“Ketika kita harus berkorban demi orang yang disayang. Namun harus bertahan dalam kedustaan dan menahan siksaan serta menerima balasan kesalahan orang lain. Di situlah kita hanya bisa diam.”
♟﹏﹏SMW﹏﹏♟
Malam-malam Livia terbangun karena bermimpi buruk sampai keringat bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Di dalam mimpinya itu dia melihat kalau Pak Trino meninggal karena biaya rawat terhenti dikarenakan perbuatan Nader.
Dia pun menyalakan lampu hias di atas nakas sebelahnya. Ketika melirik ke samping, kedua matanya membulat melihat Nader tidur lagi di sampingnya.
Aarrgghh ... Ingin rasanya dia teriak dan mengatakan kalau dia bukan Lissa tetapi Livia adik iparnya. Namun, jika dia melakukan hal itu sudah pasti semuanya akan hancur dan mimpi barusan akan menjadi kenyataan.
Diliriknya jam dinding menunjukkan hari sudah hampir pagi. Jadi dia tertidur dari sore sampai hampir pagi lagi seperti itu dan tak ada yang berani membangunkannya. Ia pun mematikan kembali lampu kemudian perlahan turun dari atas ranjang untuk berpindah ke atas sofa tanpa diketahui oleh Nader. Melanjutkan tidurnya di atas sofa.
Saat pagi tiba.
Nader membuka kedua matanya lalu melirik ke sampingnya. Terkejut kala melihat Lissa tak ada di tempat tidur. Namun ketika melihat ke arah sofa, Lissa tertidur di sana. Dia menghela napas sambil memeluk bantal yang ada disampingnya. Sesaat perasaannya merasa lega kala menemukan Lissa masih di kamar itu, tetapi terlintas sekilas pengkhianatan Lissa padanya membuatnya kembali emosi. Dia duduk dengan kasar sambil sandaran ke sandaran ranjang.
Entah kenapa jika mengingat semua perlakuan Lissa padanya pasti membuatnya naik darah seketika. Amarahnya memuncak kala membayangkan seperti apa Lissa bermain ranjang bersama pria lain dan mengganti obatnya dengan obat tidur tanpa memikirkan bagaimana jika kesehatannya menjadi terganggu.
Mungkin jika Lissa benar-benar tak hilang ingatan. Lissa pasti akan jijik pada dirinya sendiri atau memang mungkin wanita itu bermuka tembok jika benar tak mengalami hilang ingatan dan kini ia masih berpura-pura hilang ingatan agar tak jatuh miskin atau kehilangan semua kemewahannya itu.
Namun. Nader merasa Lissa yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Lissa yang dulu. Selain sikapnya yang berbeda 360°. Nada dan cara bicaranya juga sangat berbeda. Apakah aktingnya yang Bagus sehingga dalam waktu singkat dia bisa berubah menjadi orang lain? Bahkan dia merasa tak pernah mengenal wanita itu sebelumnya.
Nader memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri ketika membayangkan semua kemungkinan itu. Pandangannya kini tertuju pada pergerakan kecil Lissa.
Livia bergerak gelisah di sofa karena tak nyaman. Dia miring ke kiri dan hampir saja terjatuh tetapi tak jadi. Tapi pergerakan keduanya ketika miring ke kanan membuatnya terjatuh juga.
Brugghhh!
“Awwhh!”
Nader hanya tersenyum tipis, tapi senyumnya hilang seketika saat melihat Lissa menoleh melihat kearahnya.
“Akh, hay. Se-selamat pagi,” sapa Livia canggung melihat Nader sudah bangun.
Nader tak menjawabnya. Dia hanya mengembuskan napasnya lalu turun dari ranjang, terus melangkah keluar dari kamar menuju ke kamar mandi yang berada di kamar sebelah.
Livia yang melihatnya menurunkan sebelah alisnya. Dingin sekali kakak iparnya itu. Apa karena itu dia dan Lissa akan berpisah? Entahlah, dia hanya akan bersamanya sampai ulang tahun pernikahan Nader dan Lissa serta ulang tahun Nader.
Tapi, menunggu tiga bulan rasanya waktu tak berjalan dan sehari itu sangat lama sekali.
Baru saja Livia bangkit. Terdengar ketukan pintu.
Knockk... knockk...
“Ya.”
“Lissa, kau sudah bangun?”
Terdengar suara nenek Maria mengetuk pintu.
“Ya grandma. Saya sudah bangun,” jawab Livia bergegas berlari membawa selimut kemudian dilemparkan ke atas ranjang supaya tak dicurigai oleh nenek Maria.
Tak lama pintu terbuka dan masuklah nenek Maria dengan wajah biasa saja.
“Good morning, grandma Maria,” sapa Livia canggung.
“Good morning too, Lissa. Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanya nenek Maria dengan senyum biasanya. Beliau juga masih belum bisa menerima Lissa tetapi sudah memaafkannya karena masalah perceraian itu antara Nader dan Lissa dan beliau tak mau ikut campur dan takkan pernah.
“Ba-baik grandma. Ba-bagaimana keadaan Anda sebaliknya?” Livia balik bertanya dengan gelagapan karena merasa canggung dan dia bingung harus bertanya apa.
Sementara nenek Maria mengerjap tak percaya. Selama hampir dua tahun Lissa menjadi istri cucunya tak pernah dia menanyakan keadaannya sekali pun juga. Tapi hari itu untuk pertama kalinya Lissa menanyakan kabarnya.
Nenek Maria tersenyum dari hati untuk pertama kalinya pada Lissa. Dari perkataannya itu dia tahu kalau Lissa tulus mengucapkannya dan tatapan mata itu memang berbeda dari Lissa yang biasanya.
“Turunlah untuk sarapan-”
“Apa Anda sarapan bersama kami?” potong Livia cepat.
Nenek Maria menggelengkan kepalanya. “Aku tidak biasa makan bersama kalian karena aku sudah tua.”
Livia mendekati nenek Maria lalu menggenggam tangan kirinya yang tak memegang tongkat. “Nenek- maksudku, grandma. Mulai saat ini bisakah Anda sarapan bersama kami?” bujuknya dengan tatapan memohon.
“Apa benar kau ingin sarapan bersamaku?” Nenek Maria mengingat bagaimana dulu Lissa dan Nader masih pengantin baru dan baru saja pulang dari bulan madu. Ketika mereka sarapan bersama untuk pertama kalinya. Nenek Maria sedang sakit batuk dan tak sengaja dia batuk di depan Lissa sampai makanan di mulutnya sedikit muncrat keluar.
Lissa mendadak bangkit dari duduknya sambil setengah membanting sendok yang dipegangnya. “Aku kenyang.” Dengan nada kesal dia pergi meninggalkan Nader bersama dengan neneknya.
Dari saat itu nenek Maria pindah ke mansion sebelahnya dengan alasan membiarkan Nader dan Lissa mandiri karena Nader sudah mempunyai istri, jadi beliau tak mau tinggal bersama istrinya itu. Dari saat itu juga Nader tahu kalau neneknya terlalu sering sakit-sakitan dan membuat Lissa kesal terus.
Karena cintanya pada Lissa dan menghormati keputusan nenek Maria. Akhirnya nenek Maria tinggal di mansion sebelah dengan syarat harus setiap hari datang ke mansion Nader atau Nader yang setiap hari menemui neneknya.
“Grandma? Apa ada masalah jika sarapan bersama?” ucapan Livia membuyarkan lamunan nenek Maria.
“Akh, baiklah. Aku akan sarapan bersama kalian?” Nenek Maria tersenyum sembari menepuk-nepuk pelan punggung tangan Livia.
“Baiklah, beri saya waktu sepuluh menit. Saya akan segera turun ke bawah,” kata Livia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Nenek Maria menghela napasnya. Terbesit sebuah ide di benaknya dan dia tersenyum tipis lalu pergi dari kamar tersebut.
Livia bergegas mandi dengan secepat mungkin karena dia tak mau membuat orang yang lebih tua menunggunya.
Baru saja dia keluar dari kamar mandi dengan bathrobe dan handuk yang melingkar di kepalanya. Terkejut melihat Nader sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Apa kau sudah selesai?” tanya Nader.
“Akh iya,” jawab Livia bergegas menuju ke ruang pakaian. Tetapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu. Bukankah semua pakaian Lissa sudah dibakar.
Knockk... knockk...
“Masuk,” jawab Nader.
Tak lama semua maid yang berjumlah puluhan masuk membawa gantungan pakaian besi panjang penuh dengan pakaian. Puluhan dus sepatu dan juga perlengkapan lainnya.
“Semua adalah milikmu,” kata Nader berdiri di dekat Livia yang bengong tak berkata sedikitpun.
Livia merasa pagi itu Nader telah membawa satu toko perlengkapannya ke sana. Bahkan kini ruang pakaian yang luas itu yang tadinya hanya seperempat pakaian Lissa kini hampir penuh dengan perlengkapannya tanpa kurang apa pun juga.
Dari tas, sepatu, jam, ikat rambut dan juga perhiasan mewah serta aksesoris semua adalah pilihan Nader.
Nader mendekati satu maid yang berdiri di samping pintu yang di kedua tangannya ada pakaian, dus sepatu dan juga aksesorisnya. Ia mengambilnya dari maid tersebut lalu menyuruh semua maid untuk keluar dari kamarnya.
Nader menyodorkannya pada Livia dan dengan ragu Livia menerimanya. Tetapi, baru saja Livia membalikkan badan. Nader sudah menahan Livia dengan memegang kedua pinggir lengannya lalu menurunkan kepalanya sedikit seraya mendekatkan bibirnya dengan telinga Livia kemudian berbisik.
“Ingatlah satu hal. Mulai saat ini kau harus memakai pakaian dan apa pun yang aku pilihkan untukmu tanpa banyak protes. Kalau kau membangkang sekalipun juga. Maka kedua orang tuamu akan aku hancurkan sehancur-hancurnya.”
Tubuh Livia gemetar dan dengan susah payah menelan salivanya. Kedua matanya bahkan terpejam saat membayangkan bagaimana hari-hari ke depannya yang pasti mulai saat ini dia akan menjadi sebuah boneka bagi Nader?
Nader menegakkan kembali tubuhnya sambil melepaskan kedua tangannya di pinggir lengan Livia. “Sepuluh menit aku tunggu di meja makan.”
Livia membuka kedua mata lalu menganggukkan kepalanya cepat tanpa menoleh ke belakang. Ia tergesa-gesa berjalan menuju ke ruang pakaian kemudian masuk lalu menutup pintunya.
Nader meraih map di atas nakas samping tempat tidurnya kemudian pergi dari kamar itu menuju ke ruang makan.
Di dalam ruang pakaian. Jantung Livia masih berdetak kencang. Tubuhnya yang selama ini jarang disentuh oleh pria, kini berulang kali disentuh oleh Nader, bahkan bibirnya sudah dua kali dicium oleh kakak iparnya itu.
Sejenak dia berpikir. Apakah dia salah telah menipu Nader dan semua orang kalau dirinya adalah Lissa? Bagaimana jika suatu hari rahasianya itu terbongkar? Lalu apakah dia bersama keluarganya akan masuk ke dalam penjara?
Namun, dia berpikir kembali. Demi kedua orang tua kandung, kedua orang tua asuh serta adiknya yang sudah dianggap sebagai adik kandungnya, dia harus bertahan dengan kakak iparnya.
Hanya satu yang perlu dia ingat bahwa pria yang saat ini tinggal satu atap bersamanya adalah kakak iparnya. Diliriknya jam di ruangan itu membuatnya terkesiap karena tiga menit sudah lewat dari sepuluh menit yang dijanjikan dan dia harus turun dalam sepuluh menit.
Livia bergegas memakai pakaian yang sengaja dipilihkan oleh Nader. Sebuah kemeja merah dengan celana panjang berbahan tissue berwarna hitam dengan setelan jas kantoran berwarna senada dengan celana.
Sepatu high heels berwarna merah dikeluarkannya dari dus sambil mengikat rambutnya yang panjang dikuncir kuda menambah kecantikannya meski make-up sederhana dia poles sekenanya di wajah demi mengejar waktu.
“Kenapa harus memakai sepatu ini? Menyebalkan,” rutuk Livia ketika hendak memakai high heels merah pilihan Nader.
Ketika dia pergi ke pesta. High heels yang dipilihkan oleh ibunya standar semua sehingga mudah untuk dipakainya, tetapi kali ini dia harus memakai high heels hampir 10 cm layaknya seorang wanita karier yang sudah sukses dengan penampilan boss besar dan parahnya Livia tak pernah memakainya sehingga ketika dia berjalan hampir saja terjatuh. Lama kelamaan dia pun mulai terbiasa dengan sepatu itu meski baru saja menuruni tangga dia hampir saja terjatuh lagi tetapi dia berlagak biasa saja.
Sesampainya di ruang makan. Dilihatnya Nader sedang membaca koran dengan segelas kopi di atas meja di depannya. Dia hanya sekilas melirik Livia yang menurut memakai pakaian yang dipilihnya dan untuk ke depannya wanita yang masih dianggapnya adalah istri sahnya itu harus selalu menurutinya sampai dia berkata 'Kita cerai'.
Salah satu pelayan pria menggeserkan kursi untuknya sampai Livia duduk dengan nyaman. Semua makanan untuk sarapan sudah ada di atas meja terdiri dari berbagai selai, roti tawar biasa dan ada yang dibakar. Belum daging asap yang diiris tipis serta berbagai jenis keju dan mentega.
Livia mengerjapkan matanya. Kemarin ketika di rumah ibunya dia tak mau sarapan seperti itu karena dia hanya membuat nasi goreng telur sosis kesukaannya. Tapi di sana dia merasa malu untuk meminta pelayan membuatkan nasi goreng untuknya.
Livia tidak langsung memakan sarapannya dan dia malah berkali-kali mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu melihat ke arah pintu.
Nader melipat koran dan hendak meminum kopinya, tetapi saat melihat Livia belum menyentuh apa-apa. Dia pun menjadi aneh. “Kenapa kau tidak sarapan? Sebentar lagi kita harus pergi.”
“Ahh, aku menunggu-”
“Kenapa kau terburu-buru seperti itu, Nader? Bukankah hari masih pagi.” Muncul nenek Maria dari arah dapur sambil menyuruh salah satu pelayan menuangkan sereal corn untuknya sarapan.
Nader menatap aneh pada neneknya. Apa yang hendak neneknya itu lakukan di sana? Kenapa nenek Maria sarapan bersama mereka?
Nenek Maria duduk di samping Nader berhadap-hadapan dengan Livia. “Sudah lama kita tak sarapan bersama seperti ini.”
Nader masih merasa aneh. “Tapi grandma-”
“Mulai saat ini dan seterusnya kita akan sarapan bersama seperti ini,” potong Livia tersenyum, namun kala menoleh pada Nader, senyumannya hilang seketika apalagi melihat tatapan tajam pria itu.
Nader masih menatap aneh pada nenek dan juga wanita di sampingnya itu. Apa benar dia adalah Lissa sang istrinya? Bagaimana bisa dia membiarkan neneknya sarapan bersamanya? Tetap saja di dalam benaknya semua itu hanya sandiwara belaka agar Nader benar-benar memaafkan semua kesalahannya.
“Nader, apa kau tidak sarapan … uhukk... uhukkk?” tanya neneknya dengan pura-pura batuk kecil.
“Grandma, apa Anda sakit?” tanya Livia tampak khawatir.
“Hanya batuk biasa,” jawab nenek Maria mulai melahap serealnya.
Ketika Livia hendak menyantap roti bakar diolesi selai dan mentega sementara Nader hendak menghabiskan kopinya. Mendadak nenek Maria terbatuk-batuk lagi sampai makanan di mulutnya keluar semua.
Livia langsung bangkit dari duduknya sampai Nader mengira kalau dia pasti akan kesal dan pergi dari sana. Tetapi kali ini jauh dari dugaannya. Lissa segera menghampiri nenek Maria lalu mengusap-usap punggungnya.
“Grandma, apa kau tak apa-apa? Perlu panggil dokter atau kita ke rumah sakit saja untuk periksa? Atau pelayan, tolong ambilkan air hangat. Grandma punya obat bukan?” Livia benar-benar panik melihatnya. Sebagaimana pun juga baru kali ini dia mempunyai nenek dan begitu baiknya nenek Maria padanya.
Gelas kopi masih mengambang di dekat mulut Nader kala melihat bagaimana perlakuan Lissa pada nenek Maria. Bahkan dengan lembut dan hati-hatinya Lissa mengelap mulut nenek Maria yang belepotan.
Begitu terkejutnya mereka begitu juga nenek Maria. Apakah itu benar-benar Lissa? Tanpa melihat dengan tatapan jijik, istri cucunya itu mengusap dengan pelan-pelan sampai mulutnya bersih.
“Akh, pakaian grandma juga kotor. Apa perlu saya bersihkan?” tanya Livia masih panik sembari mengusap pakaian nenek Maria yang terkena sereal.
“Tidak usah, grandma hanya tersedak saja dan tidak sedang batuk,” jawab nenek Maria tersenyum sembari memegang tangan Livia lembut.
“Grandma, istirahatlah dan jangan lupa minum obatnya,” kata Nader memanggil dua pelayan untuk mengantarkannya ke mansion sebelah.
“Biar aku yang akan mengantarkannya ke kamarnya,” ucap Livia membantu nenek Maria berdiri.
“Kita tak punya banyak waktu. Biar pelayan yang mengantarkan grandma ke mansion sebelah.” Nader menaruh lagi kopi yang sudah mulai dingin ke atas meja.
“Mansion sebelah?” Livia baru tahu kalau nenek Maria tinggal terpisah dengan mereka. Kenapa wanita yang sudah lansia seperti nenek Maria harus tinggal sendirian di sana?
Nenek Maria menepuk-nepuk punggung tangan Livia. “Pergilah, aku benar-benar tak kenapa-napa, hanya perlu istirahat sebentar saja.”
Livia menghela napasnya. “Kalau begitu mulai saat ini grandma tinggallah bersama kami di sini. Rumah sebesar ini dengan banyaknya kamar kosong kenapa harus tinggal terpisah?”
Lagi-lagi Nader menatap aneh pada Lissa, tetap saja di dalam benak dan hatinya, kalau wanita itu sedang berpura-pura. Tapi baguslah jika dia sendiri yang menginginkan neneknya tinggal bersamanya di sana. “Kalau begitu, antarkan beliau ke kamar utama di bawah,” ucapnya sembari menatap nenek Maria dan tersenyum tipis padanya.
Nenek Maria membalas senyum Nader sambil mengedipkan pelan kedua matanya mengisyaratkan bahwa semua itu adalah rencananya demi membantu Nader menguji Lissa.
Livia tersenyum mendengar Nader mengijinkan nenek Maria tinggal bersama mereka. Setidaknya di sana ada orang tua yang bisa memberi nasihat kapanpun juga kepada mereka.
“Sekarang ikut aku.” Nader berjalan duluan ke arah pintu diikuti oleh Livia di belakangnya.
Keduanya masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di halaman mansion.
Livia duduk canggung di samping Nader yang tampak sibuk dengan berkas-berkasnya. Dia berpikir, siang, malam dari bangun tidur sampai mau tidur lagi pria di sampingnya itu selalu bergelut dengan berkas-berkas dan map-map itu.
Orang kaya sekaligus pengusaha muda itu memang hebat, tetapi Livia merasa kasihan serta miris melihat mereka kurang tidur dan mungkin memeras otaknya agar jangan sampai perusahaan mereka mengalami kerugian atau bangkrut sebagaimana keadaan kedua orang tua kandungnya saat ini.
Livia juga berpikir. Ternyata menjadi orang kaya itu tidaklah mudah dan enak seperti yang terlihat. Banyak uang, bisa keliling dunia seenaknya dan juga berpesta setiap hari pasti Nader mampu. Namun, dia kini mengerti ternyata pesta-pesta yang dihadiri mereka hanyalah selingan dan juga sedikit hiburan saja disela kesibukan mereka dan jika itu adalah dia, mungkin kepalanya akan pecah.
Livia masih menatap dalam wajah Nader yang sesekali mengernyit membaca berkas di tangannya sehingga tanpa disadarinya Nader sudah menoleh membalas tatapannya itu membuat Livia langsung tersadar dan langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela pura-pura tak menatapnya dari tadi.
Padahal dari semenjak Livia menatapnya. Nader sudah meliriknya dengan sudut matanya sehingga tahu kalau Lissa menatapnya dalam dengan berbagai pertanyaan di benaknya itu. Tetap saja baginya semua hanya kepura-puraan saja.
“Apa ada yang hendak kau tanyakan padaku?” Nader baru menutup berkas di tangannya dan bertanya pada Livia.
Livia menggelengkan kepalanya sambil menjawab. “Tidak ada, lupakanlah.”
“Lissa, jika suamimu ini sedang bertanya atau bicara padamu. Kau harus membalas tatapanku juga.”
Livia baru memberanikan diri menoleh menatap Nader dengan hati yang kesal. Kenapa tidak satu hari saja pria itu tak kasar padanya? Apa dia memang tak bisa berbicara dengan lembut layaknya pria lain?
Nader menggerakkan kepalanya tanda masih menunggu jawaban Livia.
Livia mengembuskan napasnya kasar. “Baiklah, sebenarnya kita akan pergi ke mana pagi-pagi begini? Atau kita akan pergi ke pesta?” Dia mengira pakaian mewahnya itu untuk pergi ke pesta.
Nader memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menghela napasnya. Kenapa Lissa yang sekarang berlaga bodoh? Apa dia harus percaya kalau istrinya itu memang mengalami hilang ingatan?
“Nanti kau juga akan tahu.” Hanya jawaban singkat itu yang diberikan oleh Nader membuat Livia tak berani banyak bicara lagi.
Kini Livia sudah bisa memperkirakan sifat asli Nader. Bicara seperlunya saja, saling bertatapan mata jika bertanya atau berbicara (Livia tak tahu kalau hal itu hanya kepada para rekan bisnis yang dekat dan dia saja sementara yang lainnya Nader tak pernah menatap lawan jenis dengan seintens itu) egois sudah pasti, ingin menang sendiri, keras kepala dan juga suka semaunya. Buktinya mulai saat itu hanya Nader yang harus mengatur pakaian apa yang harus dipakainya.
Livia memang merasa sudah seperti sebuah boneka di tangan pria kasar dan angkuh di sampingnya itu.
Akhirnya mobil sampai di depan gedung yang menjulang dengan bangunan hampir kaca semua tetapi tak tembus pandang. Di samping gedung itu tertulis huruf besar Wordland.Alvaro.Company.
Nader dan Livia turun dari mobil. Livia berjalan mengikuti Nader di belakang kemudian dia malah berdiri terpaku sembari mendongak menatap gedung yang menjulang itu. Ada dua gedung saling bersebelahan tetapi beda bentuk dan juga tingginya. Tetapi semua itu masih perusahaan milik Nader.
Perusahaan. Batin Livia baru tahu kalau dia berpakaian seperti itu dengan tas jinjing kecil hanya untuk dibawa ke perusahaan Nader, apakah untuk ikut bekerja di sana?
“Nyonya muda. Silakan masuk,” kata seorang penjaga di depan pintu mempersilakan Livia dan pastinya sontak membuyarkan lamunan Livia.
Nader menghela napasnya sambil menoleh ke belakang di mana istrinya itu masih ketinggalan di belakang.
Livia tersenyum kikuk lalu berlari kecil menghampiri Nader dan lagi-lagi dia hampir saja terjatuh kalau tidak berhasil berpegangan ke lengan Nader.
“Hati-hati sayang,” kata Nader tersenyum tipis memegang tangan Livia tetapi senyum itu terlihat palsu bagi Livia.
Semua penjaga tersenyum juga melihat keromantisan mereka berdua dan selama ini mereka jarang bertemu dengan Lissa istri boss mereka setelah sekian lamanya Lissa memang jarang ke kantor Nader jika tidak ada urusan mendadak atau sangat penting.
Livia melepaskan tangannya sembari tersenyum canggung. “Maaf.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya itu.
Nader berjalan lagi diikuti oleh Livia karena Livia tidak mau berjalan beriringan seperti pengantin saja.
Semua pegawai penting sudah menunggu keduanya di Lobby, tersenyum menyambut kedatangan Nader bersama istrinya itu.
Salah satu manajer marketing menghampiri Livia. “Kami semua senang atas kedatangan Anda Nyonya muda Lissa dan kami juga sangat gembira mendengar kalau Anda sudah sembuh dari kecelakaan maut itu.”
“Te-terima kasih Tuan, saya juga tak mengira kalau masih hidup sampai saat ini-”
“Ehemmm,” tiba-tiba Nader berdeham membuat semuanya menunduk tetapi Livia malah menatapnya aneh.
“Kalian kembali ke meja masing-masing, tak perlu penyambutan resmi karena ini bukan kali pertama dia datang ke sini.” Yang dimaksud Nader kenapa harus menyambut mereka seresmi itu sementara Lissa sudah sering datang ke sana.
Sementara para pegawai hanya ingin menyapa istri boss mereka setelah sekian lama tak bertemu. Apalagi mendengar kalau dia hilang ingatan. Tetapi reaksi Nader sangat berbeda dan memang seperti itulah boss mereka.
Livia lagi-lagi dibuat tersenyum canggung dan bingung harus bagaimana menyikapinya?
Bersambung.