Malam itu Senja tidak bisa tidur, dan ketika ia tidak bisa tidur, masa lalu datang menjemputnya seperti kreditor tua.
Ia duduk di luar tembok reruntuhan, revolver berukiran E di pangkuannya, jari-jarinya menelusuri huruf yang aus itu dalam gelap. Di kejauhan, seekor coyote melolong — suara yang selalu membawanya kembali ke satu sungai, satu nama, satu malam yang ia kubur dalam-dalam.
Dua belas tahun lalu, Caleb masih punya tawa.
Senja mengingatnya seperti melihat melalui kaca berdebu. Mereka berdua bergabung dengan geng penembak bayaran yang dipimpin seorang lelaki bernama Hargrove — sekumpulan serigala yang menjual senjata mereka kepada siapa pun yang membayar: peternak besar yang ingin mengusir petani kecil, perusahaan rel yang ingin tanah, bos tambang yang ingin kota tunduk. Pekerjaan kotor yang dibungkus istilah bersih. "Membersihkan kota," mereka menyebutnya.
Senja sudah penembak ketika itu — yang terbaik di geng, tangan tercepat yang pernah dilihat Hargrove. Dan Caleb, adiknya, hanya bocah belasan yang mengikutinya ke mana pun karena tak punya siapa-siapa lagi setelah orang tua mereka mati. Senja membawanya bukan karena ingin menjadikannya pembunuh. Ia membawanya karena tak tega meninggalkannya kelaparan di jalanan.
Tapi Caleb ingin belajar.
Senja ingat sore-sore di tepi Sungai Coyote, ketika geng berkemah dan tak ada pekerjaan. Ia mengajari adiknya menembak — bukan untuk membunuh, katanya pada dirinya sendiri, tapi untuk melindungi. Cara memegang gagang. Cara membiarkan napas keluar sebelum menarik pelatuk. Cara melihat sasaran tanpa membiarkan tangan tahu rasa takut.
"Suatu hari aku akan secepat kau," kata Caleb muda, tertawa, kaleng-kaleng berjajar di batu di tepi air.
"Tidak," kata Senja, dan ia ingat betul mengucapkannya. "Aku tidak mengajarimu ini supaya kau secepat aku. Aku mengajarimu supaya kau bisa berhenti lebih dulu daripada aku. Kecepatan bukan hadiah, Caleb. Itu beban. Makin cepat tanganmu, makin berat kau harus berpikir sebelum menariknya."
Caleb menertawakannya waktu itu. Bocah selalu menertawakan kebijaksanaan yang belum mereka butuhkan.
Senja menutup matanya di kegelapan reruntuhan, dan kenangan itu bergeser ke arah yang ia tak mau ia tuju. Sungai Coyote. Tapi bukan sore yang tenang ini — malam yang lain. Hujan, dan tembakan, dan air deras berwarna hitam-perak di bawah bulan. Pekikan. Tangan yang melepaskan tangan. Sebuah keputusan yang dibuat dalam sepersekian detik yang akan menghantuinya selama dua belas tahun.
Ia membuka matanya, memaksa kenangan itu kembali ke kuburnya. Belum. Ia belum sanggup. Bahkan pada dirinya sendiri.
Yang ia tahu hanya ini: ia mengubur Caleb di tepi sungai itu. Dengan tangannya sendiri. Dengan air matanya sendiri. Dan ia meninggalkan jalan kekerasan malam itu, meninggalkan namanya, meninggalkan segalanya kecuali revolver tua dengan huruf E di gagangnya — karena adiknya, yang ia gagal lindungi, telah mati.
Hanya saja Caleb tidak mati.
Caleb hidup, dengan bekas luka di pipi dan dendam di dalam dada, yakin sepenuh tulangnya bahwa kakaknya telah meninggalkannya berdarah-darah untuk mati sendirian.
Dan Senja tidak tahu — di reruntuhan ini, di bawah langit yang sama yang menaungi mereka berdua dulu — bagaimana mungkin kebenaran begitu jauh dari apa yang adiknya percaya.
Coyote di kejauhan melolong sekali lagi, lalu diam. Senja menggenggam revolvernya, dan menunggu fajar yang tak membawa ketenangan.