Kekeringan menggigit Tanah Gersang seperti binatang yang sabar. Sumur-sumur dangkal di kota-kota kecil mengering jadi lubang berdebu, dan sungai-sungai musiman menyusut jadi garis lumpur retak. Hanya satu yang masih punya air: Morrow. Bendungan di hulu, sumur-sumur dalam yang ia bor dengan uang perak, semuanya berkatup besi dan berkunci gembok, dan kuncinya ada di sakunya.
Senja mengetahui beratnya monopoli itu bukan dari peta, melainkan dari sebuah kota kecil bernama Hollow Springs, dua hari berkuda ke barat. Ros membawanya ke sana — pemburu bayaran tua itu kini berkuda di sisinya, dengan humor keringnya dan matanya yang tak pernah berhenti membaca cakrawala.
"Dulu kota ini punya sumur sendiri," kata Ros sambil meludah ke tanah retak. "Lalu Morrow membeli tanah di hulu, membangun bendungan, dan air bawah tanah berhenti mengisi sumur mereka. Sekarang mereka harus membeli air dari gerobak Morrow. Dengan harga yang ditentukan Morrow."
Hollow Springs hampir tak bisa disebut kota lagi. Rumah-rumah papan berdiri miring, atap-atapnya melengkung. Seorang perempuan duduk di tangga rumahnya memeluk bayi yang terlalu lemah untuk menangis, bibirnya pecah-pecah. Beberapa lelaki kurus berkumpul di sekitar tong kayu yang nyaris kosong, membagi sisa air setetes demi setetes dengan gayung.
Salah satu lelaki itu mengenali tipe Senja begitu melihatnya. "Kalau kau orang Morrow," katanya serak, "kami sudah bayar minggu lalu. Tak ada lagi yang bisa kami jual."
"Aku bukan orang Morrow," kata Senja.
Lelaki itu tertawa, suara kering tanpa kegembiraan. "Lalu kau tak ada gunanya di sini. Yang bisa menolong kami cuma orang yang punya air. Dan cuma satu orang yang punya air."
Senja turun dari kudanya. Ia mengambil kantong air dari pelananya — penuh, diisi dari sumur ranch yang masih punya sedikit — dan menyerahkannya pada lelaki itu. "Untuk bayi itu dulu."
Lelaki itu menatapnya lama, lalu mengambilnya dengan tangan gemetar, dan membawanya pada perempuan di tangga. Bayi itu minum. Tak ada terima kasih. Hanya air yang menetes di dagu kecil dan mata sang ibu yang basah tanpa air mata, sebab tubuhnya pun tak punya cukup untuk menangis.
Senja berdiri di tengah kota mati itu dan merasakan sesuatu di dalam dirinya yang sudah lama tidur kembali terbuka. Selama ini ia berpikir perangnya adalah tentang Redemption. Tentang Eli, Martha, Brennan. Tentang satu kota yang menolak berlutut.
Tapi ini lebih besar. Morrow tidak menguasai kota dengan pistol saja. Ia menguasai dengan dahaga. Pistol bisa dilawan dengan pistol. Tapi dahaga — dahaga membuat orang berlutut tanpa satu peluru pun ditembakkan.
"Berapa kota seperti ini?" tanya Senja pada Ros, suaranya rendah.
Ros mengusap janggut kelabunya. "Belasan. Mungkin lebih. Semuanya bergantung pada satu bendungan, beberapa sumur dalam, dan satu garis pipa kayu yang dijaga lebih ketat dari brankas." Ia menatap Senja, membaca sesuatu di wajahnya. "Aku kenal tatapan itu. Tatapan orang yang baru saja memutuskan sesuatu yang akan membuatnya terbunuh."
Senja tak menyangkalnya. Ia memandang ke arah hulu, ke utara, ke tempat air ditahan di balik beton dan besi dan gembok Morrow.
"Selama ini aku ingin membebaskan satu kota," kata Senja. "Tapi membebaskan satu kota dari Morrow seperti memotong satu kepala dari ular berkepala banyak. Kalau air tetap di tangannya, semua kota tetap berlutut. Cepat atau lambat."
"Jadi?"
"Jadi kita tidak merebut kota." Mata kelabu Senja menyipit menatap utara. "Kita merebut airnya."
Ros tertawa pelan, suara yang lebih mirip batuk. "Itu yang paling ketat dijaga di seluruh wilayah ini. Kau tahu itu, kan?"
"Aku tahu."
"Dan kalau kita gagal, Morrow akan tahu persis apa yang kita incar. Ia akan menjaganya tiga kali lebih ketat."
"Aku tahu itu juga." Senja naik ke pelananya. Ia menatap sekali lagi pada bayi yang kini tidur di pelukan ibunya, perutnya naik turun pelan karena air yang ia berikan. "Tapi seorang anak tak seharusnya kehausan supaya seorang lelaki di rumah besar bisa menyesap anggur merahnya dengan tenang."
Ia membalik kudanya ke arah timur, ke bukit kuburan, ke tempat sekutu-sekutunya menunggu. Di belakangnya, Hollow Springs tetap sekarat di bawah matahari. Tapi sesuatu telah berubah hari itu di dada Senja. Perangnya bukan lagi tentang penebusan satu orang. Ini perang pembebasan, dan air adalah medan pertamanya.