Kemenangan, Senja tahu dari pengalaman pahit, adalah racun yang paling manis. Ia membuatmu lupa bahwa setiap orang yang menunggang di belakangmu bernapas, dan setiap napas bisa berhenti.
Tiga minggu beruntun mereka menang. Satu gudang pasok Morrow di sebelah barat dibakar. Satu konvoi kecil dicegat dan dirampas tanpa korban di pihak mereka. Satu sumur yang dikunci dibuka kembali untuk dusun penggembala di Lembah Kering. Orang-orang yang dulu menunduk kini menatap Senja seperti orang menatap fajar setelah malam panjang. Dan di mata-mata yang menyala itulah letak bahayanya.
"Ada konvoi perak kecil lewat Ngarai Mata Ular besok malam," kata seorang bekas penambak bernama Tomas, salah satu dari belasan yang bergabung setelah pembebasan sumur. Ia masih muda, lengannya kekar oleh kerja tambang, dan matanya berkilat oleh keberanian yang belum diuji. "Penjaganya cuma enam. Kita berdua belas. Kita bisa rampas sebelum mereka sempat menarik pelatuk."
Senja mempelajari peta kasar yang digores Del Okonkwo di atas pasir. Sesuatu terasa salah, tetapi ia tak bisa menamainya. "Enam penjaga untuk perak Morrow," katanya pelan. "Morrow tidak pernah kikir soal penjaga. Tidak setelah konvoi terakhir kita rampas."
"Mungkin dia kehabisan orang," kata Tomas penuh semangat. "Mungkin kita sudah membuatnya takut, seperti kata si jurnalis."
Ros, berjongkok di tepi cahaya api, menggeleng pelan. "Atau mungkin dia ingin kau berpikir begitu." Tetapi suaranya tenggelam oleh gairah anak-anak muda di sekeliling api. Mereka sudah mencium kemenangan. Mereka lapar akan satu lagi.
Senja seharusnya menolak. Bertahun-tahun kemudian ia akan kembali ke malam ini dalam pikirannya dan menghitung semua cara ia bisa berkata tidak. Tetapi ia melihat wajah-wajah itu—wajah orang yang baru pertama kali dalam hidup merasa bahwa mereka bukan ternak yang menunggu disembelih—dan ia tak tega memadamkannya. Maka ia berkata, "Kita intai dulu. Kalau ada yang ganjil, kita mundur. Tanpa kecuali."
Tetapi di Ngarai Mata Ular, malam berikutnya, ganjil itu datang terlambat untuk dilihat.
Konvoi muncul tepat seperti yang dikatakan—enam penjaga, gerobak tertutup terpal. Senja memberi isyarat dari atas tebing. Tomas dan empat penambak bergerak turun untuk memotong dari depan. Dan saat gerobak berhenti di titik tersempit ngarai, terpal itu disibakkan dari dalam.
Bukan perak di bawah terpal. Tetapi delapan penembak Morrow dengan senapan terkokang, menunggu dalam gelap.
"JEBAKAN!" teriak Senja, sudah menembak sebelum kata itu selesai. Dua penembak di gerobak tumbang. Tetapi tebing di seberang, yang mereka kira kosong, meletus oleh kilatan moncong. Morrow telah menempatkan orang di kedua sisi. Mereka tidak menjebak satu konvoi. Mereka menjebak harapan.
Ros menarik Senja ke balik batu saat peluru memercik debu di tempat kepalanya tadi. Di bawah, di lantai ngarai, Senja melihat Tomas berlari ke arah seorang penambak muda yang tertembak kakinya, menyeretnya ke perlindungan—lalu punggung Tomas tersentak, sekali, dua kali, dan ia jatuh menelungkup di pasir yang dingin.
Mereka berhasil mundur. Mereka selalu berhasil mundur. Tetapi pelana Tomas pulang kosong, terikat di belakang kudanya yang dituntun, dan dua pelana lain juga kosong di belakangnya.
Di perkemahan, tidak ada yang bicara. Del menghitung yang kembali dengan jari yang gemetar, lalu menghitung lagi, seakan hitungan kedua akan mengubah jawabannya. Sembilan pergi dari ngarai itu untuk hidup. Hanya enam pulang.
Senja duduk sendiri di tepi perkemahan, menghadap padang gelap, revolver bergagang 'E' di pangkuannya. Ia tidak membersihkannya malam itu. Ia hanya memegangnya, merasakan ukiran aus di bawah ibu jarinya.
"Bukan salahmu," kata Brennan, datang dengan langkah pincang sisa luka lamanya, duduk di sampingnya dengan susah payah. "Kau bilang mundur kalau ada yang ganjil. Tidak ada yang ganjil sampai terlambat."
"Aku yang membawa mereka," kata Senja. Suaranya rata, dan justru karena rata itulah terdengar paling pahit. "Aku tahu rasanya menang terlalu sering, Brennan. Itu yang dulu membunuhku sebagai manusia. Aku menjadi terlalu yakin tangan ini tak bisa salah. Dan setiap kali aku terlalu yakin, orang lain yang membayar."
Brennan tidak menjawab. Di langit timur, bintang-bintang dingin tergantung tak peduli, dan di belakang mereka, tiga pelana kosong menggantung di pelana kuda seperti tiga lonceng bisu yang tak akan pernah berbunyi lagi.