Beberapa minggu berlalu setelah pesan terakhir Elsa.
Waktu, ternyata, tidak selalu bergerak maju dengan cara yang terasa gagah. Kadang ia hanya lewat pelan di samping kita, membawa kantong belanja, membayar listrik, menjemput anak, menyeduh kopi, duduk di meja kerja, dan berpura-pura tidak tahu bahwa di dalam d**a seseorang masih ada ruangan yang belum selesai dibereskan.
Aku tidak menghubungi Elsa lagi.
Tidak karena tidak pernah ingin.
Keinginan itu masih ada.
Kadang muncul pada pagi yang terlalu sepi. Kadang saat hujan mengetuk genting. Kadang ketika melewati jalan yang dulu mengarah ke sekolah. Kadang ketika sebuah pesan masuk dan tubuhku, sebelum sempat berpikir, masih berharap melihat namanya.
Tetapi harapan tubuh tidak selalu boleh menjadi perintah.
Aku belajar itu dengan susa