Beberapa tahun kemudian, Alya berdiri di depan kelas di sebuah universitas seni, mengajar dengan penuh semangat. Suaranya lembut namun tegas, menginspirasi generasi muda untuk menemukan suara dan kekuatan dalam karya mereka.
Di tengah kelas, seorang mahasiswi mengangkat tangan dan bertanya, “Kak, bagaimana caranya bangkit dari kekecewaan besar dalam hidup?”
Alya tersenyum, menatap mata mahasiswi itu, dan berkata, “Mulailah dengan mencintai dirimu sendiri. Karena ketika kamu utuh dalam dirimu, luka dan kecewa akan menjadi pelajaran, bukan penjara.”
Di luar kampus, Fadli menunggu dengan senyum hangat. Mereka berjalan bersama melewati taman, menikmati hari yang cerah, tanpa harus berbicara banyak.
Kenangan tentang masa lalu, tentang Rian, tentang luka yang pernah ada… semua telah menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk Alya menjadi perempuan yang kuat dan penuh cinta — bukan hanya untuk orang lain, tapi terutama untuk dirinya sendiri.
Jejak-jejak itu tidak pernah hilang. Tapi yang terpenting, Alya tahu: dia tidak pernah sendirian.
Karena cinta sejati pertama kali harus dimulai dari hati sendiri.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk menyelami kisah dalam Seketika Kau Menyesal. Setiap halaman yang kamu baca, setiap emosi yang kamu rasakan, adalah bagian dari perjalanan yang sangat berarti bagiku sebagai penulis.
Kisah ini lahir dari serpihan rasa yang mungkin pernah kita alami bersama—tentang kehilangan, luka, dan penyesalan yang datang terlambat. Jika kisah ini berhasil menyentuh hatimu, maka tujuanku telah tercapai.
Aku berterima kasih atas setiap dukungan, kritik, dan semangat yang kamu berikan. Tanpamu, cerita ini hanyalah sekumpulan kata yang tak bernyawa.
Teruslah membaca, teruslah bermimpi, dan jangan pernah lelah untuk mencintai diri sendiri lebih dulu.
Dengan hangat,
Cindy Nur Yunianti