Namaku Adalah laila umurku 16 tahun, sekarang aku akan menceritakan bagaimana aku bisa terlahir di dunia ini.
ayahku adalah anak pertama dari dua bersaudara sedangkan ibuku Adalah anak tunggal, ayahku bisa di bilang seorang yang kaya dari golongan bangsawan, sedangkan ibuku hanya seorang gadis desa.
Tetapi keluarga dari pihak ibuku merupakan keturunan penyihir dari beberapa ratus tahun yang lalu yang melayani raja dan di setiap generasi ilmu sihir itu akan di turunkan kepada salah satu wanita dalam keluarga ibuku hal itu terjadi secara turun temurun dari generasi ke generasi, nenekku, kemudian ibuku sekarang aku ciri khas dari orang yang telah di turunkan sihir itu adalah mata yang berwarna hijau gelap, apabila belum bisa menguasainya dan melakukan perjanjian maka hanya sebelah mata yang akan berwarna hijau tetapi jika sudah menguasainya maka kedua bola mata akan menjadi warna hijau gelap.
ibu pernah menceritakan padaku ketika aku bertanya tentang ayah, ibu bilang ayah meninggal saat aku masih di dalam kandungan sebenarnya ayah dan ibuku tidak pernah menikah karena kakek tak pernah merestui hubungan mereka ayah kabur dari rumah dan tinggal bersama ibu yang sebatang kara karena keluarga ibu telah meninggal.
belum genap sebulan ayah melarikan diri ke desa kakek dan orang orang suruhannya datang menjemput ayah sedangkan saat itu ibu telah menggandungku, dan ayah di paksa pulang ke rumahnya dan tak pernah kembali lagi, ibu sangat sedih saat itu kemudian ketika aku lahir ibu pergi kerumah ayah dan ingin memperlihatkan aku kepada ayah.
ketika ibu sampai di sana ibu awalnya di tolak oleh kakek tetapi ketika kakek melihat aku di dalam gendongan ibu kakek pun menyuruh ibu masuk kedalam rumah kakek menangis memeluk ibu, ibu sangat keheranan dan bingung kenapa kakek memeluk ibu sambil menangis?
kakek pun menceritakannya ayah telah meninggal ia gantung diri karena kakek telah mengurungnya dan tak membiarkan ia bertemu ibu.
ibu menangis dan memelukku dengan erat, mungkin ini adalah takdir pikir ibu, kakek meminta ibu untuk tinggal di rumah itu bersama denganku tapi ibu menolak ibu masih belum bisa menerima kenyataan tentang ayah.
ibu pun kembali ke desa, di desa kehidupan ibu pun serba sulit saat mengandungku ibu mencari uang dengan menjual kayu bakar, tetapi saat ibu melahirkan ku ibu tak lagi kuat, terutama karena aku adalah anak perempuan yang nantinya akan mewarisi ilmu ibu.
beberapa lama ibu mencari uang dengan pasien yang datang ke rumah, orang orang yang ingin melakukan perjanjian dengan iblis melalui ibu, atau entah orang orang yang datang karena mempunyai dendam, ibu menceritakan hal itu ketika aku berusia 5 tahun tepat saat ia memiliki firasat yang buruk tentang kematiannya.
ibu menceritakan tentang bagaimana keturunan keluarganya, bagaimana ayah, keluarga ayah tentang yang harus ku lakukan, mungkin karena aku yang akan mewarisi ilmu ibu saat itu aku mengerti maksud dari ucapan ibu, selain itu aku menginggat setiap detail yang terjadi pada masa itu.
mungkin karena aku adalah keturunan penyihir, kemudian saat terjadi tragedi saat aku berumur 5 tahun, tragedi dimana ibu di bakar oleh warga dan aku yang mulai tinggal bersama kakek, aku tak pernah melupakan kejadian itu tetapi anehnya tak ada rasa takut untukku sekarang yang ada hanya rasa rindu pada ibu.
setelah aku tinggal bersama kakek terjadi penolakan ilmu sihir itu di dalam tubuhku, beberapa kali mataku mengeluarkan darah aku muntah darah dan butuh darah yang banyak untuk tubuhku, aku bersyukur karena aku tinggal bersama kakek.
kakek sangat menyayangiku dan memerintahkan dokter untuk merawatku, dia tak takut memelukku yang berlumuran darah.
kurang dari tiga minggu aku tinggal di rumah baru yang di buat oleh kakek sampai sekarang, pelayan akan datang kerumah ku sesuai dengan jadwal, aku juga belajar di rumah itu tentang dunia, tentang hitungan dan lain lain, aku pernah dengar istilahnya Homeschooling, aku juga belajar berbagai bahasa, kata kakek untuk persiapan aku mengambil alih hak ayahku, sesekali sepupuku datang ke rumahku menemaniku bermain agar aku tak kesepian karena aku tak pernah di ijinkan untuk keluar rumah ini. dan beberapa tahun telah berlalu sekarang unur ku sudah 16 tahun dalam waktu 7 bulan lagi aku akan berumur 17 tahun dan waktu itu aku harus menguasai iblis yang ada di tubuhku, karena kalau aku tak mampu maka aku akan di kuasai oleh iblis dan menjadi budaknya.
"laila.." terdengar panggilan lembut itu adalah suara kakek aku bangkit dari dudukku dan berlari memeluk kakek," apa yang kamu pikirkan nak?" tanya kakek mengelus lembut kepalaku.
"bukan apa-apa" jawabku.
kami kemudian duduk di sofa kakek mengambil buku yang ada di meja membaca judulnya dan kemudian meletakkannya kembali di atas meja.
"bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya kakek " apa ada hal yang membuatmu tak nyaman?"
" tidak kek aku baik baik saja" jawabku
" syukurlah kalau kamu baik baik saja, apa ada hal yang kamu inginkan?" tanya kakek lagi memastikan jika ada hal yg ingin aku lakukan atau aku inginkan. aku berfikir sejenak dan tidak ada hal yang aku mau.
"baiklah kalau ada yang kamu mau atau kamu inginkan kamu bisa bilang sama kakek, sekarang kakek mau pergi ke kantor dulu, dan ingat, jangan keluar dari rumah" pesan kakek sebelum keluar dari rumah.
aku kembali mengambil buku yang ada di meja kemudian membacanya lagi.
"kamu selalu sibuk, kapan kamu akan belajar untuk menggunakan ku?" terdengar suara aku menatap sesuatu yang sedang berdiri dimeja matanya berwarna merah berbadan besar dan gemuk ada taring di mulutnya dan panjang melebihi dagunya, telinganya besar seperti telinga gajah, wajahnya berwarna hitam seperti terbakar.
"diam lah aku sibuk" kataku bergumam.
"sibuk? berhentilah melakukan hal yang tak berguna, sekarang bangun dan belajar dariku dan kita bisa menguasai dunia dan cari pengikut yang banyak Hahahahahhaahaaaa" tawanya terdengar dan membuat telingaku berdengung dan sakit.
"Haaaaaaaaaa berhentilah tertawa" teriakku tak suka.
"kamu sangat lemah sepertinya kali ini aku yang akan menjadi tuan, lihatlah bahkan tawaku membuatmu terganggu.
"Diam dan jangan banyak bicara" protes ku pada mahluk itu dan dia menatapku sesaat dan menghilang.
tak lama setelah itu kepalaku sangat sakit dan berat mataku terkantuk -kantuk pandangan ku buram,
"Arrghhhhhhh Arrghhhh" aku mengeram tak tahan sakit kepala yang seolah olah ada yang menekan kepalaku dengan beban yang sangat berat, aku menjambak kepalaku kutarik rambutku dengan sangat kuat sampai sampai ada sebagian rambutku yang tercabut, tubuhku pun telah terbaring di lantai ku dengar langkah kaki mendekat tapi aku tak bisa melihat siapa itu karena sekarang yang ku rasa sangat sakit.
"telepon tuan Rahman, nona Laila kambuh" teriak seseorang memberi perintah.
"huaaaak huaaakkk huaaakkk" aku memuntahkan darah "Arrghhhhhh" kepalaku sangat sakit, nafasku sesak kesadaranku pun perlahan hilang.
***
aku terbangun, aku berada dimana? ini bukan rumah, ku perhatikan sekeliling hanya Ada pohon pohon besar, ada kekuatan yang menarik ku menuju sebuah pohon yang paling besar di antara pohon lainya. aku mendekat dan badanku tiba-tiba di sedot kedalam pohon itu.
"Nona Anda disini? " mari silahkan masuk kata mahluk itu aku di antar menuju sebuah ruangan yang luas di sana sudah ada 7 mahluk yang sangat besar dua diantaranya mahluk yang sering menggangguku selama ini makhluk yang mengusikku yang jika tertawa membuat telingaku sangat sakit.
" aku ada dimana?" tanyaku pada mahluk itu mereka tersenyum
" nona ada di dunia kami" jelas mahluk itu" sekarang waktunya kita melakukan perjanjian" sambungnya lagi.
"perjanjian apa? apakah perjanjian ini adalah perjanjian yang pernah kalian lakukan dengan nenek moyangku serta ibuku?" tanyaku memastikan.
" ya nona benar tapi hanya 4 di antara kami yang melakukanya, sekarang kami ber 7 yang akan melakukan perjanjian dengan nona" jelasnya.
"jelaskan padaku tentang perjanjiannya" pintaku
"kami akan menjadi sumber informasi yang belum nona tau, yang akan menjaga, melindungi, melayani, dan mematuhi perintah nona" terangnya di selingi senyuman yang lebar sampai memperlihatkan giginya yang hitam dan taring yang panjang liurnya berwarna hijau keluar dari mulutnya.
"apa imbalannya?" tanyaku penasaran.
" ada banyak, sesatkan manusia lainya dengan kekuatan kami, nyawa orang yang tak kamu sukai, dan yang paling penting adalah tumbal di setiap gerhana matahari harus ada tumbal dan jiwamu adalah milik kami." terangnya.
" bagaimana jika aku menolak?" tanyaku penasaran.
"Hahahahahahahaahhaahaaaa" mereka tertawa namun kali ini tak membuat telingaku sakit."kami akan mengambil Alih tubuhmu, aku masih ingat salah seorang keluargamu yang menjadi gila, mungkin kamu akan menjadi gila atau lebih ringannya kamu hanya mayat hidup yang kami gerakan tubuhnya" jelasnya dan membuatku merinding.
"baiklah aku turuti persyaratan kalian" ucapku
"serahkan darahmu" kata mahluk itu lagi.
aku mengigit tanganku dengan sangat keras dan darah mengalir di sana dan memberikan kepada mereka tanganku yang mengalirkan darah, mereka tersenyum dan meminum masing-masing satu tetes darahku
"sekarang kita telah melakukan perjanjian, kembalilah kedunia mu" setelah berkata begitu mataku tiba-tiba buram dan pandanganku hitam, aku lagi lagi kehilangan kesadaran.