Di rumah besar di utara, Augustus Morrow menyesap anggur merah dan tidak marah.
Itu yang membuat orang-orangnya gugup. Bandit kasar yang melayaninya tahu cara membaca amarah — teriakan, pukulan, perintah membunuh. Tapi Morrow tidak pernah berteriak. Ia duduk di kursi kulitnya menghadap jendela kaca yang memandang ke tambang dan gurun yang membentang ke selatan, memutar anggur dalam gelas kristal, dan tersenyum tipis seakan dunia adalah lelucon yang hanya ia mengerti.
Di mejanya tersebar laporan. Jembatan Ngarai Buck: hancur. Gudang Crowfoot: kosong. Pos Air Mile Forty: tersumbat. Konvoi perak Maret: terlambat sebelas hari, nilai pasar turun sembilan persen. Tambang Lembah Sutter: hilang, empat puluh aset tenaga kerja menguap. Bendungan Ngarai Kering: terbuka, monopoli air pecah. Marshal Tate: dipermalukan di depan umum, kredibilitas hukum tergerus. Dan tulisan-tulisan perempuan jurnalis itu, Vance, yang kini muncul di koran sejauh St. Louis, mengubah Augustus Morrow dari raja perak yang dihormati menjadi nama yang diludahi.
Caleb berdiri di pintu, mantel hitamnya berdebu dari Crestline, menunggu murka yang tak datang.
"Kau membakar Crestline," kata Morrow akhirnya, tanpa berbalik. Bukan pertanyaan.
"Seperti perintahmu."
"Hm." Morrow menyesap. "Dan apakah kakakmu berhenti?"
Caleb tidak menjawab. Itu jawabannya.
Morrow tersenyum ke jendela. "Tentu tidak. Karena aku salah memperlakukannya, dan aku tidak suka mengakui kesalahan, jadi aku akan mengakuinya hanya kepada anggur ini." Ia mengangkat gelasnya sedikit. "Aku memperlakukan ini seperti perang melawan seorang penembak. Seseorang yang bisa kuburu, kutakut-takuti, kupojokkan. Tapi dia tidak lagi seorang penembak. Dia telah menjadi sebuah gagasan. Dan kau tidak bisa menembak gagasan, Caleb. Kau tahu itu lebih baik dari siapa pun."
Ia berbalik akhirnya, dan matanya — tenang, cerdas, sama sekali tanpa amarah — adalah hal yang paling mengerikan di ruangan itu.
"Membakar kota membuatku merasa lebih baik, tapi itu strategi orang bodoh. Setiap kota yang kubakar melahirkan sepuluh perekrut untuknya. Setiap penambak yang dia bebaskan menjadi peluru yang ditembakkan kembali padaku. Aku telah bermain papan yang terlalu kecil." Ia berjalan ke peta teritori yang tergantung di dinding, menyusuri batas-batasnya dengan jari pucat. "Jadi aku akan memperbesar papannya."
"Bagaimana?" tanya Caleb.
"Dengan berhenti bermain melawan satu koboi, dan mulai bermain melawan masa depan." Morrow mengetuk peta di tempat garis tipis melintasi gurun — jalur rel yang direncanakan. "Pemodal rel dari timur datang minggu depan. Tuan Ashworth. Ia ingin membangun jalur kereta melintasi Tanah Gersang, dan untuk itu ia butuh tanah, air, dan kedamaian. Aku bisa memberinya ketiganya — atau setidaknya, aku bisa berjanji. Sebagai gantinya, ia memberiku sesuatu yang tak bisa diberikan seribu pistol: legitimasi. Modal. Politikus teritori di kantongnya. Senator, bahkan."
Ia berbalik, dan senyumnya melebar tipis.
"Kakakmu berperang dengan pistol dan jurnalis dan kota-kota petani. Romantis sekali. Mulia." Ia menyesap anggurnya sampai habis. "Tapi aku akan berperang dengan rel baja, uang bank timur, dan tinta seorang senator. Saat keretaku datang, tak akan ada koalisi kota kecil yang bisa menghentikannya. Dan koboi-mu yang mulia itu akan ditembak sebagai perampok rel oleh tentara federal, bukan oleh anak buahku, dengan hukum federal di punggung mereka. Bukan aku yang akan membunuhnya. Amerika sendiri yang akan melakukannya."
Caleb berdiri diam. Di suatu tempat di dalam dirinya, di tempat yang ia kira sudah mati dua belas tahun lalu di Sungai Coyote, sesuatu bergerak — keraguan tipis, dingin, yang tak ingin ia rasakan. Ia memikirkan momen di standoff Redemption ketika kakaknya membidik pistolnya, bukan jantungnya. Ia memikirkan bagaimana ia sendiri ragu sepersekian detik, dan benci pada keraguan itu.
Morrow melihatnya. Morrow selalu melihat.
"Kau masih memikirkannya," kata sang raja perak pelan, hampir lembut, seperti racun yang manis. "Adik yang baik tidak boleh memikirkan kakak yang membuangnya berdarah-darah di sungai. Ingat siapa yang menemukanmu, Caleb. Ingat siapa yang merawatmu kembali utuh saat kakakmu telah mengubur 'jasadmu' dan berjalan pergi tanpa menoleh. Ingat siapa yang memberimu nama, tujuan, kuasa." Ia menuang anggur lagi. "Dan ingat: gagasan bisa mati. Yang dibutuhkan hanya membunuh orang-orang yang mempercayainya, satu per satu, sampai gagasan itu sendirian dan kedinginan dan akhirnya, juga, mati."
Caleb membungkuk dan keluar. Tapi di lorong yang gelap, ia berhenti, dan menyentuh bekas luka di pipi kirinya, dan untuk waktu yang lama tidak bergerak sama sekali.
Di belakangnya, di ruang yang berbau anggur dan asap cerutu, Augustus Morrow menatap ke selatan dan mulai menyusun papan yang lebih besar, sabar seperti racun yang menetes setetes demi setetes ke dalam sumur.