Aku baru saja akan menyimpan ponsel ke dalam saku ketika alat itu bergetar satu kali lagi. Lembut. Pendek.
Kali ini bukan dari mereka.
Elsa mengirim pesan lebih dulu.
Aneh ya, aku tadi lewat dekat sekolah lama. Gedungnya sudah berubah banyak.
Aku menatap layar itu. Dan seketika, tawa ringan dari reuni singkat tadi menguap. Ibu jariku mendadak kaku di atas keyboard. Dadaku kembali menyempit oleh perasaan yang sama seperti anak tujuh belas tahun yang sedang berdiri di bawah hujan.
Seperti seseorang baru saja menyentuh kabel yang sama dari ujung lain.
Aku membalas:
Halte juga sudah enggak ada kata Tika.
Iya. Jalan sudah dilebarkan. Warung Bu Nani juga sudah lama tutup.
Aku membaca nama warung itu dan langsung mencium bau gorengan.
Tubuh memang tidak tahu malu.
Ia bisa membawa seseo