Selasa dini hari, Anisa terjaga pukul tiga empat puluh lima tanpa alarm. Bukan mimpi buruk — tubuh yang lupa cara tidur panjang. Otaknya sudah menjalankan checklist: mediasi empat belas hari, respons motion Halim, filter Ratih, email Mira, apakah Rania upload thread baru.
Ia bangkit, duduk di tepi tempat tidur, sendi jari terasa kaku. Tiga malam sebelum vote suspend ia tidur ringan; Minggu istirahat setengah; Senin filing cerai — adrenalin turun, tubuh tagih utang.
Dapur apartemen gelap. Anisa menuang air, tidak menyalakan lampu terang — cukup cahaya kulkas. Di Menteng, insomnia pernah ia sembunyikan dengan roti panggang untuk Damar pagi rapat. Di Tebet, insomnia tidak punya audience; hanya termos kosong dan sticky note *Istirahat allowed* yang terasa seperti ejekan lembut.
Pukul empat lewat sepuluh, ia coba tidur lagi — gagal. Pukul lima, jalan kaki setengah blok, udara pagi lembap bau sampah basah dan incense dari warung yang belum buka. Satpam kompleks mengangguk; Anisa mengangguk balik. Dunia pagi normal; dirinya tidak.
Pagi Selasa, Mira telepon jam delapan: 'Client sound tired.'
'Insomnia,' jawab Anisa jujur. 'Bukan collapse.'
'Medical?' tanya Mira.
'Not yet.'
'Halim response filed midnight — forty-two pages mostly boilerplate. We answer Kamis. You don't read tonight.'
Anisa mendengar bunyi kertas di latar Mira — firma sudah hidup, staf paralegal memindai. Ia seharusnya lega ada yang membaca forty-two pages untuknya; instead, dada sesak karena utang delegasi terasa seperti kelemahan. Dulu Laras membaca spreadsheet sendiri; Anisa Rahmawati belajar menerima bantuan tanpa merasa kalah.
Siang Selasa, Ratih mampir bawa bubur ayam — ritual human. Anisa makan tiga sendok, kenyang cepat — bukan lapar, lambung mengecil stres.
'Kamu tidur berapa jam?' tanya Ratih.
'Fragment — total mungkin tiga,' jawab Anisa.
'Pundak kanan naik.' Ratih sentuh bahu Anisa sebentar — otot tegang seperti tali senar. 'Dendam jalan panjang. Tubuh bayar cicilan duluan.'
Anisa tidak membantah. Ia tahu Ratih benar — bukan moral lecture, observasi fisik. Kelelahan dendam bukan kelelahan emosional dramatis; kelelahan dendam adalah bahu pegal, mata kering, napas pendek saat tangga apartemen naik satu lantai.
'Kamu dulu tidur nyenyak waktu kuliah,' kata Ratih pelan. 'Waktu jadi Nyonya Mahesa juga tidur, meski tipis. Sekarang tipis plus sadar.'
Anisa memandang cangkir bubur. Sadar — kata tepat. Insomnia bukan karena takut kalah; insomnia karena otak belum percaya perang pindah ke pengadilan dan tubuh belum diberi izin off-duty.
Sore Selasa, email anonim ke filter Ratih — metadata trace ke server PR lama Halim: *Istri CEO gugat cerai — prepare victim narrative Damar.* Anisa tidak buka. Narrative war sudah pindah ke pengadilan; anon email di malam insomnia hanya noise.
Malam Selasa, ia coba protokol tidur: white noise, ponsel di laci, laptop kunci. Terjaga lagi pukul dua. Ia duduk di balkon, kota Jakarta bercahaya redup, motor lewat. Damar mungkin juga terjaga — suspended, board seat, counsel briefing settlement someday. Anisa tidak peduli apakah Damar tidur; ia peduli mata sendiri pedih layar jam tiga pagi.
Rabu pagi, Anisa hampir tumpah kopi karena tangan gemetar kecil — bukan takut, kurang tidur. Mira notice via video call singkat: 'Kamis response team only. You sign where marked yellow. Rest today literal.'
'Literal rest sulit,' kata Anisa.
'Then walk. Not scroll.'
Anisa jalan dua putaran blok. Di putaran kedua, ia duduk di bench taman kecil tiga menit — mata terpejam, bukan tidur, istirahat vertical. Tubuh bayar cicilan — insomnia bukan simbol, biaya. Dendam yang sudah jadi gugatan resmi tetap dendam; hanya bentuknya map dan jadwal sidang, dan tulang belakang yang protes.
Siang Rabu, Ratih forward dua baris filter saja: *Halim motion response due Kamis — team handle.* *Rania clip views down — ignore.* Anisa patuh ignore. Clip views down = Rania mungkin panik; panik Rania bukan tugas Anisa malam insomnia.
Malam Rabu, ia tidur empat jam continuous — rekor minggu ini. Bangun masih lelah, tapi fragment jadi potongan. Sticky note cermin ditambah Ratih: *Tidur bukan reward — maintenance.*
Kamis pagi, Anisa tanda tangan tiga lembar yellow di respons Mira tanpa membaca forty-two pages — trust counsel, boundary baru. Bahu masih pegal; mata masih ringan. Insomnia belum selesai; insomnia sudah dikelola.
Insomnia di Tebet bukan bab heroik; insomnia di Tebet adalah harga koridor panjang antara Menteng dan pengadilan. Anisa belum retak; ia hanya aus. Dendam tidak hilang karena lelah — dendam berubah bentuk jadi stempel dan jadwal, dan tubuh menagih biaya admin.
Kamis malam, ia coba melawan dengan makan malam proper — nasi, telur, sayur — bukan bubur tiga sendok. Lambung menerima; kepala masih checklist. Pukul sebelas, ia off lampu. Pukul dua belas lewat, tidur datang tanpa undangan — lima jam total malam itu, rekor baru.
Jumat pagi bahu masih pegal tapi mata kurang pedih. Mira notice di call singkat: 'You sound less fragment.' Anisa tidak bilang almost-human; cukup 'Better.' Better bukan sembuh — better maintenance. Insomnia bisa kembali saat mediasi dekat; untuk sekarang, tubuh dapat cicilan minimum.
Selasa malam ia menolak undangan Ratih nonton film — bukan antisosial, proteksi tidur. Ratih mengerti tanpa drama. Apartemen gelap pukul sepuluh; white noise; tidur empat jam lagi. Insomnia di Tebet belum kalah total; insomnia sudah diajak negosiasi, bukan dibiarkan jadi tuan rumah.
Rabu siang, Anisa tidur siang satu jam tanpa alarm — pertama since filing. Bangun dengan lidah kering dan rasa bersalah kecil, seperti istirahat adalah pengkhianatan. Ratih SMS: *Guilt nap = normal. Eat something.* Anisa makan pisang, bukan heroik, cukup. Tubuh menagih; dendam tidak punya hak veto atas tidur siang. Kamis malam tidur lima jam — maintenance menang tipis. Insomnia di Tebet belum selesai; insomnia sudah tidak jadi tuan rumah semalam.