Mereka berkumpul di bukit kuburan saat senja, ketika langit Tanah Gersang berubah warna tembaga lalu perlahan menjadi merah seperti darah yang mengering. Di bawah, reruntuhan Redemption masih menghitam, deretan rumah arang yang dulu kota, kini cuma kerangka di tepi gurun.
Nisan-nisan kayu berderet di bukit itu. Beberapa baru — penduduk yang gugur malam kota terbakar. Salah satunya bertuliskan nama suami Martha, yang lebih dulu mati melawan Morrow. Eli berdiri di samping nisan ayahnya, topi terlalu besar di kepalanya, mencoba berdiri tegak seperti orang dewasa.
Brennan datang dengan tongkat, masih pincang dari luka yang ia terima saat menutupi mundur, tapi punggungnya kini lebih tegak daripada berbulan-bulan terakhir. Botol tak lagi menyertainya. Di dada bajunya, bintang sheriff kusam itu tergosok sampai memantulkan sedikit cahaya senja. Hollis mengikutinya, gemuk dan terengah mendaki bukit, tangannya seperti biasa gugup mengelap entah apa. Pastor Amos berdiri di puncak, tua dan bungkuk, tapi matanya jernih.
Senja menunggu sampai mereka semua berkumpul, lalu bicara. Ia bukan orang yang banyak bicara, dan justru karena itu setiap kata terdengar berat.
"Aku datang ke kota ini," katanya, "berpikir aku cuma lewat. Satu kota busuk lagi di gurun, satu lagi tempat orang berlutut. Aku berniat tak ikut campur. Sudah cukup darah di tanganku." Ia menatap mereka satu per satu. "Tapi aku sudah ikut campur. Dan kemarin aku melihat sebuah kota mati kehausan dua hari dari sini. Bukan karena peluru. Karena seorang lelaki di utara mengunci air seperti mengunci anjing."
Tak ada yang bicara. Hanya angin senja yang mendesau di antara nisan.
"Aku dulu berpikir cukup membela Redemption," lanjut Senja. "Sekarang aku tahu itu tidak cukup. Selama Morrow memegang air, perak, dan jalur dagang, setiap kota di Tanah Gersang akan tetap berlutut. Kita bisa merebut Redemption seribu kali, dan ia akan tetap mencekik kita kapan pun ia mau." Ia mengambil napas. "Jadi aku tidak akan membela satu kota. Aku akan meruntuhkan seluruh kerajaannya. Air, perak, jalur, hukum yang ia beli, semuanya. Sampai ke akar."
Brennan-lah yang pertama maju. Ia mencabut bintang dari dadanya, menatapnya sebentar di telapak tangan, lalu menggosoknya sekali lagi dengan ibu jari dan menyematkannya kembali. "Aku membiarkan Dan mati," katanya, suara serak. "Aku tenggelam dalam botol selama bertahun-tahun karena itu. Aku tak akan membiarkan ketakutan menang dua kali. Aku ikut. Sampai mati berdiri kalau perlu."
"Lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut," kata Senja pelan. Kalimat itu, yang sudah menggema di benaknya bertahun-tahun, kini terucap di antara mereka seperti sumpah.
Martha melangkah maju. "Suamiku dikubur di bukit ini karena ia menolak berlutut. Kalau aku berlutut sekarang, kematiannya jadi sia-sia. Aku ikut. Dan aku akan merawat setiap luka yang kalian bawa pulang."
Hollis menelan ludah, gugup, lalu mengangguk cepat. "Aku tak bisa menembak lurus untuk menyelamatkan nyawaku sendiri," katanya. "Tapi aku bisa membuat botol-botol yang meledak, dan aku tahu siapa berbisik apa di setiap saloon dari sini sampai utara. Itu juga senjata. Aku ikut."
Pastor Amos meletakkan tangannya yang gemetar di atas salah satu nisan. "Lonceng gerejaku dulu bisu," katanya. "Bertahun-tahun aku takut membunyikannya. Lalu kalian mengajariku bahwa lonceng yang bisu sama saja dengan menyetujui yang jahat. Akan kubunyikan untuk setiap orang yang bangkit. Tuhan menyertai yang berdiri."
Eli mendongak menatap Senja, mata anak itu menyala. "Aku juga ikut. Aku bisa membawa peluru, aku bisa lari cepat, aku—"
Senja berlutut sampai sejajar dengan mata anak itu. "Tidak untuk menembak orang. Belum. Mungkin tidak akan pernah, kalau aku bisa memilihkan jalanmu." Ia melihat kekecewaan di wajah Eli dan menambahkan, "Tapi aku akan mengajarimu memegang pistol. Mengenalnya. Memahami beratnya. Dengan satu syarat: kau belajar dulu bahwa setiap peluru punya harga, dan harga itu tak pernah murah. Kalau kau bisa mengerti itu, aku akan mengajarimu. Sepakat?"
Eli mengangguk dengan sungguh-sungguh yang nyaris memecahkan hati. "Sepakat."
Senja berdiri. Di atas mereka, langit telah berubah dari tembaga menjadi merah pekat, lalu mulai ungu di tepi timur. Lonceng gereja di bawah, dari menara yang separuh hangus, masih bisa dibunyikan. Pastor Amos menariknya sekali — satu dentang panjang yang menggema sampai ke gurun.
Bukan tanda mundur kali ini. Tanda sebuah janji.
Di puncak bukit kuburan, di antara mereka yang hidup dan mereka yang gugur, sebuah kampanye lahir.