“Atom memilki ruang yang sangat besar diantara pusatnya dan elektron yang mengelilinginya, bahkan dapat dikatakan 99% atom hanya ruang kosong. Menurut teori yang beredar jika 99% ruang pada atom tersebut dihilangkan, maka kita seluruh umat manusia hanya sebesar sebuah batu saja.” Ucapan seorang Dater di depan membuat semua Starzy sedikit mengantuk. Dater sendiri merupakan pangkat guru tertinggi di Starlight School, dan hanya ada 9 Dater saja yang memegang 9 mata pelajaran pokok. Kepintaran mereka sudah tidak diragukan lagi, bahkan mereka dapat disebut lebih dari jenius.
“Jadi pertanyaanya ... Apakah hal tersebut merupakan benar atau salah?” tanya seorang Dater yang memegang mata pelajaran Kimia di hadapan 9 Starzy bintang tunggal. Stella langsung mengangkat tangannya sebaik Dater tersebut selesai berbicara.
“Iya dan tidak,” jawab Stella yang membuat Dater tersebut tersenyum dan mempersilahkan Stella menjawabnya.
“Itu mungkin karena teori berpendapat seperti itu, tapi tidak ada yang benar-benar tau bagaimana bentuk atom sebenarnya. Bisa saja diantara ruang kosong tersebut terdapat materi yang tidak bisa kita lihat atau deskripsikan, seperti materi gelap yang ada di luar angkasa. Materi gelap tidak dapat di deskripsikan bagaimana bentuknya dan materi tersebut juga tidak dapat dilihat bahkan diteliti, dan mungkin hal yang sama terjadi pada struktur bagian atom,” jawab Stella yang membuat Dater di depannya tersenyum puas.
“Pemikiran yang sangat bagus Stella, aku suka bagaimana caramu memaparkannya. Apakah tidak ada alasan lain lagi?” tanya kembali Dater itu kepada Stella.
“Mungkin karena materi yang lebih besar dari atom? Seperti pengaruh susunan molekul dan sebagainya? Karena sifat kimia juga dapat mengikat dan menguraikan.” Tambah Stella.
“Tepat sekali! Aku salut kamu dapat memaparkannya dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Dan mungkin kalian ada yang cukup asing dengan materi gelap, ada yang bisa menjelaskan hal itu untuk kita semua disini?” tanya Dater itu melihat satu satu Starzy untuk mengenali dan menghapal wajah mereka, karena ia baru pertama kali masuk kelas tersebut.
Rei mengangkat tangannya mengajukan dirinya untuk menjawab pertanyaan yang baru saja diberikan, “Saya Dater Liza,” ucap Rei. “Ya, silakan.” Dater Liza mempersilahkan Rei untuk menjawab pertanyannya.
“Materi gelap merupakan materi yang memenuhi 80% luar angkasa. Dimana materi tersebut tidak dapat dideteksi oleh radiasi yang terpancarkan dan penyerapan radiasi pada materi gelap tersebut. Tetapi keberadaan Materi gelap dapat dibuktikan dengan beberapa teori fisika seperti efek gravitasi yang tampak menyerupai sebuah bintang.” Jawaban Rei membuat beberapa dari Starzy lain mengangguk paham.
“Jadi Dater, manusia tetap masih belum dapat menuntaskan misteri-misteri yang nyata yah Dater?” tanya Zadith.
“Kurang lebih seperti itu, tidak ada yang benar-benar dapat menjawab semua pertanyaan yang ada pada kepala manusia. Setelah menemukan jawaban atau solusi dari sebuah pertanyaan, tetap saja masih ada detail yang perlu digali lagi dan dijawan untuk memenuhi sebuah teori menjadi keadaan mutlak atau sudah dipastikan benar,” jawab Dater Liza atas pertanyaan Zadith.
“Baiklah, tugas kalian adalah meneliti atom sesuai dengan materi kita kali ini.” Perkataan Dater Liza tentang tugas mereka membuat seisi kelas kaget bukan main, bagaimana bisa mereka disuruh untuk meneliti atom? Sedangkan ilmuwan aja masih tidak tuntas dalam menelitinya.
“Kalian diperbolehkan melihat berbagai jurna, essai, karya ilmiah, hingga artikel yang berkaitan dengan atom. Lalu, teliti kembali dengan peralatan yang sudah disediakan oleh Starlight School, dan simpulkan dengan bahasa yang mudah dimengerti.” Semuanya hanya mengangguk mendengar perkataan Dater Liza, tidak ada yang dapat melawan seorang Dater, karena perkataannya disini mutlak harus dilakukan.
“Baik, jadi kalian akan dibagi menjadi satu kelompok dua orang, kecuali Stella yang sendiri saja karena dia mengambil peminatan kimia,” ucap Dater tersebut seraya melihat daftar nama dan riwayat prestasi Starzy di laptopnya. Stella yang mendengar perkataan Dater Liza hanya menghelakan napasnya pasrah menerima nasib. Tapi menurut Stella itu hal wajar, karena orang sepertinya pasti sudah khatam masalah hal dasar seperti itu.
“Untuk kelompok pertama yaitu Rei dan Sera, kelompok kedua Xander dan Xera, kelompok ketiga Zadith dan George, kemudian kelompok terakhir Xian dan Sana,” ucap Dater Liza, lalu ia melihat ke arah Starzy, “Bagaimana? Ada yang keberatan?”
“Tidak Dater,” jawab semuanya serentak.
“Bagus, waktu seminggu dari sekarang ya, jangan lupa juga untuk membuat presentasi kalian dengan slide. Ingat! Penjelasannya harus mudah dipahami, biasakan memakai bahasa yang dapat dimengerti para orang awam, karena ilmu bukan untuk orang seperti kita saja.”
“Siap Dater!” jawab mereka semua.
“Kalau begitu aku pamit dulu, good luck!” seru Dater Liza. Ia kembali memasang jas putihnya yang tadi di lepasnya, tidak lupa ia melepaskan kacamata yang membuatnya lebih feminim, ia juga terbilang sangat muda di usia 40-an.
Dater Liza keluar setelah membereskan peralatan mengajar dan pakaiannya. Setelah beberapa menit Dater Liza pergi mereka semua menghelakan napasnya.
“Kenapa para guru dan dater hanya masuk mengajar kita selama 15 menit saja? Semuanya seperti itu. Bahkan mereka hanya memberi konsep dan logika dasar saja, lalu memberikan kita tugas sulit,” keluh Zadith yang sedikit tidak terima.
“Anggapan Starzy merupakan siswa terbaik dan tercedas sudah mendarah daging di sekolah ini,” timpal Sera.
“Mau bagaimana lagi? Kenyatannya sudah seperti itu kan?” ujar Xian yang membuat mereka semua menghela napas.
“Ayolah, gue tau kalian semua gabut. Giliran diberikan tugas malah mengeluh.” Stella menggeleng miris melihat teman-temannya.
“Sebenarnya tidak masalah sih, hanya saja mereka terlalu expert banget nggak sih memberikan kita ilmu? Seakan menganggap kita sudah setara ilmuwan dunia, padahal kita hanya dibekali pemahaman dan nalar yang tajam saja, tetapi bukan pengalaman,” ucap George.
“Lo benar, mereka terlalu expert. Berikutnya kita ada kelas lagi?” tanya Sera di akhir perkataannya.
“Tidak, hanya sesi konseling dengan Miss Zea,” jawab Stella.
“Oh iya, gue hampir lupa. Starlight School juga ada sesi konseling dengan ketua kelas, kebetulan besok gue sama Stella punya waktu luang untuk sesi konseling. Datang saja ke pantai dekat Vilatte, gue ada disana. Masalah jadwal hubungi saja Stella, biar dikoordinasikan.”
“Siap pak ketua!” seru Zadith.
Xander berdiri dari duduknya dan pergi ke arah pintu untuk keluar, dan ia berbalik mendapati teman lainnya menatapnya bingung.
“Lo ngapain nder?” celetuk George.
“Lah? Tapi sekarang sesi konseling dengan Miss Zea? Di ruang BK kan?”
“Oh iya! Cepat, ayo pergi!” panik Xian.
“Lo kenapa?” tanya Zadith yang menatap Xian aneh, tidak habis pikir dengan tingkah ketua kelasnya.
“Miss Zea tidak mentolerir keterlambatan, apa kalian lupa?”
“LAH IYA!” seru Stella ikutan panik juga. Lalu seisi kelas ikutan panik semua dan pergi dengan terburu-buru ke ruang BK.