Ada satu kebenaran yang Brennan pelajari di dasar botol selama dua tahun: rasa bersalah tidak bisa ditenggak sampai habis. Semakin kau menelannya, semakin penuh ia. Hanya ada satu cara mengosongkannya, dan itu bukan dengan diam.
Pagi setelah Ngarai Mata Ular, ketika Senja masih duduk membisu menghadap padang, Brennan-lah yang berdiri lebih dulu. Ia menggosok bintang kusam di dadanya dengan ujung lengan baju—gerakan yang ia ulangi tanpa sadar sejak malam ia mencabutnya kembali dari laci—lalu menatap reruntuhan Redemption yang menghitam di kejauhan, di balik bukit kuburan.
"Kota itu masih milik kita," katanya pada siapa pun yang mendengar. "Kita cuma lupa mengklaimnya."
Senja mengangkat kepala. "Morrow tidak menjaga Redemption. Tidak ada gunanya menjaga abu."
"Justru itu." Brennan menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam ingatan Senja, mata tua itu jernih—tidak oleh wiski, tetapi oleh sesuatu yang sudah lama hilang. Tekad. "Orang-orang kita tercerai-berai di misi belakang bukit, di gua, di dusun-dusun yang menampung. Mereka pikir mereka pengungsi. Mereka pikir rumah mereka hilang. Selama mereka pikir begitu, Morrow menang tanpa mengangkat pistol. Tapi kalau ada satu tempat—satu tempat saja—di mana bendera kita berkibar lagi..." Ia tak menyelesaikannya. Ia tak perlu.
Maka mereka pulang ke Redemption.
Bukan dengan pasukan menyerbu, tetapi dengan gerobak, palu, dan paku. Brennan memimpin tiga puluh penduduk—orang tua, perempuan, anak-anak, dan belasan penambak bebas—menyusuri jalur belakang bukit kuburan, melewati nisan-nisan kasar tempat mereka mengubur yang gugur, dan turun ke jalan utama yang menghitam.
Yang tersisa dari kota itu menyayat hati. Setengah bangunan tinggal kerangka arang. The Last Drop berdiri setengah, atapnya runtuh di satu sisi. Tetapi kantor sheriff dari batu—satu-satunya bangunan yang dibangun untuk bertahan—masih tegak, hangus tetapi utuh, jeruji jendelanya menghitam tetapi tak patah.
Brennan berhenti di depannya. Penduduk menunggu di belakangnya, ragu, setengah menanti perintah Senja yang berdiri di pinggir, sengaja diam, membiarkan momen ini menjadi milik orang lain.
Lelaki tua itu mendorong pintu batu yang berderit. Di dalam, debu dan jelaga, sebuah meja terbalik, botol-botol kosong dari kehidupan lamanya masih berserakan di lantai—saksi bisu pengecut yang dulu menghuni ruangan ini. Brennan menatapnya lama. Lalu, satu per satu, ia memungut botol-botol itu dan melemparkannya keluar pintu, ke jalan, di mana mereka pecah berkeping di debu.
"Ini," katanya, suaranya bergetar tetapi keras, "adalah kantor sheriff Redemption. Selama batu ini berdiri, ada hukum di kota ini. Bukan hukum Morrow. Bukan hukum marshal yang dibeli. Hukum kita."
Ia mengambil paku dan palu dari Hollis, lalu memaku papan kayu yang sudah ia ukir sendiri di gua semalam ke atas pintu batu: KANTOR SHERIFF. Setiap pukulan palu menggema di jalan yang sunyi, dan setiap gema membuat punggung penduduk sedikit lebih tegak.
Lalu ia melakukan hal yang membuat Eli menangis tanpa malu. Brennan melepas bintang kusam dari dadanya, menggosoknya dengan ludah dan lengan baju sampai logam tua itu menangkap cahaya pagi—pertama kalinya dalam tiga tahun ia bersinar—dan menyematkannya kembali, lurus, tinggi, di atas jantungnya.
"Untuk Dan," katanya pelan, hanya untuk dirinya sendiri dan untuk seorang wakil yang ditembak di depan istri dan anaknya bertahun lalu, di jalan yang sama tempat ia kini berdiri. "Maaf aku terlambat."
Senja menyaksikan dari ambang pintu yang gosong, dan untuk pertama kalinya sejak Ngarai Mata Ular, sesuatu yang menyerupai damai melintas di matanya. Ia datang ke kota ini sebagai orang asing yang ingin lewat. Ia tidak menyelamatkan Redemption. Ia hanya mengingatkan Redemption bahwa ia layak diselamatkan—dan kini orang lain yang melakukan penyelamatan itu.
Di belakang gereja yang setengah terbakar, lonceng tua tergantung diam. Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak kota jatuh, ada lampu yang menyala lagi di jendela kantor sheriff—dan di Tanah Gersang, satu lampu di kegelapan adalah pernyataan perang yang lebih keras dari seribu tembakan.