Amira berjalan menyusuri koridor dan keluar dari ruang persidangan ditemani oleh abang kandungnya serta tetangga yang menjadi saksi di sidang kedua perceraiannya. Yap, hari ini adalah keputusan dari sidang yang sudah diajukan kurang lebih 1 bulan yang lalu. Amira sengaja meminta mantan suaminya untuk tidak datang agar jalan persidangan lebih mudah dan tak memberatkan bagi keduanya.
Sampai parkiran Amira mempersilahkan kedua abangnya untuk pulang terlebih dahulu karena dia akan pergi keluar untuk bertemu seorang teman, namun sebenarnya itu hanya sebuah alasan, Amira merasa enggan pulang kerumah dihari yang cerah ini. Dia ingin melakukan hobi favoritnya semasa depresi karena harus digantung oleh mantan suami, hobinya sederhana, dia hanya ingin berkeliling kota menggunakan sepeda motornya dan berjalan tanpa tentu arah.
Amira mengendarai motornya tak tentu arah, sudah jadi kebiasaan Amira ketika melakukan selftalk selalu sambil berkeliling mengendarai motornya. Itu benar-benar membantunya untuk berfikir lebih jernih dan mencari jawaban dari pertanyaan yang banyak di dalam kepalanya. Saat sedang asik dengan pikirnya, tiba-tiba terdengar dering telepon di dalam tasnya. Amira berhenti sejenak dan mengangkat telepon yang terus berdering itu.
“Assalamualaikum, Mira, hiks” salam orang diujung telepon
“Waalaikumsalam, May, ada apa?” jawab Amira khawatir.
“hiks, hiks, kamu dimana? Aku mau cerai” ucap Maya dengan tersedu
“Astagfirullah, kenapa? Coba cerita dengan tenang” tanyaku sambil menenangkan Maya yang ada di ujung telpon.
“kamu tunggu ya, aku ke rumahmu sekarang!” ucapku buru-buru sambil menutup telfon
Amira memacu kendaraannya berbalik arah dan mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Dia tak pernah mendengar suara tangis yang seperti itu dari seorang Maya yang merupakan temannya sejak SMP. Maya adalah wanita yang ceria dan tak pernah menunjukan sisi lemahnya.
Selama Amira menghadapi masa depresi sebelum menuju perceraian, orang yang banyak menemaninya adalah Maya. Jadi ketika sahabatnya itu mengucapkan dirinya akan bercerai entah mengapa hatiku ikut hancur. Aku tak bisa membiarkan sahabatku melewati hal yang buruk seperti apa yang dialami oleh dirinya.
Selama 9 bulan harus melewati masa dipandang sebagai istri pembangkang karena tiba-tiba pulang kembali kerumah keluargaku. Dicap buruk karena harus bekerja sampai malam karena harus mencari nafkah dan membiayai sidang perceraian sendirian karena mantan suamiku merasa bahwa itu bukan tanggung jawabnya dan berkata bahwa ingin menggantung statusku diatas pernikahan yang tak bisa dipertahankan.
Sepanjang jalan menuju rumah Maya, segala skenario buruk sudah terbayangkan di kepalaku saat ini. Apa yang terjadi? Kenapa Maya tiba-tiba bersikap seperti itu? ada apa sebenarnya. Aku terus berdoa segalanya akan baik-baik saja.
Kurang lebih 15 menit waktu yang aku butuhkan untuk sampai di rumah Maya. Aku sampai di rumah bercat warna putih dengan halaman samping kiri dan kanan terlihat berantakan karena ilalang yang tinggi dan hampir menyamai tinggi rumahnya. Aku lihat kanan kiri rumah juga punya jarak yang jauh dari tetangga. Meski rumah tetangga disini jauh tapi aku tau bahwa sepertinya banyak mata yang diam-diam mengintip dari dalam rumah.
Aku bergegas masuk kedalam rumah yang terbuka lebar tersebut dan mengucapkan salam. Untuk beberapa saat aku tak mendengar suara sahutan dari dalam, lalu aku memberanikan diri untuk masuk lebih dalam. Saat masuk, tak aku temukan siapapun ada di ruang tamu lalu aku berjalan kearah dapur dan aku temukan sosok yang sejak tadi ingin aku cari.
Sosok tersebut hanya termenung di meja makan yang terletak tak jauh dari pintu masuk dapur. Tatapannya jauh dan kosong melihat ke area perkarangan belakang rumah yang terlihat sudah tak terawat. Aku tertegun sejenak melihat pemandangan yang tak biasa ini, karena memang sudah lama aku tidak berkunjung kesini.
“May….” panggilku pelan sambil meraih pundaknya
lalu Maya menoleh sambil tersenyum
“Kamu gak apa-apa kan?” tanyaku lebih lanjut
Maya meraih tangan ku lalu seketika berdiri dan memeluk tubuhku sambil menangis sesenggukan. Aku terkesima karena tak pernah membayangkan bahwa Maya akan berada di situasi yang seperti ini. Aku tepuk pelan pundaknya untuk sekedar menangkan dirinya, seraya aku berkata.
“ngak apa-apa, semua akan baik-baik saja”.
**