Pagi itu, matahari bersinar hangat masuk melalui jendela apartemen Alya. Ia duduk di balkon, menyeruput kopi hangat sambil menatap pemandangan kota yang mulai sibuk. Jauh di dalam hatinya, ia merasa damai. Bukan damai yang rapuh, tapi damai yang kuat dan tulus.
Beberapa bulan berlalu sejak Rian mengirim pesan terakhir itu. Alya telah belajar banyak tentang cinta, kehilangan, dan yang paling penting: tentang dirinya sendiri.
Hari ini, ia akan menghadiri peluncuran bukunya yang kedua. Bukan sekadar acara biasa, tapi perayaan perjalanan panjangnya melewati luka dan menemukan kebahagiaan.
Fadli datang menjemputnya dengan senyuman hangat. “Kamu siap jadi bintang hari ini?” godanya ringan.
Alya tertawa, merasa bahagia dengan kehadirannya yang selalu sederhana tapi berarti. “Aku siap, tapi bukan karena jadi bintang. Aku siap karena aku sudah merasa utuh.”
Di dalam ruangan, kerumunan tamu menyambutnya hangat. Teman-teman lama, pembaca setia, dan beberapa perempuan yang pernah datang ke talkshow-nya. Mereka semua hadir bukan hanya untuk merayakan buku, tapi untuk merayakan Alya.
Ketika ia berdiri di depan mikrofon, Alya menarik napas dalam-dalam dan mulai berbicara.
“Ketika aku menulis buku pertama, aku hanya ingin berbagi kisah. Tapi aku tidak tahu bahwa aku juga sedang menyembuhkan diri sendiri. Kini, dengan buku kedua ini, aku ingin mengatakan satu hal: bahwa setiap perempuan berhak memilih bahagia. Bahwa kita tidak harus menunggu orang lain untuk membahagiakan kita. Karena kebahagiaan sejati datang dari menerima diri sendiri, dan berani melangkah maju.”
Sorak sorai dan tepuk tangan memenuhi ruangan. Alya tersenyum, menatap wajah-wajah yang penuh harapan.
Di sudut ruangan, Fadli berdiri, matanya penuh kebanggaan.
Setelah acara selesai, Alya dan Fadli berjalan keluar ke taman kecil di belakang gedung. Udara sore yang segar mengiringi langkah mereka.
“Terima kasih sudah jadi bagian dari perjalanan ini,” ucap Alya lirih.
Fadli menggenggam tangannya dengan lembut. “Aku hanya menemanimu. Karena kamu sudah memilih untuk bahagia, aku akan selalu di sini, berjalan bersamamu.”
Alya menatap ke langit, menyadari bahwa kebahagiaan bukan tentang memiliki seseorang untuk melengkapi, tapi tentang memilih diri sendiri untuk utuh.
Dan di sanalah, di bawah langit senja, Alya tahu: ia benar-benar bebas.