di umurku yang 18 tahun aku sudah siap untuk kuliah dalam waktu sebulan lagi, segala prosedur sudah terselesaikan, tanpa ikut tes seperti mahasiswa lainya aku hanya tinggal ikut ospek dan kuliah.
awalnya aku tak ingin ikut ospek tapi kakek bilang itu hal yang bagus buat dapat teman, tapi menurutku memiliki teman atau tidak itu tak penting aku bahkan tak memiliki rasa empati, rasa sedih,hanya rasa ingin membunuh dan menyesatkan dari iblis di dalam tubuhku, dan rasaku hanya itu- itu saja.
aku bahkan takjub melihat sepupuku putri yang merengek ke ayahnya meminta barang yang ingin di beli ketika dia datang kerumah dan bercerita tentang dia yang merengek kepada ayahnya untuk membeli sebuah tas keluaran terbaru.
apakah aku bisa seperti itu? rasa yang ku miliki, hanya rasa ngantuk dan rasa lapar. tapi aku bahkan tak terlalu memikirkannya . kadang hanya kakek yang membuatku berubah pikiran, menyuruh ini itu, meminta ini dan itu seperti memintaku untuk sekolah, karena dirinya selalu ada buatku entah mengapa setiap melihatnya tersenyum ada sesuatu yang hangat di tubuhku meski rasanya terasa samar.
aku akan berkuliah di satu universitas yang sama dengan sepupu- sepupuku. sepupuku yang seumuran dengan ku Putri akan mengikuti ospek yang sama denganku.
hanya kami memiliki jurusan yang berbeda. aku mengambil manajemen bisnis sedangkan dia mengambil jurusan kedokteran, katanya dia ingin merawat ayah ibu dan kakek kalau sakit. Sedangkan kakak putri yaitu putra mengambil jurusan yang sama denganku sekarang sih dia semester 5.
sebulan pun berlalu dua hari lagi waktunya aku akan berkuliah, sekarang kepala pelayan sedang menyisir rambutku dan yang lainya memilih pakaian yang akan aku gunakan, karena ini adalah hari dimana pertama kalinya aku akan keluar dari rumah.
kakek mengajakku ke Mall katanya itu adalah pusat perbelanjaan tempat orang membeli barang - barang, kami ke sana untuk membeli perlengkapan untuk kuliah, seperti baju, sepatu, tas, buku dan banyak hal lainnya . aku engan untuk keluar tapi kata kakek aku harus membiasakan diri untuk keluar dan membiasakan diri dengan orang-orang.
Setelah selesai berbelanja, menonton film dengan kakek dan Putri yang ikut berbelanja dengan kami serta sekertaris kakek Nila dan beberapa pengawal kami menuju restoran dan duduk di ruangan VIP untuk makan siang di sana. Setelah makan kami pulang di antar supir dan dengan mobil lain karena kakek ada urusan mendadak di kantor setelah di hubungi oleh paman.
Aku dan putri pulang berdua ke rumah di dalam mobil ku lihat putri tersenyum sambil menatap layar hpnya kemudian dia mengambil posisi menjauhi hp, dan memencet tombol aku hanya menatapnya melihat apa yang dia lakukan, kemudian putri tersadar tentang aku yang menatapnya dari tadi.
" Lil kenapa kamu natap aku gitu banget sih? Merinding tau!" Katanya tetap ceria dan tersenyum berusaha mencairkan suasana dan memperbaiki atmotsfer di antara kami.
"Apa yang kamu lakukan dengan benda yang di sebut hp itu" tanyaku penasaran "aku tau itu hp yang biasanya di pakai kakek untuk berbicara tapi aku ngk tau kalau itu juga bisa memindahkan wajah" jelas ku lagi. Putri tertawa kecil memperlihatkan lesung pipinya di sebelah kiri.
Kemudian dia menyodorkan hp itu ke depan ku dan memperlihatkan cara kerjanya serta menjelaskan apa yang dia lakukan.
"Kamu bisa meminta kakek untuk membelikannya untukmu" kata Putri setelah menjelaskan apa yang dia lakukan aku hanya diam karena pertanyaan di kepalaku telah di jawab.
"Ih nanti besok malam jam 2 katanya akan ada gerhana matahari" kata Putri menyodorkan hp itu di depan wajahku memperlihatkan artikel tentang gerhana matahari." Wah katanya saat gerhana matahari setan- setan pada keluar dan cari mangsa, uhgg serem" tambahnya kemudian mematikan hp dan meletakan di dalam tas karena kami udah sampai rumah, putri turun di mansion sedangkan aku tetap menunggu hingga putri keluar dan salah seorang pengawal membantu membawa barang yang di beli di hotel.
mobil melaju ke rumahku di belakang mansion. Dan aku turun dan melangkah menuju di dalam rumah pelayan mengambil barang ku dari tangan pengawal.
"Nona ayok kita bersih- bersih" kata Lani sesudah sampai di dalam kamar dia dengan cekatan membuka semua bajuku hingga aku tubuhku tak tertutup benang aku melangkah ke dalam kamar mandi dan masuk ke dalam dan berendam air hangat.
Lani dengan sikap menggosok seluruh badanku kemudian memotong kukuku yang memanjang, mencuci rambutku,
"Ayok nona sekarang sudah selesai, mari saya bilas" ujar Lani sambil menuntun tanganku keluar dari batup menuju shower dengan telaten membantuku membersihkan busa di badanku, dan mematikan shower kemudian membantuku memakai jubah mandi ku menuntunku duduk di depan cermin kemudian mengeringkan rambutku serta menyisirnya dengan pelan.
"nah nona sudah selesai sekarang ayok kita pakai bajunya" kata Lani. aku melepaskan jubah mandi ku pelayan lain dengan sigap memakaikan baju untukku. merias wajahku, memakaikan sepatu dan merias kuku tanganku.
"wah nona sangat cantik" puji salah satu pelayan ku. aku menatap wajahku di cermin, cantik? apakah wajahku cantik? kemudian lawan kata cantik itu jelek, seperti apa wajah jelek? apakah kakek cantik? apakah sepupuku cantik? apakah kepala pelayan cantik? aku tak bisa menilai standar suatu kecantikan, bagiku dia manusia, dia hidup, dia mati, dia kecil, dia besar, hanya yang seperti itu aku tahu.
aku berjalan ke ruang utama di sana sudah ada kakek yang duduk sembari membaca sesuatu di tangannya.
"cucuku cantik sekali" katanya sambil berdiri kemudian membelai kepalaku.
***
Aku kembali terbangun tengah malam dan berjalan menuju dapur di sana sudah ada Lani dia berjalan cepat menuju ku kemudian memegang tanganku menuntunku menuju kursi di meja makan di sana sudah ada daging mentah di piring yang telah di potong terlebih dahulu dengan darah yang sangat kental di gelas, aku mengambil garpu dan memakan daging dengan nikmat.
Ku lihat pelayan ku menatap kematannya yang tengah memperhatikan aku tengah memakan makananku. Melihat kedalam pikirannya yang bertanya seberapa enak daging yang ku makan.
"Kamu mau?" Tanyaku bertanya sambil menyodorkan daging mentah yang ku tusuk dengan garpu pelayan lain menatap pelayan itu termasuk Lani dan melotot padanya dengan tatapan kurang ajar sekali pelayan itu menatap nona dan membiarkan nona membaca pikiranya.
Pelayan itu segera berlutut tapi tak bersuara karena kaki dan tangannya gemetar.
"Memang apa yang aku lakukan sampai kamu gemetaran begitu" tanyaku tanpa menoleh dan tetap memakan daging di piring.
"Ma.. maafkan saya nona" jawabnya bergetar.