"Siapa yang menyuruhnya?" tanya Sean.
"Kami masih belum menemukannya tuan" balas Jamsh.
"Selidiki dengan benar" ucap Sean mendapat anggukan dari Jamsh.
Beralih ke rumah sakit, Alea masih membaringkan tubuhnya. Leon juga masih berada di dalam ruangan itu. Hanya saja tak ada perbincangan dari keduanya. Leon terus memperhatikan Alea dengan seksama, ia terkagum-kagum dengan kedua bola mata yang dimiliki Alea, yang dalam artian berarti Alea termasuk spesial.
"Ahhhh aku sangat bosan" ucap Alea dengan wajah lesunya mengalihkan pandangan Leon.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman?" tawar Leon yang langsung mendapat seribu anggukan dari Alea.
Leon tersenyum kecil melihatnya, benar-benar pemandangan yang lucu.
"Baiklah akan aku ambilkan kursi roda lebih dulu" ucap Leon.
"Ok" balas Alea.
Tak membutuhkan waktu yang lama kini Leon sudah kembali dengan membawa kursi roda. Ia membantu Alea berdiri dan duduk di atasnya.
Leon mulai mendorong membawa Alea untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit.
"Ternyata rumah sakit ini sangat luas ya"
"Ya lumayan"
"Sebentar lagi kita akan sampai di taman" sambung Leon.
"Baiklah, aku sudah tidak sabar ingin melihatnya" balas Alea.
Leon masih mendorong Alea dengan pelan, entah kenapa hatinya merasa cukup senang kala melihat Alea yang bergembira.
"Maxi?" gumam Leon.
Seketika ekspresi wajah dan hatinya berubah. Seolah ada sesuatu yang tidak baik telah terjadi pada keduanya.
"Apa?" tanya Alea yang kurang jelas mendengar apa yang Leon ucapkan.
"Tidak" balas Leon singkat lalu mempercepat dorongan kursi rodanya.
"Hey pelan-pelan" ucap Alea sedikit keras membuat seseorang menoleh.
"Jangan sampai bertemu" pekik Leon yang langsung memutar posisi kursi roda.
Sementara Maxi yang mendengar suara itu masih menoleh dengan rasa penasarannya. Ia merasa tidak asing dengan suara gadis itu.
Maxi berjalan untuk mengejarnya namun tiba-tiba seorang gadis cantik dan rapih datang menghampirinya dengan membawa beberapa berkas ditangannya.
"Tuan Max, kita harus segera menemuinya" ucap Alice Valencia sekretaris Maxi.
"Hm" angguk Maxi memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju tujuan awal.
(Kenapa suara itu mirip sekali dengan seseorang) pikir Maxi dengan kaki yang terus melangkah menuju salah satu ruangan.
"Kenapa mendorongku sangat cepat" ucap Alea.
"Bukannya mau ke taman?"
"Ya iya sih. Memangnya harus cepat-cepat ya"
"Memangnya kenapa? kamu mau berlama-lama denganku?" goda Leon.
"Yaampun" timpal Alea.
(Ternyata kakak adik tidak jauh beda) pikir Alea.
Leon menghentikan dorongannya kala mereka sampai di sebuah taman.
Alea merasa senang kala melihat pemandangan yang ada di taman rumah sakit itu. Ternyata area taman di sini sangat luas. Selain itu banyak juga pengunjung dan anak-anak yang sedang bermain. Bahkan ada juga orang yang berjualan disana.
Mungkin hal itu sengaja agar orang-orang yang sakit bisa berkunjung ke taman ini dan tidak merasa bosan.
"Tunggu sebentar" ucap Leon.
"Mau kemana?" tanya Alea namun tak mendapat jawaban apapun karena Leon yang langsung berjalan pergi.
Leon sedikit menjauh dari Alea, ia mengambil ponselnya dan menekan beberapa tombol untuk menghubungi seseorang.
"Hallo, kak. Aku bertemu kak Maxi di rumah sakit" ucap Leon pada panggilannya.
"Baik, aku tunggu" tutup Leon mengakhiri percakapan.
Leon kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku putih miliknya. Ia berbalik untuk kembali menuju Alea.
"Leon" panggil Alea yang sudah berada di belakangnya.
"Alea? sejak kapan kamu disini?" tanya Leon.
"Sejak kamu menelpon"
"Lain kali tidak boleh menguping, itu adalah perbuatan yang tidak baik"
"Baiklah, tapi yang terpenting sekarang. Aku pengen itu" tunjuk Alea.
Leon mengernyitkan dahinya melihat apa yang gadis itu tunjuk.
"Balon?" tanya Leon.
Alea menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan. Ia menginginkan benda itu karena sangat terlihat lucu.
"Tadi aku mau ambil, tapi dia malah minta uang padaku" kesal Alea.
(Astaga, sebenarnya apa yang telah mereka berikan padanya) gerutu hati Leon.
"Ayo kesana, kau akan mendapatkannya" ajak Leon.
Leon mulai mendorong kursi roda Alea membawanya menuju abang balon.
"Dokter Leon" sapa abang balon.
"Saya mau balonnya satu" ucap Leon.
"Baik, ini dokter" ucap abang balon memberikan balonnya yang berbentuk kelinci.
"Terimakasih, ini uangnya" ujar Leon memberikan selembar uang.
"Tidak perlu dokter"
"Sudah ambil saja" paksa Leon, karena bagaimanapun juga ia sedang berjualan di taman ini.
"Terimakasih dokter" ucap abang Balon.
Leon kembali mendorong Alea menuju kursi panjang yang ada disana.
Baru juga mereka sampai, tiba-tiba Sean datang menghampiri Leon tanpa sepengetahuan Alea yang sibuk melihat dan memainkan balonnya.
Sean menatap pada Leon. Lalu mereka saling menganggukkan kepala. Ia beralih mengambil kursi roda membuat Alea menoleh untuk mengetahui siapa yang ada dibelakangnya.
"Sean?" pekik Alea.
"Ehh mau kemana?" tanya Alea yang merasa dorongan Sean semakin cepat.
Sementara itu, Leon melihat seorang wanita paruh baya yang sedang menatap kosong ke arah tempat bermain anak-anak.
Ia mulai berjalan menghampiri wanita tersebut.
Lima menit sudah Leon mengajak wanita itu berbincang, mengalihkan pikiran kosong yang ada padanya. Sesekali Leon membicarakan hal yang lucu agar dia tertawa.
Grep.
Seseorang menepuk pundak Leon, ia berbalik.
"Tuan Maxi" sapa Leon dengan senyum ramahnya.
"Jangan basa basi" balas Maxi yang langsung memutar kursi roda dan melihat siapa yang sedang duduk diatasnya.
(Ternyata bukan) pikir Maxi.
"Tolong bersikap sopanlah pada pasien saya" ucap Leon ramah namun ada tatapan tidak menyenangkan dimatanya.
"Tenang saja, salah orang. Kau bertumbuh dengan baik dan terlihat sehat ya" ucap Maxi dengan menyunggingkan senyumnya.
"Tentu saja" balas Leon tak ingin kalah.
"Sudahlah ayo pergi" ucap Maxi pada Alice dengan tatapan dingin pada Leon.
"Selamat jalan" ucap Leon dengan tetap memasang senyum ramahnya.
Maxi berbalik dengan senyum mengejek meninggal tempat itu. Dan Leon ia membuang wajahnya dengan kepalan tangan kanannya.
Disisi lain Alea sudah berada di ruangannya. Sean meminta suster untuk mempersiapkan keperluannya karena Sean menginginkan Alea segera keluar dari rumah sakit ini.
Sepanjang jalan Alea terus melontarkan banyak pertanyaan pada Sean, namun lelaki itu tidak menjawab satu pertanyaanpun.
Alea dibuat kesal oleh sikapnya, ia lebih memilih untuk diam dan memainkan balon yang ia punya.
"Jamsh bagaimana?" tanya Sean.
"Sudah disiapkan semuanya dan aman tuan" jawab Jamsh.
"Bagus, bawa dia. Terlalu bising jika terus di dekatku" ucap Sean membuat Alea memincingkan matanya.
Jamsh mengangguk, tangannya beralih mendorong Alea.
Dan Alea, ia sudah pasrah mau dibawa kemana. Ia juga tidak tahu tujuannya saat ini harus kemana dan bagaimana. Pikirannya masih belum bisa menangkap apa yang terjadi sebelumnya padanya.
Hanya saja ia tahu, bahwa saat ini hanya Sean yang dapat ia percayai karena hanya lelaki itu yang mau menolongnya. Dan Sean juga merupakan orang pertama yang ia temui.