Bendungan Morrow berdiri di mulut Ngarai Kering seperti dinding penjara — beton kasar dan kayu balok setinggi enam orang dewasa, menahan air Sungai Coyote bagian hulu agar tak setetes pun turun ke kota-kota di bawah tanpa izin sang raja perak. Di bawahnya, dasar sungai yang dulu hidup kini cuma kerak retak dan tulang ternak. Senja berbaring di atas tebing merah saat fajar belum sepenuhnya pecah, teropong tua di matanya, menghitung penjaga.
"Delapan di pintu air," bisik Del Okonkwo di sampingnya. Tangannya yang dulu memegang buku jurnal kini memegang gulungan denah, jari-jarinya menunjuk. "Roda pengangkat ada di gubuk itu. Mereka mengunci katupnya dengan rantai dan gembok besi. Kuncinya dibawa mandor — namanya Pruitt. Babi gemuk yang suka cambuk."
"Dan kalau kita buka semuanya sekaligus?" tanya Quentin Ros, mengunyah sebatang rumput kering, matanya yang tua tak pernah berhenti menyapu cakrawala.
"Air sepuluh tahun yang tertahan," kata Del pelan. "Akan turun seperti tangan Tuhan yang marah. Cukup untuk mengairi Redemption, Dryfork, dan tiga kota lagi sampai musim hujan datang. Atau cukup untuk menenggelamkan siapa pun yang berdiri di dasar ngarai saat katup terbuka."
Senja menurunkan teropongnya. Langit di timur mulai berwarna tembaga muda. Ia memikirkan Eli, yang dua hari lalu menjilat bibirnya yang pecah-pecah karena jatah air persembunyian dipotong setengah. Ia memikirkan seorang petani tua di Dryfork yang menukar cincin kawin istrinya yang telah mati untuk seember air keruh.
"Hollis," panggilnya tanpa menoleh.
Lelaki gemuk botak itu merangkak naik, menyeret sekarung botol wiski berisi mesiu dan minyak. Keringat membasahi kerahnya meski udara masih dingin. "Aku tidak suka tinggi, Senja. Sudah kubilang."
"Kau tak perlu tinggi. Kau perlu pintu air itu lepas dari engselnya kalau Pruitt tak mau menyerahkan kunci." Senja berdiri, debu jatuh dari mantelnya. "Ros, Del, lewat saluran timur. Brennan dan penduduk menahan jalan setapak supaya tak ada bala bantuan turun dari pos atas. Aku ambil mandornya."
Mereka bergerak saat matahari menyembul. Senja menuruni tebing seperti bayangan yang tak punya bobot, revolver berukiran 'E' diam di pinggulnya. Penjaga pertama bahkan tak sempat berbalik. Yang kedua menarik senapan dan Senja menembak tangannya, bukan jantungnya — peluru menghantam tulang, senapan terpental, lelaki itu menjerit dan jatuh berlutut. Senja melangkahinya.
"Mati berdiri atau hidup berlutut," gumamnya, "tapi kau tak perlu mati hari ini."
Pruitt keluar dari gubuk roda dengan pistol di satu tangan dan cambuk di tangan lain, wajahnya merah seperti daging mentah. "Kau! Buronannya marshal—"
Tembakan pertamanya meleset karena tangannya gemetar. Senja tidak meleset. Pistol terlepas dari jemari Pruitt bersama dua jarinya. Mandor itu terhuyung ke dinding, terisak, dan Senja menarik rantai kunci dari lehernya yang berlemak.
Di atas tebing, Ros dan Del telah melumpuhkan penjaga saluran. Di jalan setapak, suara senapan tua Brennan menggelegar — "Untuk Dan!" — menahan tiga penunggang dari pos atas, memaksa mereka berbalik berdarah.
Senja memasukkan kunci ke gembok besar di tuas pengangkat. Logam berdecit. Ia menarik tuas dengan seluruh berat tubuhnya. Hollis ikut menarik, mengerang. Katup raksasa naik sejengkal, dua jengkal — lalu air datang.
Suaranya seperti guruh yang lahir dari perut bumi. Air keruh tua menderu turun ke dasar ngarai yang gersang, menyapu kerak retak, menelan tulang-tulang ternak, mengalir ke selatan menuju kota-kota yang haus. Pruitt yang terisak menatapnya seakan menatap akhir dunia. Bagi Senja, itu suara awal sesuatu.
Mereka berkuda pulang menyusuri tepi sungai yang lahir kembali. Di Dryfork, orang-orang berlari keluar rumah mendengar gemericik di selokan yang sudah kering bertahun-tahun. Seorang ibu menangis sambil mencelupkan tangan anaknya ke air. Petani tua itu berlutut di lumpur, tertawa dan menangis sekaligus.
Senja tak ikut turun. Ia menonton dari pelana, langit di atasnya berwarna tembaga matang.
"Morrow bisa membeli perak," katanya pada Brennan yang berkuda di sebelahnya, lengannya berdarah dari serempetan peluru tapi punggungnya tegak. "Dia bisa membeli marshal. Dia bisa membeli waktu. Tapi dia baru saja kehilangan dahaga rakyat. Itu senjatanya yang paling tajam."
Brennan menggosok bintang kusam di dadanya dengan ibu jari. "Dia tidak akan diam, kau tahu itu."
"Aku berharap dia tidak diam," kata Senja. "Orang yang marah membuat kesalahan."
Di kejauhan, lonceng gereja kecil Dryfork — yang sudah lama tak berbunyi — berdentang sekali, dua kali. Bukan tanda mundur. Tanda bahwa air, akhirnya, telah kembali untuk yang haus.