Mobil hitam itu melaju dalam keheningan yang hampir sempurna. Hanya suara hujan ringan yang sesekali mengetuk kaca dan deru mesin yang pelan mengisi jarak di antara mereka. Savira duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Pesan dari Chalista Ranindra masih terasa menempel di layar ponselnya, meski sudah ia kunci berkali-kali.
Arkan mengemudi dengan satu tangan di setir, tubuhnya condong sedikit ke depan, sikap yang selalu ia pakai ketika sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Ia tidak berbicara sejak mereka keluar dari basement kantor. Savira juga tidak berniat memulai. Keheningan ini lebih aman daripada percakapan yang bisa membuka celah.
Ketika mobil memasuki kawasan perumahan, lampu-lampu taman sudah menyala. Rumah Wiratama tampak semakin besar di malam hari, dengan sebagian dindingnya tertutup terpal dan scaffolding. Cahaya dari dalam rumah menembus celah-celah renovasi, menciptakan bayangan-bayangan aneh di halaman.
Arkan memarkir mobil di garasi samping tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia keluar lebih dulu, lalu berjalan mengitari mobil dan membuka pintu untuk Savira gerakan otomatis yang terasa formal, bukan kehangatan. Savira mengangguk singkat sebagai ucapan terima kasih dan segera melangkah masuk lewat pintu belakang.
Di ruang makan, Ibu Ratnawati dan Pak Gumilar sudah duduk. Ardana Wicaksana juga hadir, meletakkan tablet di atas meja sambil sesekali mengamati keduanya yang baru tiba. Sania tampak merapikan peralatan makan di sisi lain.
“Kalian terlambat,” kata Pak Gumilar tanpa basa-basi. “Rapat keluarga seharusnya dimulai dua puluh menit yang lalu.”
“Ada urusan di kantor yang harus diselesaikan,” jawab Arkan datar. Ia melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran kursi, lalu duduk di sebelah kiri Pak Gumilar. Savira memilih kursi yang agak jauh, di seberang meja.
Ibu Ratnawati menatap Savira lama. “Kamu terlihat lelah. Apakah kamar belakang cukup nyaman?”
“Cukup, Bu,” jawab Savira singkat.
“Bagus.” Ibu Ratnawati menyeduh tehnya pelan. “Saya ingin memastikan kamu memahami posisi mu di rumah ini. Nama Kirana yang kamu sandang sekarang bukan hanya nama pernikahan. Itu nama yang terikat dengan keluarga Wiratama. Setiap langkahmu akan dinilai.”
Savira menahan diri untuk tidak membalas dengan tajam. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat serupa sejak suaminya meninggal. “Saya tidak berniat mencoreng nama siapa pun.”
“Bagus,” potong Ardana dengan suara tenang namun penuh perhitungan. “Karena di luar sana sudah mulai ada bisikan. Chalista Ranindra menelpon Ibu pagi ini. Ia mengirim bunga duka yang agak terlambat, sekalian menanyakan kabar Arkan… dan kabarmu.”
Nama itu jatuh di tengah meja seperti batu yang dijatuhkan ke air tenang. Savira merasakan bahu Arkan yang duduk di seberangnya sedikit menegang, meski ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali.
Pak Gumilar mendengus pelan. “Perempuan itu selalu tahu kapan harus muncul. Ia masih menganggap dirinya bagian dari keluarga ini, padahal pertunangan sudah batal dua tahun lalu.”
“Chalista hanya ingin menunjukkan kepedulian,” kata Ibu Ratnawati, namun nadanya tidak sepenuhnya meyakinkan. “Ia berasal dari keluarga baik. Dan ia pernah sangat dekat dengan Arkan.”
Arkan akhirnya angkat suara. “Kedekatannya dengan saya sudah selesai. Tidak perlu dibahas lagi.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada final, namun Savira menangkap sesuatu yang lain di baliknya—bukan sekadar penolakan, melainkan penutupan pintu yang terlalu cepat. Ia menunduk, pura-pura memperhatikan ujung sendoknya. Di dalam d**a, rasa tidak nyaman yang samar mulai tumbuh. Chalista bukan sekadar mantan. Perempuan itu adalah bayangan yang masih bisa masuk ke dalam rumah ini kapan saja.
Rapat keluarga berlangsung singkat dan tegang. Pembahasan kembali berputar pada nilai saham, jadwal renovasi, dan kemungkinan menjual sebagian aset non-inti. Savira berbicara sedikit, hanya ketika diminta menandatangani dokumen tambahan. Ia menolak dua klausul yang menurutnya merugikan posisi janda, dan keputusannya membuat Ardana mengangkat alis, sementara Arkan memperhatikan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah rapat usai, Pak Gumilar dan Ardana pergi ke ruang kerja. Ibu Ratnawati menarik Savira ke sudut ruang tamu sebelum perempuan itu sempat naik ke kamar.
“Saya tahu kamu perempuan mandiri, Savira,” katanya pelan. “Kamu tidak suka bergantung. Itu sifat yang baik. Tapi di keluarga ini, kemandirian yang berlebihan bisa dianggap sebagai penolakan. Jangan buat Arkan terlihat seperti ia tidak mampu menjaga iparnya sendiri.”
Savira menatap wanita itu. “Saya tidak meminta dijaga.”
“Saya tahu. Tapi orang luar tidak peduli dengan apa yang kamu minta. Mereka hanya melihat apa yang terlihat. Kamu tinggal serumah dengan Arkan, di sayap yang sama, sementara rumah ini masih berantakan. Sudah cukup untuk membuat lidah bergoyang.” Ibu Ratnawati menepuk lengan Savira sekali, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, “Ipar adalah ipar. Batas itu ada untuk alasan yang baik. Jangan biarkan kesepian membuatmu lupa.”
Kalimat terakhir itu terasa seperti tusukan halus. Savira hanya mengangguk, lalu meminta diri.
Di koridor menuju kamar belakang, ia bertemu Sania yang sedang membawa tumpukan handuk bersih. Gadis itu berhenti sejenak.
“Mbak Savira,” bisiknya, “Bu Ratnawati tadi bilang Chalista mungkin akan datang berkunjung minggu depan. Sekadar memberi tahu.”
Savira mengangguk pelan. “Terima kasih, Sania.”
Ketika akhirnya ia masuk ke kamar, Arkan sudah berada di dalam. Ia duduk di kursi dekat jendela, masih memakai kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku, sedang membaca sesuatu di tablet. Lampu meja menyala redup. Ranjang yang sama terbentang di antara mereka seperti garis batas yang tidak terlihat.
Arkan mengangkat wajah. “Rapat selesai?”
“Sudah.” Savira meletakkan tasnya di meja kecil. “Chalista akan datang minggu depan, katanya.”
Arkan tidak langsung menjawab. Ia mematikan tablet, lalu meletakkannya di samping kursi. “Saya dengar.”
Keheningan kembali mengisi ruangan. Savira membuka lemari dan mengambil piyama, mencoba terlihat biasa. Namun pertanyaan yang sejak tadi mengganjal akhirnya keluar.
“Kenapa pertunangan kalian batal?”
Arkan menatapnya lama. Cahaya lampu membuat bayangan jatuh di wajahnya, menegaskan garis rahang yang tegas. “Karena saya memutuskan itu. Alasan pribadi.”
“Alasan pribadi yang masih membuat namanya disebut di meja makan keluarga?”
Arkan berdiri. Gerakannya lambat, terkendali. Ia berjalan mendekati jendela dan membuka gorden sedikit, memandang kebun belakang yang gelap. “Keluarga ini punya kebiasaan menyimpan bayangan lama di balik nama-nama yang sudah tidak lagi relevan. Chalista hanyalah salah satunya.”
Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, “Sama seperti nama Larasati yang masih digantung di beberapa percakapan ketika orang ingin mengingatkan saya tentang apa yang terjadi jika seseorang meninggalkan keluarga ini.”
Nama itu—Larasati—terasa asing namun berat di telinga Savira. Ia tahu secukupnya: ibu kandung Arkan yang pergi ketika Arkan masih remaja, meninggalkan luka yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka. Ayah mereka, Arya Wiguna, dikenal sebagai pria keras yang membesarkan anak-anaknya dengan aturan dan hukuman, bukan kehangatan.
Savira menutup pintu lemari pelan. “Saya tidak berniat menjadi bayangan lain di rumah ini.”
Arkan berbalik. Matanya menangkap cahaya lampu, gelap dan dalam. “Bagus. Karena saya juga tidak berniat membiarkan siapa pun menjadi itu.”
Mereka saling menatap dalam jarak beberapa langkah. Udara di kamar terasa lebih padat dari sebelumnya. Di luar, angin menggoyangkan terpal renovasi hingga berbunyi seperti bisikan panjang.
Arkan akhirnya mengalihkan pandangan. “Saya akan tidur di sofa malam ini. Kamu pakai ranjang.”
“Tidak perlu,” jawab Savira cepat. “Kita sudah sepakat berbagi. Saya tidak ingin diperlakukan istimewa.”
Arkan menatapnya sekali lagi, seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niat. Ia hanya mengangguk, mengambil bantal cadangan, dan berjalan menuju sofa di sudut kamar tanpa menambah kata.
Savira mematikan lampu utama, menyisakan hanya lampu kecil di sisi ranjang. Ia berbaring membelakangi sofa, mata terpejam, namun pikirannya tidak tenang. Nama-nama bergantian muncul di kepalanya: Chalista, Larasati, Arya, dan nama suaminya yang sudah tidak lagi bisa ia ucapkan tanpa rasa kosong.
Bayangan-bayangan itu hidup di balik setiap nama yang disebut di rumah ini. Dan semakin lama ia berada di bawah atap yang sama dengan Arkan, semakin ia merasa bahwa dirinya sendiri mulai menjadi bagian dari bayangan tersebut sesuatu yang tidak seharusnya ada, namun perlahan sulit dihapus.
Di kejauhan, petir samar menyambar lagi.
Dan di dalam kamar yang redup, napas dua orang dewasa yang terikat oleh nama yang sama terdengar terlalu dekat untuk disebut aman.