Kabar tentang ultimatum Morrow menyebar ke seluruh kota dalam hitungan jam. Dan dengan kabar itu datang ketakutan yang lebih besar daripada sebelumnya, karena kali ini penduduk tahu mereka terjebak di tengah—antara seorang penembak yang mungkin membawa harapan, dan tirani yang pasti membawa kematian.
Malam itu, mereka berkumpul diam-diam di gereja tua di ujung kota, satu-satunya tempat yang dirasa cukup aman. Pendeta tua bernama Pastor Amos memimpin, lampu minyak menerangi wajah-wajah lelah dan takut. Hollis ada di sana. Brennan, sang mantan sheriff, duduk di belakang, setengah mabuk tetapi hadir. Perempuan muda yang diselamatkan Senja—namanya Martha—duduk dengan Eli di sampingnya. Dan ada sekitar dua puluh penduduk lain.
Senja berdiri di depan, di bawah salib kayu, merasa lebih asing dari sebelumnya.
"Kalian semua tahu kenapa kita di sini," kata Pastor Amos. "Morrow memberi ultimatum. Besok, saat matahari terbenam, semuanya akan diputuskan. Pertanyaannya adalah—apa yang akan kita lakukan?"
Keheningan yang berat. Lalu seorang lelaki tua berdiri, marah. "Apa yang bisa kita lakukan? Ini semua salahnya!" Ia menunjuk Senja. "Sebelum dia datang, kita memang menderita, tapi kita hidup! Sekarang Morrow akan membakar kota ini sampai rata!"
Gumaman setuju terdengar dari beberapa sudut. Senja tidak membela diri. Ia hanya berdiri diam, menerima tuduhan itu.
"Tidak," suara Martha tiba-tiba memecah. Ia berdiri, menggendong tangan Eli. "Kita tidak hidup. Kita cuma bernapas. Suamiku mati karena melawan, dan selama dua tahun aku mengajari anakku untuk menunduk, untuk diam, untuk menerima setiap penghinaan agar tetap aman. Dan apa yang kudapat? Anak buah Morrow tetap menyeret aku dari rambut di tengah jalan. Tetap menendang keranjang telur anakku setiap pagi untuk hiburan." Suaranya bergetar, tetapi keras. "Aman? Tidak ada yang namanya aman di bawah orang seperti Morrow. Yang ada hanya menunggu giliran."
Kata-katanya menggantung di udara gereja. Eli menggenggam tangan ibunya, menatapnya dengan bangga.
Lalu, mengejutkan semua orang, Brennan berdiri dari belakang. Ia berjalan ke depan dengan langkah tidak stabil, tetapi matanya—untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama—jernih. Ia mencabut bintang sheriff yang kusam dari dadanya dan menatapnya.
"Dua tahun lalu, aku berdiri diam ketika mereka membunuh wakilku," katanya, suaranya serak. "Setiap malam sejak itu, aku melihat wajahnya. Aku menenggelamkan diri dalam botol agar tidak melihatnya." Ia menggosok bintang itu dengan ibu jari, membersihkan sebagian debu. "Aku terlalu tua dan terlalu pengecut untuk menebus itu. Tapi mungkin aku masih cukup untuk satu hal terakhir." Ia menatap Senja. "Kalau kau bertahan, Orang Asing, aku berdiri di sampingmu. Sekali ini. Aku lebih suka mati sebagai sheriff daripada hidup sebagai bangkai."
Sesuatu bergeser di ruangan itu. Ketakutan masih ada, tebal di udara, tetapi sekarang ada hal lain bercampur di dalamnya. Sesuatu yang nyaris terlupakan oleh Redemption.
Harapan.
Hollis berdiri. "Aku bukan penembak. Tapi aku punya rumah minum penuh botol, dan aku tahu cara membuat sesuatu yang meledak." Ia tersenyum tipis. "Aku ikut."
Satu per satu, beberapa lelaki berdiri. Tidak semua. Banyak yang tetap duduk, ketakutan terlalu dalam, dan Senja tidak menyalahkan mereka. Tetapi ada delapan, sembilan orang yang berdiri.
Senja menatap mereka semua. Lalu ia bicara, untuk pertama kalinya, suaranya rendah tetapi jelas. "Aku tidak bisa menjanjikan kalian akan menang. Aku tidak bisa menjanjikan kalian akan hidup. Yang bisa kujanjikan cuma ini: kalau kalian berdiri besok, kalian berdiri sebagai manusia. Dan apa pun yang terjadi, tidak ada lagi yang akan menyeret istri kalian dari rambut, atau menendang telur anak kalian, tanpa membayar harganya."
Ia menatap revolver di pinggangnya. "Besok, kita ajari Morrow harga sebuah kota."