Rabu pagi — notaris Tebet selatan, ruang tunggu kecil, AC terlalu dingin, majalah bisnis tahun lalu di rak. Anisa datang pukul tujuh empat puluh, envelope notaris di pangkuan: identitas Anisa Rahmawati, kertas kerja tiga halaman, printout Rawamangun, modal minimal dari escrow supervised bukan rekening euforia. Ratih duduk samping, tas kerja Wijaya & Partners tidak dibuka. Moral support — bukan partner sign.
'Aku di sini sampai cap,' kata Ratih pelan. 'Bukan sampai papan nama.'
Anisa angguk. 'Sampai cap cukup.'
Ibu Kusuma panggil pukul delapan. Ruang kerja rapi, stempel di baki kayu, dua saksi staf notaris sudah siap. Anisa duduk, punggung tegak sama Room 4C posture — tapi ini bukan sidang. Ini pendirian. Hakim tidak ada. Halim tidak ada. Mira tidak represent; SMS pagi satu baris: *Counsel channel zero business. Good luck kertas, bukan luck klien.* Anisa archive; boundary hold.
Ibu Kusuma baca draft akta pelan. PT Rahmawati Consulting. Maksud dan tujuan: jasa konsultasi manajemen, literasi perjanjian pranikah, tata kelola aset keluarga, kepatuhan pasca-krisis. Bukan jasa hukum litigasi. Bukan kantor pengacara. Direktur: Anisa Rahmawati. Komisaris: kosong dulu — struktur kecil, satu orang cukup pada tahap ini.
'Ruang lingkup ini sengaja sempit,' kata Ibu Kusuma, pena di atas kertas. 'Kalau nanti melebar ke litigasi, harus ubah anggaran dasar. Ibu yakin?'
'Yakin,' jawab Anisa. 'Advisory. Bukan perang di pengadilan orang lain.'
Ratih senyum kecil tanpa bicara. Pact sejak dapur: bukan brand revenge, bukan war gallery.
Anisa tanda tangan tiga tempat. Cap jempol. Saksi tanda tangan. Ibu Kusuma stempel basah — bunyi pendek di kayu, bukan dramatis, cukup resmi. Salinan akta dua rangkap masuk map cokelat. Anisa pegang map lima detik. Berat kertas biasa. Bukan berat menang gala. Bukan berat surat Damar. Berat pekerjaan pre-Mahesa yang pulang lewat meja notaris, bukan lewat koridor Sudirman.
'SK Kemenkumham menyusul hari kerja,' kata Ibu Kusuma. 'NPWP badan setelah SK. Rekening PT setelah NPWP. Urutan itu — jangan buka papan nama sebelum rekening badan ada, kalau Ibu mau rapi.'
Anisa catat di buku kecil. Urutan: akta hari ini, SK, NPWP, rekening, sewa, fit-out, pintu. Tujuh langkah. Bukan satu malam.
Saksi staf minta Anisa cek ejaan nama di lampiran identitas sekali lagi. Anisa baca keras dalam hati: Anisa Rahmawati, sesuai publish legal, bukan Anisa Mahesa, bukan Laras Wijaya. Tiga nama pernah hidup di tubuh yang sama; hanya satu yang boleh masuk akta. Ibu Kusuma tidak bertanya sejarah. Itu belas kasihan profesional, atau sekadar tidak perlu. Anisa terima yang mana pun.
Keluar notaris pukul sembilan sepuluh. Matahari Tebet sudah tinggi. Ratih beli kopi kaki lima dua gelas. Duduk di bangku halte lima menit, tidak foto, tidak cerita grup. Angkot lewat, debu, hidup biasa di luar map cokelat. Anisa sisip map ke tas dalam, resleting tutup — gerakan kecil, sama seperti dulu menyimpan bukti gala, beda isi. Dulu bukti untuk bongkar. Sekarang akta untuk membangun.
'Rasanya?' tanya Ratih.
'Bukan euforia,' jawab Anisa. 'Ada. Nama di kertas badan hukum. Bukan Nyonya Mahesa. Bukan Laras. Anisa Rahmawati — direktur firma yang belum punya pintu.'
'Pintu menyusul,' kata Ratih. 'Hari ini cukup cap.'
Sore Rabu — Mira debrief call sepuluh menit parallel docket, bukan business. Phase three: tranche terakhir escrow menuju distribusi supervised weeks ahead. Anisa listen only. Mira ulang: 'Akta PT bukan bagian perkara. Jangan campur rekening. Jangan campur klien. Jangan campur surat suami.' Anisa: 'Tidak campur. Map cokelat terpisah dari envelope stamped.'
Envelope stamped di laci Tebet tetap: return phased, nama legal publish, location sketch. Sekarang map cokelat keempat fisik — akta PT. Empat tumpuk, empat urutan. Surat Damar tetap vault counsel, respond zero permanent.
Kamis — Anisa ke bank cabang Tebet, bawa salinan akta, tanya prosedur rekening PT. Petugas jelaskan: tunggu SK dulu. Anisa tidak memaksa. Pulang, cuci piring, jemur balkon lima belas menit. Tubuh setelah notaris: bahu lebih longgar dari Room 4C, tapi insomnia tidak hilang. Tidur lima jam empat puluh. Bukan kemenangan yang menidurkan; pekerjaan yang menata.
Kamis malam Anisa coba bayangkan papan nama. Huruf apa. Ukuran apa. Ia tahan diri tidak pesan malam itu — urutan Ibu Kusuma jelas, rekening badan dulu. Menahan diri adalah keterampilan baru; dulu ia menahan diri karena selubung, sekarang menahan diri karena rapi. Beda alasan, sama otot.
Jumat — SK Kemenkumham masuk email Ibu Kusuma, diteruskan Anisa. Nomor AHU di layar. Anisa print dua lembar, masuk map cokelat. Sticky note kulkas coret: *Rahmawati Consulting — notaris Rabu depan. Pintu belum terbuka.* Ganti: *Akta ada. SK ada. Pintu belum.* Ia tempel dengan selotip sisa, tidak beli yang baru. Firma belum butuh alat tulis mewah.
Ratih SMS: 'SK?' Anisa: 'Ada. NPWP Senin.' Ratih: 'Bagus. Broker Rawamangun aku hold sampai NPWP. Jangan sewa atas nama pribadi.' Anisa: 'Tidak pribadi. PT.'
Sabtu pagi — Anisa baca ulang akta di meja dapur, kopi setengah. Klausul maksud dan tujuan. Namanya di halaman pendiri. Ia ingat tiga tahun lalu tanda tangan prenup tanpa baca. Sekarang ia baca setiap baris akta sendiri, dua kali, karena itu pelajaran yang dibayar mahal. Literasi mulai dari dirinya.
Minggu — Ratih call lima menit: 'Minggu depan NPWP, rekening, baru broker. Aku tidak datang bank. Kamu mampu.' Anisa: 'Mampu. Moral support notaris sudah cukup.' Persahabatan hold. Parallel Sudirman: Damar nonaktif penuh, compliance officer laporan bulanan, Anisa tidak urus. Letter vault — counsel forward filter satu envelope lagi minggu ini; Anisa archive tanpa buka isi penuh; respond zero. Bukan ritme bulanan. Bukan undangan. Ia sempat ingin tahu apakah Damar menulis tentang firma yang belum berdiri; lalu buang keinginan itu ke sink, air mengalir. Tahu isi surat adalah tiket kembali lewat jalur samping. Tidak.
Senin minggu berikutnya — NPWP badan terbit. Anisa ke bank lagi, buka rekening PT Rahmawati Consulting, setor modal minimal sesuai akta, bukan seluruh escrow. Escrow tetap supervised Mira channel. Dua uang, dua dunia. Anisa pegang buku tabungan badan hukum di tas, pulang Tebet, taruh laci terpisah dari dompet pribadi. Malam itu buku catatan:
*Akta. SK. NPWP. Rekening PT. Sewa menunggu. Pintu belum. Respond zero. No terrace. Phase three penutup paper parallel, bukan campur.*
Tidur lima jam lima puluh. Kosong after win sudah punya badan hukum. Besok broker. Bukan sorak. Urutan jalan.