Pagi yang mencekam, Laila merasakan perasaan yang tidak nyaman di tubuhnya, dia menatap ke sudut yang kamar di dekat pintu kamar mandinya, melihat Moro salah satu dari iblis menatapnya dengan intens.
Namun Moro tak berkata apapun hanya saling menatap dengan tuanya laila.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu" tanya laila memecah keheningan.
"Apakah Nona lupa?" Tanyanya menekan kata nona sebagai bahan ejekan seperti pelayannya yang biasanya memanggilnya nyonya. Laila menatap moro tak suka. Giginya yang bertaring sampai ke tanah dengan rambut putih di sekeliling wajahnya kemudian ia membuka mulut, belum sempat kata dari mulutnya keluar Baro muncul dan mendahului moro untuk menjelaskan.
"Malam ini gerhana!" Ujar baro "tumbal!" Jelasnya lagi ketika membaca raut wajah laila. Ketika mendengar penjelasan baro yang begitu singkat dan jelas laila berpikir sebentar dan mengangguk.
Tak lama Lani kepala pelayan mengetuk tanpa menunggu jawaban dia masuk kedalam.
"Nona, sarapan sebentar lagi siap ayok kita mandi" ajak Lani. Laila bangkit membiarkan Lani membantu melepaskan seluruh pakaiannya.
"Dia kelihatan lezat" suara Moro menggema di dalam kamar sambil menatap Lani, dengan tatapan Lapar terhadap mangsa yang akan mengenyahkan Nafsunya.
"Berisik" teriak Laila menggema mengalahkan suara Moro Lani terkejut tapi tak bertanya karena ini sudah sangat sering terjadi, nonanya yang berbicara menghadap sudut dan begitu mencekam dia merasakan ada hawa mahluk lain berada di sudut dan memperhatikan apa yang mereka lakukan.
Moro hanya tertawa kecil kemudian menghilang.
"Ingatlah nona, Tumbal malam ini" baro sekali lagi mengingatkan kemudian dia menghilang setelah sebelumnya membungkuk sopan.
Laila berjalan menuju kamar mandi, dia berjalan menuju tower di bimbing oleh Lani, setelah selesai mandi lani membantu laila seperti biasanya, merias, memakaikan baju dan mengurus rambut laila.
***
Tiba saatnya waktu yang di janjikan, tubuh laila terbangun tanpa kesadaran oleh dirinya, dia keluar kamar dengan tatapan kosong melangkah keluar dari rumah nya di lihat oleh Lani dan Lani mengikutinya tanpa mengangu nonanya lani berserta 2 orang pengawal mengikuti langkah Laila dari kejauhan.
Laila mulai mengendus, mencari bau manis yang nikmat. Ia berjalan dengan cepat seolah- olah tubuhnya melayang dan sanggat ringan, salah satu pengawal di perintahkan oleh lani untuk mengambil mobil dan mereka dengan segera menaikinya mengikuti jejak nona mereka yang berlari tapi kakinya yang tak menyentuh tanah.
Tiba di sebuah jalan yang sepi laili berhenti di sudut semak- semak di pinggir jalan raya seolah-olah menunggu sesuatu di sana, lani tetap menunggu dalam diam di dalam mobil setelah sebelumnya mengabari tuan besar Rahman.
Tak lama kemudian sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi seolah mengejar waktu, di dalam mobil itu ada seorang ayah, ibu dan anaknya anaknya tengah sakit mereka buru- buru ingin melaju ke rumah sakit karena anaknya sakit.
Tiba- tiba Laila berlari ke jalan dan otomatis mobil keluarga tersebut oleng dan dan ayah anak tersebut yang mengendarai mobil sangat kaget dan membanting stir ke sisi jalan untuk mengghindari menabrak wanita di tengah jalan bersamaan dengan itu lani berteriak dan menutup matanya kaget dan syok tentang nona yang sangat di cintai akan di tabrak mobil yang melaju, tetapi hal itu tak terjadi mobil tersebut berguling setelah mampu menghindari tatapan Laila.
Lani bernapas lega karena nonanya tidak tertabrak mobil itu, lani dengan segera keluar dari mobil beserta pengawalnya dengan cepat.
Sementara itu laila kembali memperoleh kesadaranya, kaget dengan keberadaanya di jalan itu dia melihat ke samping tempat mobil itu terbalik di sana sudah ada 7 Iblis yang mengelilingi mobil itu dengan darah merah yang begitu segar di mulutnya, pandangan Laila memudar dia jatuh pingsan bersamaan dengan seringai dari para iblis itu.
Lani dengan segera menuju laila, meminta pengawal membawa tubuhnya ke dalam mobil, dan dengan segera mengecek mobil yang terbalik.
"Maaf bu, mereka meninggal" ujar pengawal sambil menarik tanganya dari leher laki- laki yang mengemudikan mobil itu, Lani menghebuskan nafas berat. Kemudian dengan cepat mengambil HP dan memencet tombol nomor satu yang merupakan pangilan cepat, dan dalam deringan pertama telpon itu di anggkat. Lani menceritakan kronologi yang terjadi dan di seberang sama Rahman mengerti.
"Baikalh kalian segera kembali aku akan mengirimkan orang untuk membereskan semuanya" perintah rahman dan kemudian mematikan Telepon.
"Ayok kita kembali" kata Rahman tanpa menatap Nila dan berdiri bergegas untuk pulang karena dirinya sekarang berada di luar Negri mengurus bisnis di sana.
Tanpa menjawab nila langsung mengabarkan kepada pilot pesawat pribadi keluarga rahman untuk menyiapkan pesawat karena mereka akan pulang,. Padahal urusan di negara itu belum selesai tapi bagi meeeka laila adalah segalanya terlebih setelah laila masuk dan datang ke keluarga mereka bisnis dan Harta kekayaan keluarga mereka meningkat pesat seperti roket, bahkan urusan bisnis mereka tak pernah mengalami kendala. Kemudian mereka segera memasuki mobil menuju Bandara.
***
Laila kembali merasakan dirinya tersadar di alam lain, tepatnya di alam pertama dia melakukan perjanjian kepada para iblis dan dia berjalan menuju pohon yang sangat besar.
Waktu menunjukan jam 8 pagi tetapi Laila belum juga terbangun sementara Rahman sedang menuju Rumah setelah baru saja turun dari pesawat pribadi , Rahman mencoba memejamkan mata ingin beristirahat sejenak di dalam mobil, tetapi meskipun dia memejamkan mata, pikiranya melayang memikirkan keadaan laila.
Lani kembali mengecek keadaan nonanya, namun tak ada pertanda nonanya akan bangun ia kemudian mengecek Hpnya mencari artikel tentang kejadian semalam, dan dia membaca bahwa kecelakan telah terjadi di sana di tempat mereka semalam, menewaskan satu orang keluarga , kronologi kematian di duga karena ingin menghindari Anjing yang melintas di jalan mereka mengalami kecelakaan terlihat bukti mayat anjing yang berada di dekat sana. Lani menghembuskan nafas lega.
Jam menunjukkan pukul 9 pagi Rahman telah sampai di rumah Laila dengan segera menuju kamar cucu tercintanya memeriksa keadaanya, di sana iya memengang tangan cucunya yang tak terpasang infus, kemudian mengengam dengan sayang membawa ke mulutnya mencium dan berharap cucunya tersadar.
Dan benar saja Laila langsung tersadar, dan menatap lemah wajah kakeknya yang begitu sendu dan sedih dia tersenyum membaca ke kwatiran kakeknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi laila?" Tanya kakeknya sendu" kakek hampir mati mendengarmu terluka"
"Aku tak baik kakek. Sebenarnya aku belum menceritakanya kepada kakek" ucap laila ingin menjelaskan pada kakeknya apa yang sebenarnya terjadi"ini adalah persayaratan dari iblis untuk menyerahkan tumbal di saat gerhana matahari" terang Laila
Kemudian menjelaskan secara terperinci sehingga kakeknya paham dan mengerti.
Di dalam hatinya Rahman mengerti dan akan membantu sang cucu agar cucunya tetap hidup dan berada di sisinya.