Normal nya manusia akan merasakan cemburu setidak nya berkali kali pada orang yang sama. Mungkin itu Reesha.
"Aku akan pergi ke tempat ayah ray dan mengajak nya membawa Gabriella kembali pulang kemari". Reesha mengatakan itu sambil merapikan meja kerja nya.
"Ha? Apa?". Heran lah Abhi pada wanita nya itu.
"Iya aku tidak ingin adikku menderita selama disana dan culun jika aku terus menangis tanpa melakukan apapun". Reesha menatap serius lelaki yang kini heran itu.
"Boleh kah?". Reesha bertanya
"Emm boleh tapi jangan terlalu lama". Pesan Abhi sambil tersenyum tipis.
Benar Reesha menemui ray dan mengajak nya. Ray adalah orangtua tiri Reesha.
"Boleh kan pi?". Tanya Reesha
"Bagaimana baik mu saja Reesh". Jawab Ray.
"Rayen benar lebih cepat akan lebih baik nak". Sambung Netha.
"Terimakasih kalian aku akan menelfon Abhi lagi dan berpamitan". Reesha membuka tas nya dan menyadari telfon nya tertinggal di rumah.
"Pi bagaimana telfon ku tertinggal aku harus pulang". Reesha pamit
"Biar ku antar saja nak". Tawar Ray.
"Baik ayo". Reesha pergi menaiki motor bersama rayen untuk mengambil ponsel. Dan dalam perjalanan
"Boleh aku tanya sesuatu pada mu sha?". Tanya Rayen.
"Tanyakan saja". Jawab Reesha.
"Setelah kematian Aliya dan hiro apa kau tidak ingin kembali pada ku?". Reesha diam sejenak memikirkan pertanyaan itu.
"Kembali pada ayah?". Reesha bertanya sekali lagi.
"Tentu saja padaku, Netha juga telah menerima mu kembali ke rumah kami". Rayen membujuk.
"Semua itu perlu waktu ayah. Aku telah memiliki keluarga sendiri selain itu aku juga harus menjaga adikku dan terus ada untuk keluarga algantara". Reesha ber alasan.
"Mengapa kau begitu menyayangi Gabriella ingat Reesh dia akan kembali pada orangtua nya suatu saat nanti". Rayen meragukan putri nya itu.
"Ayah tidak pernah menyamai penderitaan Gabriella sepanjang dia dengan ku, Lantas dari itu aku memilih menjaga nya". Reesha mengatakan itu dengan sangat yakin.
"Keras kepala sudahlah cepat ambil". Rayen menyerah dan memilih agar puteri nya itu menentukan hidup nya sendiri.
Langkah kaki nya tidak terdengar memasuki rumah itu saat sektika pandangan matanya seakan berbohong. Iya seakan yang iya lihat ini berbohong. Ayesha pembantu baru itu datang ke base pribadi Abhi. Yakni ruang musik nya. Dan terluka jelas hati Reesha pikiran nya dan cemburu nya bergabung untuk pertama kali. Ruang tertutup yang bahkan reesha sendiri tidak di perbolehkan masuk. Lantas? pembantu itu orang baru itu masuk membawakan secagkir teh lalu berbincang tanpa rasa bersalah. Tatapan yanh jarang Reesha lihat dari mata itu menjadi jawaban nya. kini cemburu nya menang atas diri nya sendiri.
"Tok..tok". Reesha mengetuk pintu itu untuk memecahkan suasana yang tidak ia inginkan.
"Reesha?". Batin Abhi merasa bersalah lewat pandangan Abhi menyadari pada apa yang Reesha rasakan.
"Nona Reesha?". Ayesha mengemas teh itu dan beranjak pergi. Reesha menerjunkan pandangan mata nya dan mengatakan
"Keluarlah ayah Ray datang". Reesha Lalu pergi dan mempersilahkan Rayen masuk.
"ini ya lelaki nya?". Rayen menatap Abhi dengan heran seolah belum pernah bertemu sama sekali.
"Ayah ku buatkan kopi ya duduk lah yah". Reesha melempar senyum. meski bukan orang tua kandung nya Reesha sangat menyayangi Rayen karena berkat rayenlah reesha berhasil menemukan Aliya dan hiro selepas apa yang terjadi..
Setelah Reesha ke belakang..
"kenapa dia?". Rayen bertanya sambil berbisik
"Entahlah aku akan menyusul nya". Abhi bangkit berdiri dan menghampiri Reesha.
"Kenapa?". Abhi bertanya lagi
sekali lagi pandangan mata itu turun.
"Tidak". Reesha mematikan kompor dan menuang teh.
"Reesha lihat aku". Abhi mengguncang tubuh itu dan menegak kan wajah nya sehingga kedua nya saling menatap.
"Apa yang harus ku lihat?". Reesha menghindar
"Ayesha?". Abhi menebus hati wanita itu. Perasaan yang tidak bisa lagi Reesha jelaskan seperti apa rasa nya Cemburu itu menguasai diri nya.
Reesha mengganguk kecil dan menurunkan pandangan nya.
"Cemburu jangan?". Lelaki itu terus bermain dengan pandangan.
"Terserah".Reesha pergi tanpa membawa teh itu ke depan.
"Ayah tadi.." Reesha menyadari dia tidak membawa teh nya dan terpaksa ke belakang lagi
"Astaga lupa". Ia berlari ke dapur lagi.
Abhi masih disana bersama teh nya.
"Cemburu jangan?". Abhi menahan tawa nya sendiri.
"Terserah". Jawaban yang sama.
saat Reesha mencari gula batu untuk pemanis teh buatan nya gula itu hilang dari tempat nya.
"Ha? habis?". Reesha heran perasa nya baru semalam ia membeli
"Apa yang kau cari?". Abhi menunjukan gula itu di tangannya
"Kemarikan". Reesha tersenyum sambil berusaha merebut
"Istt ambillah". Abhi membuat gula itu sulit di jangkau Reesha yang jauh lebih pendek dari nya.
"Terserah ayah akan meminum kopi pahit dan itu karena mu". Reesha Menyerah
Abhi memegang kedua tangan itu dan menyelaraskan dengan d**a nya lalu mengatakan
"Cemburu jangan? Reesha. aku tidak se peka bayangan mu. Jadi salah jika kau berharap aku menyadari nya tanpa kau mengatakan nya.
"Apa salah nya cemburu jika aku merasa kau milikku?". Reesha tersenyum malu.
"Aneh. dia tida se sempurna itu untuk bisa menggantikan mu". Abhi meyakin lagi.
"Tapi?". Reesha memastikan
"Tapi?". Abhi bertanya
"Tapi aku tidak menyukai nya". Reesha memalingkan wajah nya ke samping
"Peluk dulu jangan?". Abhi membuat wanita itu nyaman drngan sikap nya yng hangat seiring berjalan nya waktu.
Reesha langsung memeluk lelaki yang ada di depan nya itu dan mengatakan.
"Aku membenci banyak hal yang bisa menggantikan aku". Reesha Menyerah pada cemburu nya dan memilih mengatakan nya.
"Cemburu ini? Hey dia bukan siapa siapa yanh bisa menggantikan mu semudah yang kau lihat". Abhi membelai rambut wanita itu dan membuat nya yakin lagi.
Rayen merasa sudah terlalu lama ia menunggu dan memilih menyusul ke dapur juga.
"Cemburu tapi ya terserah". Reesha memeluk nya semakin erat.
"Reesha! Ce". Rayen tidak menuntas kan kalimat nya dan merasa bersalah telah merusak momen dua orang itu.
Reesha Melepas peluk nya dan merasa bingung harus melakukan apa.
"A-Ayah ini teh mu mari ke depan". Reesha membawa cangkir teh itu dan pergi dengan menunduk.
Abhi tetap diam dan menatap heran. Apa yang ia lihat dan rasakn jauh dari reesha yang pernah ia kenal.
"Wanita itu? cemburu? Abhi apa ini? Hahah". Abhi tersenyum heran apa yang ia rasakan pelukan yang erat yang tidak pernah ia dapat dari siapapun. pelukan yang tulus pelukan untuk saling memiliki. Reesha tidak pernah minta hati nya jatuh pada siapa tapi tangis cemburu itu sudah cukup menjawab sesuatu...