Tambang cabang di Lembah Sutter lebih kecil dari tambang utara, dan itu yang membuatnya menjadi sasaran pertama. Del telah memetakannya sampai ke setiap rantai: empat puluh penambak ditahan, dua belas penjaga, satu mandor bernama Sloane yang konon menggunakan cambuk berkuda pada anak-anak yang bekerja terlalu lambat.
Mereka menyerang saat pergantian giliran fajar, ketika penjaga malam lelah dan penjaga siang belum sepenuhnya bangun.
Ros dan dua penembak penduduk melumpuhkan menara pengawas dalam diam, busur dan pisau menggantikan pistol agar tak ada peringatan. Senja, Brennan, dan Tobias — yang bersikeras ikut karena adiknya mungkin di sini — menyerbu barak penjaga. Tembakan pertama membangunkan lembah. Dalam delapan menit yang panjang dan berdarah, pertahanan tambang runtuh. Mandor Sloane mencoba lari ke arah kudanya dengan kantong perak di tangan; Ros menembak kaki kudanya dari jauh, dan Sloane terjatuh, dan saat ia berbalik mengangkat pistol, ia tidak cukup cepat.
Lalu datang bagian yang tak pernah dilatih Senja untuk dihadapi.
Mereka membuka barak para penambak, dan di dalam kegelapan yang bau keringat, penyakit, dan rantai berkarat, wajah-wajah menatap mereka. Lelaki yang punggungnya bengkok permanen dari terowongan rendah. Anak laki-laki — banyak anak laki-laki — dengan mata terlalu tua untuk tubuh mereka. Seorang lelaki tua yang buta karena debu perak. Tangan-tangan kurus terangkat menutupi mata dari cahaya fajar yang menyakitkan, karena mereka tak melihat matahari berbulan-bulan.
Senja berdiri diam di ambang pintu, dan untuk sesaat ia tak bisa bergerak. Ia telah melihat banyak kekejaman dalam hidupnya. Ia telah melakukan sebagian darinya. Tapi ini — pabrik penderitaan yang dijalankan dengan tenang oleh seorang lelaki yang menyesap anggur merah di rumah besar berjarak dua hari berkuda, yang mencatat orang-orang ini dalam buku besar sebagai aset yang dapat disusutkan — ini menanam sesuatu yang dingin dan keras di dadanya.
"Kalian bebas," katanya, dan suaranya tercekat. Ia membersihkan tenggorokannya dan mengulanginya lebih keras, agar setiap orang dengar. "Kalian bebas. Rantai ini lepas hari ini dan tidak akan pernah dipasang lagi."
Tobias menemukan adiknya di antara mereka — kurus, pucat, hampir tak dikenali, tapi hidup. Mereka berpelukan dan menangis di lumpur, dan Senja harus berpaling karena pemandangan itu terlalu banyak.
Banyak penambak hanya ingin pulang, dan mereka dilepas dengan air, makanan dari gudang Sloane, dan jalan menuju kota terdekat. Tapi banyak yang lain — lelaki yang keluarganya telah dibunuh, anak-anak yang tak punya rumah untuk dituju, orang-orang yang dendamnya telah ditempa di kegelapan selama bertahun-tahun — mereka mengambil pistol dari penjaga yang mati dan menatap Senja dengan mata yang berkata satu hal: tunjukkan kami ke mana harus menembak.
Pasukan rakyat itu tumbuh empat puluh orang dalam satu pagi.
Tapi kemenangan, Senja belajar lagi, tidak pernah datang tanpa tagihan.
Mereka belum sehari berkuda pulang ketika seorang penunggang dari Dryfork mengejar mereka, kudanya berbusa, wajahnya abu-abu. Morrow telah membalas. Tidak di Lembah Sutter — di Crestline, sebuah kota kecil yang tak punya hubungan dengan serangan itu sama sekali, sebuah kota yang baru saja berani menunda pembayaran "pajak" Morrow. Caleb dan tiga puluh penunggang telah datang saat fajar, dan saat mereka pergi, Crestline tidak lagi ada. Mereka membakarnya sampai ke tanah, dan menggantung kepala desanya di papan nama kota dengan tulisan di dada: *INI HARGA SETIAP PENAMBAK YANG DICURI.*
Senja menerima berita itu dalam diam yang mengerikan. Para penambak yang baru dibebaskan menundukkan kepala, beberapa menangis, karena mereka mengerti — kebebasan mereka telah dibayar dengan darah orang asing.
"Dia ingin kita berhenti," kata Brennan pelan. "Dia ingin kita merasa setiap orang yang kita selamatkan membunuh sepuluh yang lain."
Senja menatap ke utara, ke langit yang mulai membara tembaga, lalu ke arah Crestline yang asapnya konon masih terlihat dari punggungan jauh.
"Aku tahu apa yang dia inginkan," kata Senja, dan suaranya sekeras batu tambang. "Tapi orang yang membakar kota karena takut bukan orang yang menang. Dia orang yang sudah mulai kalah, dan tahu itu." Ia menatap empat puluh wajah baru di belakangnya, lelaki dan anak-anak yang dulu rantai, kini bersenjata dan bebas. "Kita kubur yang mati di Crestline. Lalu kita lanjut. Karena satu-satunya cara membuat kematian mereka tidak sia-sia adalah dengan tidak berhenti."