Pagi hari itu dimulai dengan suara retakan.
Bukan retakan kecil yang biasa terdengar dari kayu tua, melainkan suara yang dalam dan mengkhawatirkan dari lantai dua. Savira terbangun dengan jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia duduk di ranjang, masih mengenakan piyama abu-abu, sementara Arkan sudah berdiri di dekat pintu, memakai celana training hitam dan kaos oblong yang menampilkan garis bahu tegapnya. Wajahnya serius.
“Tunggu di sini,” perintahnya singkat sebelum keluar.
Savira tidak mematuhi. Ia menyusul beberapa detik kemudian, melangkah cepat menyusuri koridor yang masih redup. Di tangga, beberapa pekerja renovasi sudah berkumpul dengan wajah tegang. Bau debu tebal memenuhi udara. Ibu Ratnawati berdiri di kaki tangga dengan wajah pucat, sementara Sania mencoba menenangkan dua pembantu yang panik.
“Apa yang terjadi?” tanya Savira.
Salah satu mandor, pria berkulit gelap dengan helm kuning, menoleh. “Dinding penyangga di kamar utama retak, Mbak. Bukan retak biasa. Ada pergeseran struktur. Kami harus mengosongkan seluruh lantai dua hari ini juga. Tidak aman.”
Arkan berdiri di samping mandor, lengan disilangkan. “Seberapa parah?”
“Parah, Mas. Kalau dipaksa dipakai, risikonya runtuh sebagian. Kami butuh minimal enam hingga delapan minggu tambahan untuk perkuatan. Mungkin lebih kalau cuaca terus begini.”
Delapan minggu.
Angka itu terasa seperti hukuman. Savira menelan ludah. Ia sudah mengira renovasi akan molor, namun mendengarnya secara resmi membuat d**a terasa sesak. Kamar-kamar di lantai dua yang semula direncanakan sebagai pilihan cadangan kini resmi tidak bisa digunakan. Artinya, sayap belakang dan kamar yang mereka tempati menjadi satu-satunya area yang dinyatakan aman untuk ditinggali dalam jangka panjang.
Ibu Ratnawati menghela napas berat. “Jadi hanya kamar belakang yang masih layak?”
Mandor mengangguk. “Ya, Bu. Struktur di sayap belakang masih kuat. Yang lain harus dikosongkan total mulai siang ini.”
Arkan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap ke arah Savira sejenak, lalu berbalik dan memberikan instruksi cepat kepada para pekerja. Suaranya tetap tenang, namun ada ketegangan di bahu yang tidak biasa ia perlihatkan. Savira memperhatikan dari kejauhan. Pria itu terbiasa menyelesaikan masalah dengan cepat dan presisi. Tapi masalah kali ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan perintah.
Siang itu berlalu dalam kekacauan yang terkendali. Perabot dari lantai dua dipindahkan ke gudang sementara. Debu beterbangan di setiap koridor. Savira mencoba membantu Sania merapikan beberapa barang, namun pikirannya terus kembali ke kamar yang sekarang resmi menjadi satu-satunya tempat tinggal mereka berdua untuk waktu yang tidak singkat.
Ketika sore tiba, rumah terasa lebih kosong dan lebih sesak sekaligus. Lantai dua dipasangi garis pembatas merah. Suara bor dan palu masih terdengar, namun kini disertai perintah untuk tidak mendekat.
Arkan menemukan Savira di kebun belakang, sedang berdiri di bawah pohon rambutan yang daunnya basah oleh hujan gerimis siang tadi. Ia mendekat dengan langkah mantap, jasnya sudah diganti dengan kemeja abu-abu yang lengan kemejanya digulung.
“Kamu mendengar sendiri,” katanya tanpa basa-basi. “Estimasi resmi delapan minggu. Bisa lebih.”
Savira tidak menoleh. “Saya bisa pindah ke hotel.”
“Tidak.” Jawaban itu tegas. “Pak Gumilar sudah memutuskan. Semua ahli waris harus tetap di rumah selama proses ini. Ada klausul dalam surat wasiat yang mengharuskan kehadiran fisik untuk beberapa tahap pembagian. Kalau kamu pindah, proses bisa molor lagi. Atau lebih buruk, digugat.”
Savira akhirnya berbalik. “Jadi saya tidak punya pilihan?”
“Kita berdua tidak punya pilihan,” jawab Arkan. Matanya menatap lurus. “Saya juga tidak menikmati situasi ini.”
Kalimat itu diucapkan datar, namun ada kejujuran di baliknya yang membuat Savira terdiam. Ia menatap pria di depannya—iparnya, pria yang selama ini hanya ia kenal dari kejauhan, kini terpaksa berbagi ruang yang semakin tidak bisa dihindari.
“Dinding di lantai dua runtuh,” kata Savira pelan. “Dan sekarang dinding di antara kita juga mulai terasa tipis.”
Arkan tidak menjawab langsung. Ia mengalihkan pandangan ke arah rumah yang setengah terbuka, scaffolding menjulang seperti tulang-tulang yang terbuka. “Dinding memang tidak abadi. Tapi batas tetap harus dijaga.”
Mereka berdiri berdua di bawah pohon dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara daun basah dan jauhnya deru mesin renovasi. Savira merasakan angin malam yang mulai dingin menembus kemejanya. Ia seharusnya merasa marah. Atau setidaknya resah. Namun yang ia rasakan lebih rumit—campuran antara keterpaksaan, kewaspadaan, dan sesuatu yang tidak ingin ia namai.
Malam itu, suasana di dalam kamar berubah.
Karena lantai dua dikosongkan, beberapa barang tambahan dipindahkan ke sayap belakang. Lemari kecil kedua masuk. Meja kerja lipat disediakan untuk Savira. Sofa yang semula cukup untuk Arkan tidur kini terasa lebih sempit karena tumpukan dokumen perusahaan yang ia bawa pulang. Ruangan yang sejak awal tidak besar kini terasa semakin penuh oleh kehadiran dua orang dewasa yang berusaha keras untuk tidak saling menyentuh, bahkan secara tidak sengaja.
Arkan duduk di meja kecil, meninjau laporan struktur bangunan yang baru dikirim mandor. Savira duduk di tepi ranjang dengan laptop di pangkuan, mencoba membalas beberapa email kerja. Cahaya lampu meja hanya cukup untuk menerangi sebagian ruangan, meninggalkan sudut-sudut lain dalam bayangan.
Sesekali, ketika salah satu dari mereka bergerak, kursi bergeser atau kain berdesir, dan keduanya saling sadar akan kehadiran yang lain. Jarak antara ranjang dan meja hanya sekitar dua meter. Cukup untuk disebut sopan. Tidak cukup untuk disebut aman.
“Kamu bisa memakai meja itu besok,” kata Arkan tiba-tiba, masih menatap layar. “Saya akan kerja di kantor lebih sering.”
“Tidak perlu mengubah kebiasaanmu karena saya,” jawab Savira.
Arkan mengangkat wajah. “Ini bukan karena kamu. Ini karena efisiensi.”
Savira hampir tersenyum sinis, namun menahannya. “Kamu selalu punya alasan yang terdengar logis, ya?”
Arkan meletakkan pena. “Lebih baik logis daripada membiarkan situasi ini menjadi lebih rumit dari yang seharusnya.”
Mereka saling menatap. Di antara mereka, udara terasa lebih berat dari semalam. Savira sadar bahwa sejak pagi, sejak suara retakan itu terdengar, sesuatu yang tidak terlihat di antara mereka juga ikut retak. Bukan langsung hancur, melainkan mulai longgar—seperti plester yang mengelupas pelan-pelan dari dinding tua.
Ia menutup laptop. “Saya akan mandi.”
Arkan hanya mengangguk. Ia kembali menunduk ke dokumen, namun Savira bisa merasakan pandangannya mengikutinya sesaat ketika ia berdiri dan mengambil handuk.
Di dalam kamar mandi yang sempit, Savira menatap bayangannya sendiri di cermin yang agak buram. Air panas mengalir, mengaburkan kaca. Ia memikirkan kata-kata Ibu Ratnawati semalam, pesan Chalista, nama Larasati yang disebut sepintas, dan kini dinding struktural yang benar-benar retak.
Semuanya terasa saling terkait. Rumah ini sedang runtuh perlahan di satu sisi, dan di sisi lain, batas-batas yang selama ini dijaga ketat mulai menunjukkan celah.
Ketika ia keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah dan piyama longgar, Arkan sudah mematikan lampu meja. Hanya lampu tidur kecil yang menyala. Ia sudah berbaring di sofa dengan satu lengan dilipat di bawah kepala, mata terpejam namun belum benar-benar tidur.
Savira berjalan pelan menuju ranjang. Ketika ia naik ke atas kasur, pegas berbunyi pelan. Arkan tidak bergerak, namun napasnya terdengar berubah—sedikit lebih dalam, seolah ia sadar penuh akan setiap gerakan di dalam ruangan.
Savira berbaring membelakangi sofa, menarik selimut hingga ke bahu. Matanya terbuka di kegelapan.
Di luar, angin malam menggoyangkan terpal plastik hingga berbunyi seperti kain basah yang ditarik. Jauh di lantai dua, ia membayangkan dinding-dinding yang retak, menunggu untuk diperkuat atau justru semakin hancur.
Dan di dalam kamar yang sama, dalam jarak yang hanya dipisahkan oleh beberapa langkah kaki, dua orang yang terikat oleh nama dan kematian yang sama berusaha keras untuk tidak membiarkan retakan itu menjalar lebih jauh.
Namun Savira tahu, di keheningan malam itu, sesuatu yang lebih dari sekadar dinding batu sudah mulai runtuh.
Dan ia tidak yakin lagi apakah mereka masih punya cukup waktu untuk memperbaikinya sebelum semuanya roboh.