Aku memanaskan air dan membuat teh manis untuk Maya, dengan teh manis mungkin kekuatannya akan pulih kembali dan untuk sedikit menenangkannya. Sejak aku datang Maya tak berhentinya menangis, jujur saja hatiku ikut sakit ketika melihatnya. Aku ingin bertanya lebih banyak tapi aku rasa ini bukan waktu yang tepat.
“Minum dulu May,” ucapku sambil meyodorkan secangkir teh manis hangat.
“Makasih, Mir” jawab Maya lirih
“Tenangkan dirimu dulu, kalau belum mau cerita juga ngak apa-apa” ucapku sambil mengelus pundaknya yang terlihat rapuh.
“Aku ngak tau harus mulai darimana, semuanya terjadi terlalu cepat bagiku” ucap Maya sambil meneteskan air mata.
“Pertama, tarik napas mu dalam-dalam. lalu ceritakan saja pelan-pelan” kataku mencoba menenangkan.
Sambil menarik napas dalam pelan-pelan, Maya mulai bercerita. Kejadian itu bermula dari seseorang yang datang untuk menagih hutang secara tiba-tiba. Maya tidak tahu pasti untuk apa hutang itu, tapi yang pasti bukan untuk dirinya dan anaknya. Maya mengatakan itu karena sudah 2 bulan ini Anton yang merupakan suami Maya tak memberi uang.
Orang asing yang datang kerumah Maya mengatakan bahwa suaminya meminjam uang 1 bulan yang lalu dan memberi alasan bahwa uang tersebut untuk membeli s**u dan kebutuhan anak dan istrinya. Namun Maya merasa tak pernah menerima uang tersebut karena sudah 2 bulan ini, dia dibiayai oleh ibu dan ayahnya untuk membeli kebutuhan dan s**u untuk anaknya.
Rumah kedua orang tua Maya memang tidak terlalu jauh dari rumahnya. hanya dengan berjalan kaki pun mereka akan sampai dengan cepat. Maya juga bercerita bahwa suaminya sudah tidak pulang selama 2 minggu ini. Hari ini suaminya pulang karena Maya mengabarkan bahwa ada seseorang yang menagih hutang.
Ketika suaminya datang, Maya bermaksud menanyakan untuk apa hutang tersebut karena Maya tahu suaminya sedang kesulitan mencari uang tapi Maya merasa tak menerima uang tersebut. Suaminya marah dan mengatakan kepada Maya bahwa dia istri yang tak tahu diri karena sudah di beri makan tapi merasa tak menerima uang.
Maya marah karena suaminya tak mengatakan yang sebenarnya, karena sudah jelas 2 bulan ini dia selalu mendapat uang dari ibu dan ayahnya bukan dari dirinya. Lalu suaminya berteriak dengan sangat marah dan mengatakan akan segera menceraikannya. Suaminya pergi sambil membawa baju-baju dirinya dengan sebuah tas besar.
“Kamu kenapa ngak mengatakan apa pun selama 2 bulan ini,” aku bicara sambil memeluknya yang masih sesekali menangis.
“Aku tahu kamu sedang kesulitan mengurus perceraianmu, jadi aku tak punya keberanian untuk mengatakan apa pun,” ucapnya lirih dalam pelukan ku
“Maafin aku, May” kataku sambil manatapnya dalam
“Kamu ngak salah Mir,” ucap maya sambil menangis
“Minum lagi teh manisnya, biar kamu sedikit tenang.” ucapku
**
Aku pulang kerumah ketika mendekati waktu maghrib, sesampainya dirumah aku memberi salam tapi hanya ada adikku dirumah yang menyahut salam. Aku berjalan mendekati lemari es yang berada di tengah-tengah antara ruang keluarga dan dapur, lalu aku membuka lemari es dan mengambil segelas air dingin dan meminumnya.
“Yang lain kemana, dek?” tanyaku sambil duduk di sebelah adikku yang sedang berbaring di atas sofa.
“pada kerja mba, belum pulang,” jawab adikku malas sambil bermain handphone.
“begitu yaaa” jawabku seenaknya
“kamu dari mana baru pulang jam segini, sidangnya selesai pagi tadi kan?” tanyanya menyelidiki.
“dari rumah Maya, dia lagi kacau banget tadi” ucapku berat
“kak Maya? emang kenapa?” tanyanya sambil beranjak duduk
“Aku juga belum tahu pasti, aku baru dengar cerita dari Maya. Intinya sih Maya mau diceraikan” ucapku hati-hati
“Aku ngak tahu harus cerita ini atau ngak, tapi aku pernah pas-pasan dan ketemu sama suami kak Maya lagi jalan sama cewek pakai seragam SMA” ujar adekku
“kamu yakin?” tanya ku terkejut
“ngak begitu yakin sih makanya aku ngak tau mau cerita ini atau ngak” sahutnya sambil lalu memainkan handphonenya kembali.
TRING TRING
Ada notif pesan WA yang masuk ke handphone, aku membaca pesan masuk tersebut dari luar tanpa membuka aplikasi. Aku sedang malas membuka pesan dari orang lain jadi aku membuka pesan dari luar agar orang lain befikir bahwa aku belum membaca pesannya. Aku sedikit mengerutkan dahi ketika membaca pesan tersebut.
[Mantan : bisa kita ketemu sebentar, ada yang ingin ku bicarakan denganmu]
Aku menutup mata sebentar sambil berguman dalam hati ‘apalagi sih ini?’. ku abaikan pesannya dan mematikan handphone. Aku beranjak berdiri dan berjalan menuju ke kamar untuk beristrihat, sudah cukup untuk hari ini. Aku sudah tak punya energi untuk menanggapi hal lain lagi.
**
Aku bangun dipagi hari dengan kepala yang pusing, aku bahkan tak sadar tidur pukul berapa. Aku meraba-raba kasur mencoba mencari keberadaan handphone dan melihat sudah jam 8 pagi, jelas aku sudah kesiangan. Jadi aku segera beranjak dan segera berlari ke kamar mandi. Aku melihat sekeliling rumah sudah tidak ada orang, semuanya sudah berangkat kerja ternyata.
Selesai mandi, aku kembali mengecek handphone yang aku matikan sejak semalam. Ternyata sudah banyak notif masuk sejak aku hidupkan ketika baru bangun tadi. Ada pesan WA dari kantor radio, hari ini jadwal aku siaran pukul 2 siang sampe 6 sore. Aku lega sekali setelah melihat pesan tersebut, aku pikir bahwa hari ini akan dapat jadwal pagi.
Meski aku dapat jadwal siaran siang hari, tapi aku langsung bersiap-siap untuk keluar rumah karena hari ini energiku sudah cukup full untuk mengahadapi mantan suami yang mengirimkan puluhan pesan WA yang minta bertemu. Jadi aku memutuskan untuk bertemu dan mendengarkan apa yang akan dikatakannya kali ini. Aku mengirimkan sebuah pesan WA untuk mengajaknya bertemu.
[Mira: ayo bertemu, aku tunggu di cafe W pukul 9. JANGAN TERLAMBAT!]
[Mantan: baiklah, aku akan segera kesana. Terimakasih Mira ^^]
tiba-tiba aku merasa geli melihat emoticon yang dia kirimkan.
**
Tiba di cafe W aku segera memesan segelas es cokelat untuk diriku, sepertinya aku butuh asuapan yang manis untuk menghadapi kekonyolan mantan suaminya nanti. Aku melirik jam tangan milikku, baru pukul 8.50 am. Sepertinya aku terlalu cepat datang, sambil menunggu aku membuka tablet dan mencari materi untuk aku bawakan ketika siaran nanti.
TRING TRING
[Bu Dosen Cantik : kapan kamu mau menyerahkan skripsi Bab 4 mu?]
[Mira : Lusa bu, nanti mira mampir ke kantor ibu]
Aku baru teringat sudah melupakan skripsi yang sedang aku kerjakan, belakangan aku memang merasa terlalu sibuk dengan banyak hal. Apalagi sambil mengurusi perceraian ku beberapa waktu ini cukup membuat energi ku habis. Aku harus mencari nafkah dan mengerjakan skripsi yang belum selesai 2 bulan belakangan ini.
Aku sedikit menyadari bahwa aku sedang berantakan saat ini, rasanya segala yang telah aku atur jadi tak tentu arah. Banyak hal yang menganggu pikiranku saat ini, awalnya aku tak sadar tapi perlahan-perlahan itu menjadi racun untuk ku. Aku hampir kehilangan diriku sebelumnya karena perceraian yang aku hadapi membuat aku takut akan masa depan.
Saat menghadapi perceraian yang paling aku takutkan adalah ketika orang lain akan menyebutku sebagai janda. Itu sedikit banyak meruntuhkan harga diri yang selama ini aku bangun. Apalagi umur pernikahan ku hanya 1 tahun, dan orang-orang sudah menganggap bahwa aku adalah contoh istri yang membangkang.
Tak banyak yang tahu mengapa aku bercerai, karena memang aku tak ingin orang lain tahu apa yang harus aku hadapi selama pernikahanku. Salah satu alasan aku juga tak mengungkap semuanya adalah karena itu adalah salah satu syarat dari mantan suamiku untuk bisa bercerai. Dia minta padaku untuk tak mengatakan segalanya.
tok tok, mantan suamiku mengetuk meja dan menyadarkanku dari lamunan
“hey, kamu ngak apa-apa” ucapnya sambil mencoba meraih pundakku
“silahkan duduk!” ucapkan sambil menghindari tanganya
“apa yang ingin kamu katakan” ucapku lagi tanpa berbasa basi
“aku tak menyangka kita akan berakhir seperti ini” ucapnya sambil tersenyum kepadaku
“ini sudah kesepakatan kita, jadi jangan berbasa basi jadi katakan apa yang ingin kamu bicarakan” ujarku tegas
“Mari kita rujuk!” ucapnya tanpa basa basi lagi
Apa yang sebenarnya di pikirkan manusia satu ini, sidang perceraian baru saja berakhir kemari dan dia mau mengajak rujuk hari ini. Sepertinya kepala dia memang terluka cukup parah jadi dia semakin tidak tau malu. Setalah apa yang aku lewati dan dia minta rujuk.
“HAHAHA” aku tertawa cukup keras sehingga membuat orang yang ada di cafe melihat kami
“sepertinya kepalamu terluka cukup parah sehingga tak punya rasa tahu malu lagi” ujarku setelah tertawa
“apa salahnya, kita masih saling mencintai Mira” ucapnya serius
“saling mencintai? jangan buat aku tertawa. Kamu hanya mencintai dirimu sendiri.”
Aku berdiri dan hendak beranjak pergi. Aku harus pergi sebelum batas kesabaran ku benar-benar habis menghadapi orang yang tak tahu malu ini.
“tunggu, Mira. Aku belum selesai bicara” ucapnya sambil mencengkram tanganku
“ngak ada yang perlu kita bicarakan lagi” aku menatapnya dengan marah dan menghempaskan tanganya.
**