“Perubahan itu tak selamanya buruk. Sebab perubahan yang membawa kebaikan, akan memunculkan sebuah kebahagiaan tak terduga. Dan sadarilah serta hargailah orang yang mau berubah menjadi lebih baik.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Livia tersenyum kepada semua pegawai, membalas senyum dan sapaan mereka. Sementara Nader tampak acuh dan masih dengan sikap dinginnya.
Semua memang sudah tak aneh dengan sikap boss dingin serta terbilang galak itu. Tetap saja selalu menawan bagi setiap pegawai wanita di sana.
Nader kembali berjalan menuju ke lift masih diikuti oleh Livia.
Livia masih terkagum-kagum melihat begitu besar dan entah ada berapa ratus pegawai yang bekerja di gedung itu? Belum lagi pegawai yang berada di beberapa pabrik serta proyek-proyek milik Nader dan dia tak bisa membayangkan bagaimana sibuknya Nader selama ini dengan menanggung tanggung jawab seberat itu di pundaknya. Pantas saja jika setiap menitnya sangat berharga baginya karena memang baginya waktu adalah uang.
Keduanya masuk ke dalam lift VIP dan tak ada yang berani ikut masuk bersama boss mereka itu. Livia sengaja berdiri di belakang Nader karena merasa aura yang dipancarkan oleh pria itu sedikit menyeramkan baginya, aura negatif.
Ruangan Nader berada di lantai 15 dan pastinya paling ujung tetapi tiba-tiba lift berhenti di lantai empat karena ada beberapa manager yang hendak naik ke lantai lain.
Ketika pintu lift terbuka semua yang hendak masuk tak jadi, malah tersenyum malu menyapa selamat pagi pada Nader dan Livia di depan pintu lift.
“Kenapa kalian tidak masuk? Masuklah,” kata Livia aneh karena semuanya hanya berdiri di luar lift sementara lift itu terbilang cukup besar dan muat lebih untuk 10 orang.
“Kami naik nanti saja, Nyonya muda,” jawab salah satu manager dengan senyuman renyahnya.
Livia sedikit mendongakkan kepalanya sambil menoleh ke samping karena Nader benar-benar tinggi darinya. Di dalam hatinya pasti mereka takut pada boss galaknya itu.
Lift kembali menutup dan lagi-lagi berhenti di lantai 10 karena ada yang hendak turun. Ketika pintu terbuka, Livia mengira kalau mereka sudah sampai dan akhirnya dia berjalan mendahului Nader.
Tetapi belum sempat kakinya keluar dari lift. Nader sudah menarik tangannya sehingga Livia tertarik ke belakang dan memutar menabrak tubuh Nader.
Pegawai yang melihatnya tersenyum malu dan menunduk melihat adegan itu. Mereka membiarkan keduanya naik ke ruangan boss besar.
Nader masih memeluk Livia yang kini saling berhadapan. Livia mendongak dan melihat dagu Nader yang Indah jika dilihat sedekat itu.
Degg deggg.
Kala jantung Livia terasa berdetak kencang. Ia pun buru-buru mendorong tubuh Nader sampai mundur satu langkah darinya dan melepaskan pelukannya.
“Kenapa?” tanya Nader dingin.
Livia menjadi salah tingkah. “Ti-tidak apa. Aku hanya-”
Tingg.
Suara lift berhenti memutus perkataan Livia.
Keduanya melihat kalau mereka sudah sampai di lantai 15. Tak lama pintu pun terbuka dan Nader berjalan duluan.
Livia memegang jantungnya yang berdetak kencang. Ingat Livia, dia adalah kakak iparmu. Batinnya ngeri dan mencoba menepis perasaan mustahil itu.
Livia masih mengira kalau debaran jantungnya itu berdetak kencang karena untuk kesekian kalinya dia dipeluk seerat itu dan mungkin karena Nader orang asing jadi setiap kali berdekatan atau disentuh Nader, jantungnya pasti berdetak kencang.
Livia baru sadar dari lamunannya kala pintu lift hendak tertutup kembali. Ia pun segera menahannya dengan tangan sampai terbentur pintu membuat pintu lift kembali terbuka dan dia bergegas setengah berlari mengejar Nader yang sudah hampir dekat dengan meja sekretarisnya.
Nader menoleh ke belakang dan baru menyadari kalau Lissa masih jauh di belakangnya. Ia pun hanya mengembuskan napasnya pelan.
Livia nyengir sembari menjinjing tasnya dan sudah beberapa kali dia hampir terjatuh. Sepatu tinggi sialan. Kenapa aku harus terjebak dengan sepatu seperti ini? Kenapa pria itu senang sekali melihat wanita tersiksa seperti ini? Apa dia tak kasihan melihat aku berjalan seperti robot karena belum terbiasa dengan sepatu hak tinggi ini. Apa kak Lissa memang senang memakainya? Sepanjang berjalan menghampiri Nader, dia terus menggerutu bahkan untuk pertama kalinya Livia melontarkan kata sialan saking kesalnya.
Sekitar jarak lima langkah dari Nader. Tiba-tiba kaki Livia terpeleset karena tak seimbang dan kakinya benar-benar sudah pegal dari tadi berjalan terus dengan sepatu yang dipakainya itu.
Bruggghhhh!
Tak terelakan lagi Livia jatuh tepat di depan Nader dan juga dua sekretarisnya.
“Aakkhhh!” Rintih Livia tengkurap di atas lantai. Kakinya sakit dan yang pastinya rasa malunya itu yang paling besar. Kenapa dia sampai bisa jatuh di depan mereka? Benar-benar memalukan.
Memalukan. Batin Livia. Sudah pasti kedua pipinya memanas terlihat merah oleh mereka karena menahan malu.
Kedua sekretaris Nader tampak jelas menahan tawa mereka. Namun ditahan karena pastinya itu akan semakin membuat Lissa malu. Untuk pertama kalinya mereka melihat Nyonya muda istri boss besar mereka jatuh begitu saja ke atas lantai dalam keadaan tengkurap.
Ketika keduanya hendak beranjak dari tempatnya untuk menolong Livia. Nader mengangkat telapak tangan kanannya membuat keduanya terdiam lagi di tempat.
Perlahan Livia mencoba bangkit. Dia melihat uluran tangan Nader dan baru menyadari kalau Nader sudah berjongkok di hadapannya dan entah kapan pria itu mendekatinya?
“Bangunlah,” kata Nader dengan nada datarnya dan tak ada senyum atau menahan tawa. Karena baginya apanya yang lucu melihat bagaimana Lissa terjatuh barusan.
Kedua sekretarisnya menjadi menunduk dan tak jadi tertawa.
Livia tak menggubris uluran tangan Nader. Apalagi melihat tatapan Nader dan juga wajah datarnya itu. Tapi ketika dia hendak bangkit. “Aakkhhh?!” Kakinya benar-benar sakit karena terkilir.
Terdengar jelas kalau Nader mengembuskan napasnya keras. Dia bangkit dari berjongkoknya dan Livia mengira kalau Nader akan meninggalkan atau membiarkannya berdiri sendiri. Tetapi tidak, Nader kembali berjongkok di belakang Livia kemudian menyelipkan tangannya di punggung dan juga di bawah kedua pahanya.
Nader mengangkat tubuh Livia alias membopongnya. Salah satu sekretarisnya segera berlari untuk membukakan pintu sementara yang satunya membawakan tas Livia masuk ke kantor Nader.
Livia sedikit berontak di pangkuan Nader tetapi kedua tangan Nader semakin erat agar Livia tak jatuh. Ia membawa Livia ke dalam kantornya.
Setelah masuk ke dalam. Nader berjalan lagi menuju ke arah kursi sofa di dekat meja kerjanya.
Sekretarisnya masih berdiri di dekat pintu. “Sir. Ada yang bisa saya bantu?”
Nader menoleh menatap sekretarisnya itu. “Merri. Kau panggilkan dokter ke sini. Suruh dia datang secepatnya-”
“Tidak usah, aku tidak apa-apa,” potong Livia tak enak. Baru saja datang ke sana sudah merepotkan.
“Merri. Kau tahu aku takkan mengulanginya dua kali.” Tegas Nader membuat sekretaris yang bernama Merri itu bergegas pergi keluar dan menutup pintu, kembali ke mejanya dan langsung mengangkat telepon duduk untuk menelepon dokter.
Nader mendudukkan Livia di atas sofa dengan perlahan. Ia melihat kedua kaki Livia yang terlihat merah lalu membalikkan badannya melangkah menuju ke kamar mandi.
Livia meliriknya sekilas kemudian segera melepaskan kedua sepatunya. Ternyata kedua kakinya lecet-lecet dan itu sangat perih sekali. Ia memijitinya sambil kembali menggerutu. “Livia, kenapa kau begitu ceroboh? Apakah kau akan terus memakai sepatu neraka ini? Pastinya setiap hari aku akan disuruh memakai sepatu seperti ini terus.” Yakinnya.
Nader keluar dari kamar mandi dengan membawa kotak P3K. Dia melihat Lissa sedang membungkuk memijit sambil meniupi kakinya. Setelah dekat. “Apa kau tak apa-apa?”
Livia sedikit terkesiap karena tak menyadari kalau Nader sudah kembali ke hadapannya lagi. Dia langsung mendongak melihat Nader. “Tidak apa, hanya sedikit lecet saja.”
Nader kembali berjongkok lebih tepatnya berlutut di hadapan Livia dan hendak menyentuh kaki Livia.
“Tidak usah, aku bisa mengobatinya sendiri,” tolak Livia segera menjauhkan kakinya ke samping.
Nader bangkit dari berjongkoknya dan lagi-lagi Livia mengira kalau Nader akan membiarkannya begitu saja. Ternyata Nader duduk di sebelahnya kemudian menaikkan kedua kaki Livia agar bisa dia obati.
Livia kaget sambil menelan salivanya berat dikala kedua kakinya kini ada di atas kedua paha Nader. Pria itu benar-benar tak bisa ditebak sedikit pun juga. Apa yang dilakukannya sungguh selalu di luar dugaannya.
Livia mencoba menurunkan kakinya tetapi Nader segera menahannya.
“Menurut atau tidak?” Nada ucapan Nader seolah selalu mengandung ancaman bagi Livia. Jika tidak menurut maka perusahaan kedua orang tuanya akan binasa disita oleh Bank. Maka dari itu Livia menurut saja dan diam sambil menunduk.
Sudut mata Nader melihat ke arah Lissa dengan pandangan tak percaya. Kini Lissa bagai kerbau dicocok hidung olehnya. Tak berani berontak atau menolak, tak ada lagi Lissa sang pembangkang dan dia akan terus menguji Lissa sampai dia kembali kepada sifat aslinya dan Nader akan terus berusaha membongkar kedok kepura-puraan Lissa.
Nader berpikir. Mungkin saat ini Lissa masih bisa berakting tapi sampai kapan dia akan bisa bertahan dalam aturan, perintah, paksaan dan juga permainannya itu? Sampai kapan Lissa bertahan ketika dirinya sudah dijadikan sebuah boneka di dalam genggamannya itu? Nader ingin tahu sejauh mana Lissa bertahan dan juga berpura-pura.
Livia yang tak tahu kalau Nader saat itu pura-pura peduli kepadanya benar-benar tak tahu harus berbuat apa? “Akhhh,” rintihnya kala Nader mulai mengoleskan obat merah agar lecet-lecet kakinya segera sembuh.
Nader meniupi kaki Livia sambil masih mengolesinya kemudian memberinya plester luka di bagian yang lecet di kedua kakinya itu. “Bagaimana? Apakah masih ada yang sakit?” tanyanya sembari menoleh melihat Lissa yang bengong terus dari tadi menatapnya.
Livia sontak memalingkan wajahnya ke arah lain sembari menurunkan kedua kakinya. “Tidak ada, te-terima kasih.” Ucapannya selalu saja gelagapan.
Nader diam-diam tersenyum miring melihat akting Lissa benar-benar bagus. Menjadi wanita baik dan lugu, benar-benar menggelikan. Batinnya. Ia pun bangkit dan tak lama suara ketukan pintu terdengar. “Masuk.”
Pintu terbuka dan muncullah Merri. “Sir. Dokter sudah datang.”
“Biarkan dia masuk,” kata Nader tetap berdiri di tempatnya yaitu di dekat Livia yang mendongak sekilas menatapnya aneh, sebelum melihat kembali ke arah pintu di mana Dokter mulai masuk ke sana.
Livia merasa tak perlu dokter karena kakinya hanya keseleo saja dan tidak terkilir sangat parah. Ia berpikir orang kaya mungkin semuanya egois. Apa yang dia mau haruslah terjadi.
Nader memberitahukan kepada dokter apakah ada tulang kaki Lissa yang patah sebelum dibawa ke rumah sakit. Dia harus memastikan dahulu kaki Lissa diperiksa dengan teliti oleh dokter apakah serius atau hanya terkilir biasa.
Sang dokter mulai memeriksa Livia membuat Livia hanya merintih sedikit kala disentuh oleh dokter. Setelah selesai memeriksa. “Anda tenang saja Tuan Muda Alvaro. Kaki istri Anda tidak parah dan tak usah dibawa ke rumah sakit. Hanya keseleo biasa dan dalam jangka satu atau dua hari akan sembuh serta berjalan lagi seperti biasanya,” ujarnya dengan senyuman pada Nader dan Livia.
“Jadi tak ada yang serius?” tanya Nader meyakinkan.
Sang dokter mengangguk.
“Kalau begitu, Merri, antarkan dokter sampai lift,” perintah Nader pada Merri yang dari tadi masih berdiri di dekat pintu.
“Terima kasih, dok,” ucap Livia karena dari tadi Nader tak mengucapkan terima kasih padanya.
“Sama-sama Nyonya. Semoga lekas sembuh,” jawab sang dokter tersenyum kikuk. Sebenarnya itu adalah dokter pribadi keluarga Nader dan sudah pasti mengenal baik Lissa. Hanya saja sepertinya dia juga sedikit kaget mendengar Lissa mengucapkan terima kasih padanya untuk pertama kalinya.
Nader sudah tak merasa kaget lagi karena baginya tetap saja itu adalah sebuah kepura-puraan Lissa.
Setelah dokter keluar.
Nader berjalan menuju ke meja kerjanya kemudian melepaskan jasnya lalu ditaruh di sebuah tiang gantungan baju tak jauh di dekat meja kerjanya. Ia pun duduk mulai melakukan pekerjaannya.
Livia merasa aneh. Kenapa dia dibawa ke sana jika hanya sekadar menemani pria itu bekerja? Apa keseharian almh kakaknya Lissa adalah menemani suaminya itu bekerja? Sangat membosankan baginya jika hanya duduk-duduk saja seperti itu tanpa pembicaraan sedikitpun.
Livia mengedarkan padangannya ke sekeliling menatap ruangan luas itu. Warna cat dindingnya cokelat muda tak begitu mencolok malah terlihat elegan. Banyak berkas-berkas dan juga buku-buku penting berjejer di lemari buku dan rak lainnya yang hampir mengelilingi seluruh ruangan itu.
Sofa besar dan empuk kini di dudukinya. Ada Coffee maker dan juga beberapa botol minuman beralkohol mahal di dekat mesin pembuat kopi itu dan beberapa cup coffee serta gelas crystal untuk minuman di atas lemari kecil di sudut ruangan dekat jendela. Sengaja disediakan karena Nader sering mengundang minum para sahabatnya atau partners kerjanya ke sana.
Nader tampak fokus mengetik sesuatu di layar komputernya sambil sesekali melirik Lissa.
Livia benar-benar tampak bosan duduk terus dari tadi. Sudah hampir setengah jam dia tak melakukan apa-apa atau bahkan berbicara dengan Nader dan hal itu sungguh menyiksanya.
Ia pun mencoba melakukan kegiatan yaitu membaca majalah yang menumpuk di bawah meja di depannya. Ia mengambil beberapa majalah itu kemudian membacanya.
Dari majalah para pengusaha, harga saham sampai majalah model-model bahkan passion-passion terbaru ada semua.
Livia melihat hampir semua majalah di sana ada foto Nader bahkan ada pula yang difoto berdua dengan Lissa. Ia mengembuskan napasnya lirih. Seandainya kakaknya masih hidup, mungkin yang sekarang duduk di sana adalah kakaknya itu dan dirinya masih bersama kedua orang tua asuhnya beserta adik tercintanya.
Atau jika takdir sudah mempertemukannya dengan kedua orang tua kandungnya saat Lissa masih ada. Mungkin dia berada di rumah keluarga Vincent bersama dengan kedua orang tua asuhnya dan Ronnie juga pastinya.
Aakkhh ... Dia saat ini mulai merindukan canda tawa Ronnie, Bu Sri dan Pak Trino. Hari ini dia belum dapat kabar dari mereka dan berniat akan menghubungi mereka nanti. Pastinya di belakang Nader.
Sudah empat jam Livia melihat-lihat hampir semua majalah yang ada di bawah meja. Tiba-tiba tak terasa kedua matanya sangat berat dan akhirnya dia tertidur di atas sofa.
Nader yang dari tadi fokus baru sadar kalau Lissa tertidur di atas sofa. Sebenarnya dia sering melirik Lissa tetapi dari dua jam yang lalu kedua matanya serta tangannya sibuk mengetik pekerjaan yang ada di Los Angeles, jadi tak tahu sejak kapan Lissa tertidur.
Nader menyandarkan punggung serta kepalanya ke sandaran kursi sembari mengembuskan napasnya berat lalu merenggangkan seluruh tubuhnya yang lelah. Diliriknya jam tangannya yang ternyata sudah waktunya makan siang.
Matanya melirik ke sudut meja di mana di sana tergeletak sebuah map berwarna biru. Seharusnya dia membawa Lissa ke kantornya untuk menandatangani map biru itu. Tetapi pikirannya tiba-tiba berubah dan berniat menundanya dahulu. Sedikit waktu saja. Ya, dia hanya perlu sedikit waktu saja.
Muncul sebuah e-mail yang datang dari Los Angeles. Nader segera membukanya lalu ekspresi wajahnya seketika berubah tak sedap. Ada sebuah masalah yang terjadi di sana dan secepatnya dia harus pergi lagi ke Los Angeles.
“Ayyaaahhh!” Livia terbangun kala bermimpi buruk dan hal itu mengejutkan Nader. Ia langsung duduk mengusap keringat yang mengucur di wajahnya.
Sementara Nader yang kaget hanya mengerjap menatap pada Livia. Ayah adalah bahasa Indonesia dan dia mengernyit, kenapa Lissa memanggil Tuan Vincent dengan panggilan Ayah?
Livia baru sadar kalau itu masih di kantor Nader. Tenggorokannya terasa kering. “Sir. Bolehkah aku minum?”
Nader tampak menghela napasnya. “Lissa, aku adalah suamimu. Jadi panggil namaku seperti biasa.”
Livia menelan salivanya berat. Lagi-lagi dia melakukan kesalahan dengan memanggil Nader dengan sebutan sir. Mau bagaimana lagi, dia baru saja bangun dari mimpi buruknya. “Bolehkah …?”
Nader mengangguk. “Untuk kedepannya, jangan meminta izin hanya untuk masalah sepele. Ingatlah Lissa, semua ini adalah milikmu juga.”
Livia tidak mengerti dengan semua ini adalah miliknya? Mungkin yang dimaksud Nader adalah apa pun milik suami semua adalah milik istri juga. Tetapi berbeda dengannya karena dia bukanlah Lissa. Jadi semua bukanlah miliknya.
Livia bangkit berdiri lalu berjalan dengan telanjang kaki meskipun sedikit pincang menuju ke sebuah lemari kecil di mana di sana ada air. Perlahan dia menuangkan air ke dalam gelas.
Nader membaca sebuah e-mail lain dan kali ini isinya membuat ia naik darah seketika. “s**t. BAGAIMANA BISA?!”
Prannggg...!!
Saking kagetnya Livia menjatuhkan gelas di tangannya sampai pecah berantakan.
“Lissa, apa kau tak apa-apa?” Nader kaget melihat gelas pecah di bawah kaki Livia.
Livia menoleh ke arah Nader. “Aku- Aakkkkhh!” Kaki yang tak memakai sepatu terkena pecahan kaca ketika hendak melangkah. Ada apa dengannya? Kenapa hari ini kakinya selalu terkena sial?
Darah pun mulai mengucur dari kaki Livia dan Nader segera bangkit dari duduknya menghampiri Livia. “Diam di tempat, jangan bergerak!” serunya langsung berburu ke arah Livia.
Bersambung.