"Dokter" panggil suster membuat Leon tersadar.
"Iya" balas Leon.
"Apa dokter baik-baik saja?" tanya suster yang merasa sedikit aneh dengan ekspresi Leon saat ini.
"Saya tidak apa-apa, semuanya boleh keluar" jawab Leon mendapat anggukan dari para suster.
Mereka mulai meninggalkan ruangan itu, membuka pintu yang dimana terlihat Sean sedang menundukkan kepalanya.
"Kak" panggil Leon.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Sean yang langsung berdiri.
"Dia sekarang baik-baik saja, punggungnya sedikit memar dan kedua tangannya diperban karena goresan pisau cukup dalam" jelas Leon.
"Apa itu akan membekas?" tanya Sean. Yang ia tahu, bahwa para wanita pasti selalu memperhatikan penampilan mereka. Begitu juga dengan Alea, mungkin ia tidak ingin ada bekas luka di atas kulit putih lembut miliknya.
"Tentu itu akan membekas, tetapi jika kita merawatnya dengan baik dan memberikan salep sesuai aturannya. Perlahan bekas itu akan pudar."
"Baguslah kalau begitu" timpal Sean.
Drrrrtt ... drrrtt ... drrtt
Ponsel Sean bebderung, ia merogoh saku jas miliknya mengangkat panggilan tersebut yang berasal dari Jamshon.
"Bagaimana Jamsh" ucap Sean menjawab panggilan tersebut.
"Bagus, aku akan segera kesana" sambung Sean lalu menutup panggilannya.
"Ada apa?" tanya Leon.
"Akan ku beritahu nanti, titip dia" ucap Sean menepuk pundak sang adik.
Leon membalas dengan menganggukkan kepalanya. Lalu Sean ia beranjak pergi menuju pintu lift untuk keluar dari rumah sakit.
"Kak tunggu" ucap Leon membuat Sean menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Apa dia gadis itu?" tanya Leon.
"Hm" angguk Sean.
"Kakak harus pergi" sambung Sean lalu menekan tombol lift meninggalkan rumah sakit.
Leon masih memandang Sean yang kini sudah masuk ke dalam lift. Lalu sorot matanya mulai meredup, kenapa ia harus mendengar suara itu lagi?
Leon membalikkan tubuhnya, ia kembali masuk ke dalam ruangan yang dimana disana terlihat Alea yang sedang terbaring menutup kedua matanya.
"Kenapa suara itu harus sama denganmu" lirih Leon menatap Alea.
Kini ia sudah berada dekat di samping ranjang Alea, menatap dengan lekat gadis yang ada dihadapannya bak seorang putri tengah tertidur cantik.
"Bisakah kau berkata sekali lagi" gumam Leon merapikan rambut Alea yang sedikit berantakan.
"Siapa kamu" tanya Alea yang mulai membuka matanya.
Dengan cepat, Leon segera menarik kembali tangannya.
"Siapa kamu" ulang Alea lalu mencoba untuk duduk.
"Aw" rintih Alea karena punggungnya terasa ngilu.
"Tenanglah, aku dokter disini" balas Leon.
Alea tak menjawab, ia memandang penuh curiga pada lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Sedangkan Leon, ia terdiam kala melihat kedua bola mata gadis itu yang terlihat unik dan sangat indah.
"Matamu" potong Leon.
"Kenapa?"
"Sangat indah" ucap Leon.
"Terimakasih. Oh ya, dimana Sean?" tanya Alea.
"Dia sedang ada urusan, perkenalkan aku Leonard. Panggil saja Leon. Adik Sean"
"Oh ternyata kamu adiknya, halo salam kenal. Namaku Alea"
"Alea?"
"Iya, bagus tidak?"
"Bagus"
"Hihi, makasih. Ternyata kamu lebih mudah di ajak ngobrol di banding kakakmu yang sedingin es" bisik Alea.
Leon terkekeh dibuatnya, baru kali ini ia mendengar orang yang mengejek kakaknya di depannya.
Memang kedua saudara tersebut mempunyai tempramen yang berbeda. Sean selalu bersikap dingin, sedangkan Leon ia selalu bersikap hangat. Terkadang semua orang bingung, apakah mereka memang saudara kandung.
Beralih ke sisi Sean, ia sudah keluar dari rumah sakit itu. Sean memasuki mobilnya lalu menancapkan gas dengan kecepatan tinggi.
Tangannya sedikit mengepal, ekspresi wajahnya sudah pasti menandakan hal yang tidak baik pasti akan terjadi.
"Tuan" hormat bawahan Sean yang berjaga di pintu.
Sean sudah sampai di tempat tujuannya, yaitu basecamp miliknya yang berukuran sangat besar. Ruangan itu dipenuhi dengan alat-alat canggih sekaligus alat yang berbahaya.
"Jamsh" panggil Sean.
"Saya disini tuan" balas Jamsh.
"Maaf tuan, aku tidak mempersiapkannya dengan baik dan malah terjadi hal seperti ini di luar rencana kita" sambung Jamsh.
"Tidak apa, dengan begini kita tahu siapa yang sudah berkhianat" timpal Sean dengan wajah seriusnya.
"Ampun tuan, tolong lepaskan saya. Saya tahu saya salah" ucap seseorang yang kini tengah berada di hadapan Sean dengan jarak kurang lebih tiga meter.
Kondisi lelaki itu sangat memprihatinkan, wajahnya babak belur dan di sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ia duduk di tengah kursi dengan ikatan tali yang melingkar mengikat tubuhnya.
"Kau berkhianat padaku, dan kau ingin membunuhku. Apa pantas untuk dimaafkan?" balas Sean tersenyum merogoh saku jas nya mengeluarkan pematik rokok.
"Tuan saya tidak bermaksud-"
Ia tak melanjutkan perkataannya kala melihat Sean yang mulai berdiri dan melangkah dengan menghisap rokok membuat dirinya ketakutan setengah mati.
Bug!!
Pukulan mendarat pada perut lelaki itu.
Bukan Sean yang memukulnya, melainkan bawahannya yang ia perintahkan hanya dengan sedikit menggerakkan jari jemarinya.
"Siapa yang memerintahmu melakukan hal itu" tanya Sean berubah menjadi sangat serius membuat hawa disekitarnya mulai berubah menjadi semakin menakutkan.
Lelaki itu tidak menjawabnya, ia memilih untuk diam menyumpal mulutnya sendiri.
Sean berdecak, tak lama ia tersenyum dan mulai membuka jas yang ia kenakan.
"Jamsh" panggil Sean memberikan jas hitam miliknya.
Ia membuka kancing bagian tangan, lalu melipatnya hingga setengah lengan agar mudah dan leluasa untuk melakukan sesuatu.
"Ampuni saya tuan" mohon lelaki itu dengan keadaan yang sudah sangat menyedihkan.
"Tidak ku sangka kau berani ingin menusukku dari belakang, katakan siapa yang menyuruhmu" tanya Sean mengeratkan tangannya pada leher lelaki yang ada didepannya.
"Tu-tuan" ucap lelaki itu yang tak lain adalah ketua preman yang ingin menusuk Sean namun malah melukai Alea.
Suppp...
Ujung rokok yang sangat panas Sean arahkan pada rahang lelaki itu.
"Arrghhh ampun tuan" teriaknya.
"Katakan kepadaku siapa yang menyuruhmu" tegas Sean semakin menekan rokoknya hingga patah.
"Ya-ng menyuruhku-" belum sempat mengatakan kalimatnya, ia sudah meninggal karena racun yang ada di tubuhnya.
"Sial, padahal aku belum puas bermain dengannya" kesal Sean lalu menghempas lelaki itu dengan kasar.
"Jamsh, cari tahu lebih dalam. Kuburkan dia dengan layak. Dan kirim uang pada istri dan anaknya, bagaimanapun juga dia pernah menjadi bagian anggota kita" sambung Sean.
"Baik tuan"
"Tuan, bagaimana dengan nona Alea?"
"Dia baik-baik saja. Kita harus tetap melanjutkan rencana kita" ucap Sean.
"Baik tuan"
"Dan ingat, jangan sampai kesalahan ini terulang lagi"
"Baik tuan"
Sean berjalan meninggalkan semua yang ada di sana, ia berjalan menuju ruangan pribadinya.
Lima belas menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu pada ruangan Sean.
"Masuk"
Klek.
Jamsh membuka pintunya, ia berjalan mendekat pada Sean dengan memberikan sebuah kertas.
"Dia sudah memakan racun, dimana racun itu sangat mematikan. Racun itu akan tidak menunjukan apapun, ia akan langsung mematikan saraf manusia dalam sekejap. Sepertinya dia memakan racun itu lima jam sebelum beraksi" jelas Jamsh pada Sean.
"Sebegitu baguskah racun itu?" ucap Sean pelan.
"Menarik" sambungnya dengan menyeringai membuat bulu kuduk Jamsh merinding.