Mereka punya satu hari. Dan satu hari, Senja tahu, bisa jadi cukup—atau tidak sama sekali—tergantung bagaimana digunakan.
Sejak fajar, Redemption menjadi sarang aktivitas tersembunyi. Tidak ada yang berani melakukannya terang-terangan, karena mata-mata Morrow bisa di mana saja. Tetapi di balik dinding dan di lorong-lorong, kota itu bersiap untuk perang.
Senja mengambil alih komando dengan ketenangan seorang yang sudah melakukan ini sebelumnya. Ia berjalan menyusuri jalan utama, mempelajari setiap sudut, setiap atap, setiap celah, seperti pemain catur membaca papan.
"Jalan ini koridor kematian," gumamnya pada Brennan, yang mengikutinya dengan senapan tua di tangan dan kepala yang lebih jernih daripada bertahun-tahun terakhir. "Kalau mereka datang dari utara—dan mereka akan datang dari utara—mereka harus lewat sini untuk mencapai pusat kota. Kita buat mereka membayar setiap langkahnya."
Mereka memasang rintangan: gerobak yang dibalik, tong-tong, papan kayu, apa pun yang bisa memperlambat penunggang kuda dan memaksa mereka turun. Senja menempatkan para penembak terbaik—yang tidak banyak—di atap dan jendela lantai dua, posisi tinggi yang memberi keuntungan.
Hollis bekerja di belakang rumah minum, mencampur bubuk mesiu dengan minyak lampu dalam botol-botol wiski kosong. "Lempar dan nyalakan," jelasnya pada beberapa lelaki muda. "Tidak akan menang perang sendirian, tapi cukup untuk bikin kuda panik dan orang berlari."
Eli, meskipun dilarang ibunya, terus muncul, membawa air dan amunisi dari satu posisi ke posisi lain, kakinya kecil tetapi cepat. Senja akhirnya menyerah melarangnya, tetapi memberinya satu perintah keras. "Saat tembakan pertama, kau masuk ke ruang bawah tanah gereja dan tidak keluar. Mengerti? Itu tugasmu. Tugas paling penting: tetap hidup."
Eli mengangguk, walau matanya menunjukkan ia ingin lebih.
Menjelang sore, ketika sebagian besar persiapan selesai, Senja menemukan dirinya berdiri sendiri di beranda rumah minum, membersihkan revolvernya sekali lagi. Martha datang membawa air dan duduk di sampingnya.
"Kenapa Tuan melakukan ini?" tanyanya pelan. "Tuan bisa pergi. Tidak ada yang menahan. Ini bukan kota Tuan. Kami bukan siapa-siapa bagi Tuan."
Senja menggosok laras pistolnya dengan kain. Lama ia diam, lalu bicara. "Dulu ada sebuah kota. Mirip kota ini. Aku lewat, seperti aku lewat di sini. Orang-orang minta tolong, seperti kalian. Dan aku..." Tangannya berhenti. "Aku memilih untuk lewat. Aku bilang pada diriku sendiri itu bukan urusanku. Aku naik kuda dan pergi."
Ia menatap padang gersang di kejauhan. "Tiga hari kemudian, aku dengar kabar. Bandit yang menguasai kota itu membakar semuanya. Tidak ada yang selamat. Tidak ada perempuan, tidak ada anak-anak. Karena mereka berani minta tolong, dan tidak ada yang datang." Suaranya hampir tidak terdengar. "Aku tidak datang. Aku memilih untuk lewat. Dan aku membawa wajah-wajah itu sejak saat itu."
Martha menatapnya, mata berkaca-kaca. "Jadi ini bukan tentang kami."
"Ini tentang kalian," kata Senja. "Tapi juga tentang aku. Aku terlalu lama melarikan diri dari satu pilihan yang salah. Hari ini, aku berhenti lari."
Mereka duduk dalam keheningan ketika matahari mulai turun, mewarnai langit dengan warna tembaga dan darah yang sama seperti hari pertama Senja tiba. Di kejauhan, di utara, sebuah awan debu mulai terbentuk.
Itu bukan badai.
Itu kuda. Banyak kuda.
Senja berdiri, menyarungkan revolvernya, dan menatap awan debu yang mendekat. "Mereka tidak menunggu sampai besok," katanya pelan.
Brennan muncul di sampingnya, mengokang senapannya. "Morrow tidak pernah main jujur."
"Tidak," kata Senja. "Tapi mulai sekarang, kita tidak main bertahan." Ia menatap kota di belakangnya, orang-orang yang mengintip dari posisi mereka, ketakutan dan tekad bercampur di wajah mereka. "Posisi! Mereka datang! Ingat—jangan tembak sampai aba-abaku!"
Lonceng gereja, yang sudah lama bisu, tiba-tiba berdentang. Pastor Amos menariknya, memanggil seluruh kota untuk bersiap. Suaranya bergema di padang gersang seperti tantangan.
Dan di utara, awan debu semakin dekat, membawa serta tiga puluh penunggang dan akhir dari segala sesuatu.