya Zadith sekali lagi, emang tidak ada orang yang bisa bersabar menghadapi tingkah George yang aneh.
“Kagak,” jawab George singkat.
“Lo gimana sih? Udah dua jam gue liat lo baca tuh buku, tapi kok masih kagak paham-paham?” Zadith tidak habis pikir melihat teman yang satunya ini.
“Gue baca novel, liat nih.” George memperlihatkannya kepada Zadith dengan membalik buku bacannya, disana terlihat di dalam buku ensiklopedia kimia yang besar, terdapat novel ukuran kecil.
“s****n lo!” umpat Zadith lalu melempar buku kimia tebal yang ada di depannya kepada George yang tepat mengenai kepala depan George. “Ahhh,” George mengelus kepalanya yang ssedikit perih mengenai ujung lancip buku tebal tersebut.
“Lagian lo cari masalah,”
“Putri kerajaan kok bar-bar, mana pake mengumpat lagi,” keluh George yang mendapat tatapan tajam dari Zadith.
“Lo aja nggak tau, kami bahkan diajarkan bagaimana cara membunuh orang dalam 10 detik,” ungkap Zadith yang membuat George membelalakan matanya dan menelan ludahnya kasar.
“Sampai sini aja dulu deh, gue capek.”
“Yah... baru aja gue mau gabung,” ucap seorang yang datang ke arah meja Zadith dan George.