Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan rumah yang sangat luas dengan gerbang yang memiliki pilar yang sangat besar dan tinggi, rumah itu lebih mirip ke sebuah mansion yang sangat megah, di sambut oleh beberapa pegawai di pekarangan, seorang pegawai membuka pintu mobil. Seorang laki laki kemudian turun dengan seorang anak masih di gendongnya
“nila, siapkan kamar buat cucuku” perintah laki- laki itu pada wanita muda yang elegan yang merupakan sekretaris dari laki-laki tersebut, nila pun dengan sigap masuk terlebih dahulu ke dalam rumah dan memerintah beberapa pelayan untuk menyiapkan kamar untuk majikan kecilnya.
Tak butuh waktu lama, setelah kamar siap laki-laki itu meletakan cucunya yang tengah terlelap di tempat tidur dan belai kepalanya beberapa kali sebelum meninggalkan kamar dan menutup pintu dengan pelan agar tak menganggu tidur cucunya.
“Tuan!” panggil nila lembut namun membuyarkan lamunan laki-laki itu
“nila, aku tidak tahu harus bagaimana, kasihan anak sekecil itu harus mengalami tragedi mengerikan ini” ujar laki laki itu sambil mengusap air matanya pada sekretarisnya sebelum menjemput cucunya ia sudah di jelaskan apa yang telah terjadi oleh Badrun , ia tak habis pikir kenapa semuanya bisa terjadi seperti ini. Seharusnya ia bisa mencegahnya ia berpikir ini adalah salahnya.
“ tuan, yang tabah mungkin ini adalah penghapusan dosa untuk tuan, atas dosa di masa lalu” ucap nila mencoba menghibur tuanya
“Ya kau benar nila, sekarang aku harus menjaganya dengan baik dan kamu harus memperlakukannya dengan baik, cucuku itu adalah hidupku sekarang” terang laki-laki itu
“Baik tuan, saya akan menjaga nona kecil dengan nyawa saya.” Jawab nila mantap tanpa ada keraguan, laki2 itu menghembuskan nafas berat dan tersenyum.
***
“Ibu...ibu..ibu..” terdengar tangis dari sebuah kamar , laki- laki itu bergegas menuju kamar itu di ikuti oleh nila dan beberapa pelayan lainya, ”ibu... ibu.. ..”
“Cucukku oh cucuku” laki-laki itu memeluk anak kecil itu sambil membelai kepalanya sampai anak itu diam dan menatap bingung.
“ aku adalah kakekmu Laila,” kata laki laki itu tapi anak itu tetap bingung, dan membuat sang kakek juga bingung bagaimana cara menjelaskannya begini Laila, aku adalah ayah dari ayahmu, dan itu di sebut kakek.” Kata sang kakek mencoba menjelaskan
“Ayah??” tanya gadis kecil itu dengan wajah senang.
“bukan ayah, tapi kakek.” Kata sang kakek memperbaiki kesalah pahaman cucunya
“Kakek?” tanyanya gadis itu lagi.
“Iya kakek Laila,” jawab sang kakek tersenyum dan Laila pun ikut tersenyum.
“makan” kata Laila dengan lucu dan membuat sang kakek tertawa bahagia, dan nila segera meminta pelayan memasakkan makanan buat Laila tanpa menunggu perintah.
"Tapi sebelum makan harus mandi dulu" ujar kakek sambil membantu melepaskan pakaian cucunya dan kemudian matanya tertuju pada gelang di kaki kiri lalila dia memeriksa dengan seksama dan mencoba mengerakkanya tapi tak berbunyi, kemudian sang kakek ingin melepasnya tetapi dengan cepat laila mengehentikan tangan kakeknya dan mengeleng.
"Ibu bilang kalau tidak boleh di lepas nanti laila mati" jawabnya sang kakek sempat bergidig ngeri dengan ucapan cucunya, tanpa memikirkanya lagi dia memandikan laila dan mengenakan bajunya kemudian menyisir rambut laila dengan lembut dan sayang.
***
Setelah makan laila kembali ke kamar di antar oleh nila sedangkan sang kakek mengumpulkan semua keluarga untuk memberi pengumuman tentang Laila.
“ Ayah.. ada apa ini sebenarnya? Kenapa ayah mengumpulkan kami dan siapa anak kecil itu?” tanya andi yang merupakan paman lailah.
“ iya ayah, ada apa ini? Dari kemarin sore semuanya sibuk” timpal istri Andi. Rahman Har, yang merupakan kakek Lailah sekaligus ayah dari Andi Har terdiam sejenak menarik nafas dengan dalam kemudian menjawab
“ Dia adalah Lailah, anak satu satunya dari kakakmu Randi” terang sang kakek.
“ anak Randi? Bagaimana bisa?” tanya andi kebingungan dan kemudian berpikir sejenak tak lama dahinya yang berkerut menjadi normal menandakan dia sudah mengerti, tapi sebelum Andi mengingat suara ayahnya Rahman Har terlebih dahulu menerangkan.
“ Iya benar apa yang kamu pikirkan, itu adalah anaknya bersama Laili gadis desa yang dulu kita usir setelah tahu latar belakangnya dan yang menyebabkan Randi bunuh diri” terang Rahman Har semua orang di sana kaget dengan fakta itu, istri dari andi menutup mulut tak menyangka.
“Ayah, apakah tidak berbahaya bagi keluarga kita jika anak itu di bawa kesini? “ cemas andi dengan hati hati ia tahu bahwa ayahnya dari dulu ingin mengambil Lailah tapi karena Laili masih hidup ayahnya tak bisa berbuat apa apa.
“ aku tahu,. Tapi aku tak bisa mengabaikannya dia adalah anak Randi, pewaris sah keluarga ini. Dan aku menyayanginya melebihi nyawaku.” Terang Rahman dengan air muka sedih
“ tapi ayah, keluarga kita bisa kena sial” kata andi dengan nada memelas takut terjadi bencana di dalam keluarganya tetapi di sisi lain takut dengan kemarahan ayahnya.
“ Laila juga keluarga kita andi, kalau bukan kita yang menaunginya siapa lagi” Rahman menjawab dengan suara keras, Andi pun diam dia tidak berkata apa apa lagi tapi di dalam hatinya, jika sesuatu terjadi dalam keluarganya ia yang akan menyingkirkan Laila” sudahlah aku minta kalian semua untuk menjaga Laila, terutama untuk anakmu Andi minta mereka temani Laila apalagi Putri yang sebaya dengannya minta dia menemani Laila dan aku akan memberikan kebaikan padanya” perintah Rahman, Ada rasa senang di hati andi tentang kebaikan untuk Putri anaknya tetapi di sisi lain ia juga takut dengan bencana yang akan terjadi dari adanya anak penyihir di rumah mereka. Tapi untuk saat ini andi hanya bisa mematuhi perintah ayahnya.