Ia datang menunggang keledai, bukan kuda, dan itu sendiri sudah cukup membuat semua orang menatap.
Seorang perempuan, mungkin tiga puluh tahun, dengan topi lebar berdebu, mantel pengembara, dan sebuah kotak kulit aneh tergantung di pelana yang ternyata berisi pena, tinta, dan tumpukan kertas. Ia menemukan jejak para penyintas dengan cara yang kelak membuat sekutu-sekutunya yang paling keras kepala pun terkesan — bertanya di pos dagang terpencil, mengikuti rumor, membaca lanskap politik seperti orang lain membaca jejak.
Penjaga yang ditempatkan Senja di mulut lembah membawanya masuk dengan tangan diangkat, lebih bingung daripada bermusuhan.
"Namaku Sariah Vance," katanya, melompat turun dari keledai dengan keluwesan yang tak cocok dengan kelelahannya. "Aku menulis untuk Clarion, koran di Carson dan tiga kota timur lainnya. Aku datang ke Tanah Gersang untuk satu cerita." Matanya menyapu reruntuhan, orang-orang berpakaian arang, luka-luka yang belum sembuh. "Dan sepertinya cerita itu menemukanku lebih dulu."
Senja keluar dari bayang tembok, tangan tak jauh dari pistolnya. "Cerita apa."
Mata Sariah menemukan matanya, dan ia tak gentar — itu hal pertama yang Senja perhatikan tentang perempuan ini. Kebanyakan orang gentar di bawah tatapan kelabunya. Sariah malah seperti menyimpannya untuk ditulis nanti.
"Augustus Morrow," katanya. "Raja perak Tanah Gersang. Mereka membicarakannya di timur seperti dongeng — orang yang membangun kerajaan dari tambang dan air, yang membuat gurun membayar pajak hanya untuk minum. Tapi tak ada yang menulis kebenarannya. Tak ada yang tahu berapa banyak kota yang ia bakar untuk membangun namanya." Ia menatap asap yang masih samar di langit utara. "Itu, kurasa, salah satunya?"
Tak ada yang menjawab. Tapi keheningan adalah jawaban yang fasih.
Brennan, dari tandunya, mendengus. "Penulis koran. Bagus. Persis yang kita butuhkan — seseorang untuk menulis batu nisan kita dengan rapi."
"Atau," kata Sariah, tak tersinggung, "seseorang untuk memastikan dunia tahu siapa yang membunuh kalian, dan membuat dunia peduli. Senjata bukan satu-satunya hal yang bisa meruntuhkan orang seperti Morrow, Tuan. Kadang yang lebih ia takuti adalah ribuan orang di timur yang membaca namanya bersanding dengan kata 'pembantai' di sarapan mereka."
Senja mempelajarinya. Ada hal-hal yang ia sukai — keberaniannya, kejelasan pikirannya. Dan ada hal yang membuatnya waspada: orang yang terlalu banyak bertanya. Ia telah hidup terlalu lama dengan rahasia untuk mempercayai seseorang yang pekerjaannya menggali rahasia.
"Kau mengajukan banyak pertanyaan," katanya pelan.
"Itu pekerjaanku." Sariah balas menatapnya, dan ada sesuatu yang menusuk dalam tatapan itu, seolah ia sudah mulai menyusun pertanyaan tentang lelaki bermata kelabu yang berdiri seperti penembak tapi berbicara seperti orang yang menyesal pernah jadi penembak. "Dan kau, Tuan — kau memberi banyak jawaban hanya dengan tidak menjawab. Mereka di kota tadi memanggilmu Senja. Tapi itu bukan nama, kan? Itu hanya saat kau datang."
Senja tidak menjawab. Tapi tangannya menjauh dari pistolnya, dan itu adalah jawaban juga.
Martha mengambil keputusan yang ia tak berani ambil. "Dia bisa tinggal," kata janda itu, melangkah maju. "Kita kelaparan akan banyak hal di sini. Roti. Peluru. Tapi yang paling kita kelaparan adalah seseorang yang mendengar kebenaran kita di luar lembah ini. Biarkan dia menulis."
Sariah membungkuk sedikit, hangat tapi tajam. "Maka ceritakan padaku semuanya. Dari awal." Ia mengeluarkan pena dan kertasnya, duduk di atas batu seolah itu kursi terbaik di rumah. "Dunia luar lebih besar dari yang Morrow ingin kalian percaya. Dan dunia luar belum tahu namanya. Mari kita perkenalkan."
Senja memandangnya menulis, dan untuk pertama kalinya terpikir olehnya bahwa mungkin ada senjata di Tanah Gersang yang lebih tajam dari yang tergantung di pinggangnya.