Mereka berlatih di balik reruntuhan ranch tua saat matahari masih rendah, sebelum panas membuat besi pistol terlalu menyengat untuk dipegang. Senja telah menancapkan tujuh botol wiski kosong pemberian Hollis di atas pagar yang runtuh, masing-masing dengan jarak yang ia hitung sendiri.
Eli berdiri dengan kaki terlalu lebar, bahu terlalu tegang, pistol kecil berkaliber ringan terangkat dalam genggaman dua tangan yang masih terlalu kecil untuk senjata sungguhan. Anak itu telah tumbuh setengah jengkal sejak musim semi; suaranya kadang pecah. Tapi matanya — mata itu masih mata anak yang dulu menamai seorang asing "Senja" karena ia datang saat senja.
"Tarik napas," kata Senja, berdiri di belakangnya. "Buang setengah. Tahan sisanya. Pelatuk tidak ditarik. Pelatuk diremas, seperti kau meremas tangan teman yang takut."
Eli meremas. Letusan. Botol ketiga pecah berhamburan ke debu. Anak itu menoleh, wajahnya bersinar. "Kena! Senja, aku kena! Tiga dari tujuh hari ini—"
"Hadap ke depan." Suara Senja tidak keras, tapi Eli langsung berbalik. "Senjata yang dimuati tidak pernah jadi mainan, bahkan saat kau senang. Terutama saat kau senang."
Mereka melanjutkan sampai magasin kosong. Eli memecahkan lima botol. Dari teras reruntuhan, Martha menonton dengan tangan terlipat dan rahang yang mengeras, lalu masuk kembali tanpa kata. Senja melihatnya pergi dan menyimpan rasa itu di tempat ia menyimpan semua rasa.
Saat mereka membersihkan senjata di bawah naungan dinding yang runtuh, Eli berbicara dengan nada yang ia kira terdengar dewasa. "Kalau aku sudah cukup mahir, aku boleh ikut menyergap konvoi berikutnya, kan? Aku bisa menembak orang Morrow seperti kau menembak Calder. Dor. Dor. Dua peluru. Aku sudah lihat caranya—"
Senja meletakkan kain pembersih. Untuk waktu yang lama ia tidak bicara, dan keheningan itu lebih berat dari teguran. Lalu ia mengangkat revolver berukiran 'E', memutar selongsongnya pelan, dan menatap anak itu.
"Kau tahu apa itu penembak, Eli?"
Anak itu menyeringai. "Orang yang menembak cepat dan tepat. Seperti kau."
"Bukan." Senja menggeleng pelan. "Di buku-buku yang dijual di kota timur, penembak itu pahlawan dengan rahang persegi. Di kenyataan, penembak cuma orang yang sudah membunuh terlalu banyak orang sampai ia berhenti merasakannya. Itu bukan keahlian. Itu luka yang tak pernah sembuh. Setiap peluru yang kutembakkan menghantam dua orang — orang di ujung larasnya, dan orang yang menariknya. Yang kedua tidak pernah pulih sepenuhnya."
Eli menatapnya, seringainya pudar. "Tapi kau menembak orang-orang jahat."
"Ya. Dan setiap malam aku masih melihat wajah mereka." Senja menyarungkan revolvernya. "Aku mengajarimu menembak supaya kau bisa melindungi ibumu, melindungi Redemption, melindungi dirimu. Bukan supaya kau bisa membenci dengan lebih efisien. Hari kau menembak karena marah — bukan karena harus — adalah hari kau berhenti jadi muridku."
Kata-katanya menggema di rongga dadanya sendiri dengan ironi yang menyakitkan. Karena dulu — dua belas tahun lalu, di tempat yang tak ingin ia namai — ia pernah berdiri di posisi ini, mengajari seorang anak muda bermata cerdas cara meremas pelatuk. Anak muda itu bernama Caleb. Adiknya. Dan ia telah membentuknya jadi sesuatu yang kini berdiri di sisi Morrow dengan bekas luka di pipi kiri dan dendam di tempat seharusnya ada cinta.
Ia mengajari murid pertamanya menjadi senjata. Ia bersumpah, di reruntuhan berdebu itu, murid keduanya tidak akan jadi senjata yang sama.
"Eli," katanya. "Berjanjilah satu hal padaku."
Anak itu mengangguk, serius kini.
"Kalau suatu hari aku mati, dan kau memegang pistol di tanganmu, dan kau punya kesempatan untuk membunuh seseorang karena dendam — letakkan pistol itu. Dengar suaraku, dan letakkan. Karena dendam adalah jalan yang kuajarkan pada seseorang dulu, dan aku menyesalinya setiap senja sejak saat itu."
Eli tidak mengerti seluruhnya. Ia terlalu muda. Tapi ia mengangguk dengan kesungguhan seorang anak yang memuja gurunya, dan menyimpan janji itu di suatu tempat yang dalam.
Di kejauhan, langit mulai membara tembaga. Senja menatapnya, dan untuk sesaat ia melihat wajah Caleb muda yang tertawa di tepi Sungai Coyote, sebelum semuanya hancur. Ia memejamkan mata. Lalu ia mengajak muridnya yang baru masuk untuk makan, sebelum panas datang.