Dursyam memijat pelipisnya yang mulai terasa nyeri , dirinya sudah benar benar lelah menghadapi gadis di hadapannya. Entah dengan cara apalagi mengajari wanita itu yang tampaknya sama sekali tidak minat ataupun mau berusaha untuk mempelajari mata pelajarannya.
Sementara Nazifah hanya menggaruk garuk pipinya yang terasa sedikit gatal , lalu menggaruk garuk tangannya dan terkadang kepalanya . Entah kenapa di saat dirinya merasa seperti orang bodoh maka sekujur tubuhnya pasti ada saja yang terasa gatal.
" Kenapa kamu garuk garuk kayak monkey gitu " celetuk Gus Dur yang memperhatikan Nazifah yang terlihat aneh
" Gatel Gus " ujarnya dengan polos
" Sumpah bukan temanku " celetuk Naila yang kembali menepuk jidatnya
" Harus dengan cara apalagi saya mengajarimu pelajaran bahasa Arab yang sangat mudah ini Nazifah " Gus Dur terlihat sudah benar benar pasrah
" Ya gak tau Gus kok tanya saya! Kan yang guru disini Gus bukan saya " celetuknya yang kembali menjawab perkataan Gus Dur
Dur mendelik mendengar penuturan Nazifah yang terdengar ringan itu , menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan lahan itu dilakukan Gus Dur berulang kali untuk meredam emosi dalam dirinya yang rasanya ingin melahap habis santriwatinya itu .
" Selama satu tahun setengah ini apa yang kamu pelajari? Gak mungkin kamu gak pernah belajar bahasa Arab di pesantren ini , dan gak mungkin pula Ning Salma tidak mengajarimu " Dur manatap dalam pada Nazifah yang masih terlihat santai
" Sekarang saya jadi ragu , kenapa kamu bisa naik kelas " celetuk Dur lagi
" Ya bisa lah Gus! Apa sih yang gak bisa " jawab Nazifah dengan santainya
" Bagaimana cara Ning Salma memberimu nilai jika kosa kata dasar saja kamu sama sekali tidak tau " Dur menatap Nazifah dengan intimidasi
" Karna Ning salma baik! Beda sama Gus "
" Trus maksud kamu saya jahat gitu?! " Ucapan Dur di balas anggukan kepala oleh Nazifah dengan mantap hingga membuatnya geram
" SIAPA YANG KELAS SEPULUH JADI TEMAN SEKELAS NAZIFAH!!! " Teriak Dur menggelegar , kesabarannya benar benar sudah habis
Dengan ragu Naila mengangkat tangannya ke atas , juga lima santriwati lainnya yang memang satu kelas dengan Nazifah saat masih berada di kelas sepuluh.
Dur berbalik badan untuk menatap santriwati lainnya , tatapannya jatuh pada Naila yang lebih dekat posisinya dengan dirinya saat ini .
" Gimana dia bisa naik kelas? " Tanya Dur pada Naila
Dengan pelan Naila menggelengkan kepalanya dengan menunduk takut ," ana tidak tau Gus " ucapnya
Dur menarik nafasnya panjang , tatapannya kembali mengarah pada Nazifah yang berkedip beberapa kali . Terlihat polos namun aslinya Sangat menjengkelkan itulah kata yang terselip di pikiran Dur saat melihat kedipan mata Nazifah .
" Setelah jam pelajaran saya berakhir , kamu ikut saya ke kantor " ujar Dur yang tidak dapat terbantahkan lagi
Namun bukan Nazifah namanya yang tidak memiliki seribu pertanyaan dan jawaban Tampa adanya gang buntu .
" Mau ngapain Gus? " Tanyanya penasaran, alisnya tertaut menyatu dengan tampang yang terlihat bingung
" Gausah banyak tanya!! " Ketus Dur yang masih berusaha mengendalikan emosinya
Namun lagi lagi Nazifah malah melontarkan pertanyaan membuat Dur menghela nafasnya dengan kasar .
" Kalau Gus gak mau ngasih tau , buat apa saya ke kantor " celetuknya dengan santai
" Kamu mau saya seret! " Tekan Dur menatap tajam pada Nazifah
" Udah besar Gus! Masa mau main seret seretan " jawabnya lagi , dulu saat masih sekolah menengah pertama, Nazifah memang cukup terkenal bahkan bisa di bilang murid populer . Teman temannya keseluruhan adalah laki laki dan mereka sering bermain seret menyeret .
Contohnya nazifah berjongkok dan mengulurkan tangannya lalu sang teman prianya menarik tangannya dengan berlari kencang tentunya membuat Nazifah terpekik histeris kesenangan.
" lagian juga tinggal bilang buat apa saya ke kantor susah amat sih " gerutunya yang malah kesal
Seharusnya Dur yang kesal bukan Nazifah namun ya memang begitu lah wanita .
" Eh jangan jangan Gus mau bawa saya ke kantor buat nikahin saya di sana! " Tebaknya dengan berpikir seperti orang bo-doh
Kali ini Dur hanya diam tidak membalas ataupun memberi respon apapun itu , dirinya kembali melangkah menuju meja mengajarnya dan mendudukan diri di kursi tak lama kemudian bel istirahat terdengar.
" Baiklah jam pelajaran saya sudah habis , kalian bisa kembali ke asrama masing masing kecuali Nazifah! " Tekannya
Setelah Gus Dur memberikan instruksi, semua santriwati langsung berhamburan keluar kelas begitupun Nazifah yang hendak keluar kelas .
Namun langkahnya langsung terhenti ketika seseorang menarik jilbabnya , tidak mau jika sampai jilbab itu terlepas akhirnya Nazifah hanya pasrah karna tau siapa sosok yang menarik jilbabnya.
Masih dengan tangan yang menarik jilbab Nazifah , Dur melangkah dan berdiri di depan Nazifah " ikut saya " titahnya
Nazifah menghela nafasnya pasrah dan mengikuti langkah kaki Dur yang membawanya menuju kantor , banyak pasang mata yang menatap dirinya dan Gus Dur bahkan sampai berbisik bisik namun Dur hanya mengabaikan hal itu saja . Berbeda dengan Nazifah , wanita itu menatap tajam pada santriwati lainnya yang terlihat berbisik bisik .
" Gus lepasin ngapa " ujar Nazifah dengan nada memohonnya , tak lupa pula memasang wajah memelasnya agar Gus Dur mau melepaskan tangannya dari jilbab Nazifah
" La! " ( Tidak) , ucap Gus Dur dengan cepat membuat Nazifah menghelas nafasnya pasrah , tidak tau entah dengan cara apalagi agar Gus Dur mau membebaskannya . Jika saja Gus Dur teledor sedikit saja maka sudah di pastikan Nazifah akan langsung lari untuk menghindar dari Gus Dur
" Gus durian nyebelin " ujar Nazifah dengan nada kesalnya
Mendengar perkataan Nazifah , Gus Dur menghentikan langkah kakinya hingga Nazifah yang tidak mengetahui hal itu langsung menubruk punggung tegap milik Gus Dur
" Sshht " Nazifah mengelus keningnya yang terasa sedikit sakit
" Anjing emang! Kenapa bisa ada tembok sih! Gus durian juga kenapa buat saya nabrak tembok!! " Makinya Tampa sadar
Gus Dur membalikkan tubuhnya menghadap pada Nazifah yang masih mengomel dengan mata terpejam entah kenapa wanita itu malah menutup matanya
" Siapa Gus durian? Dan apa kamu bilang tadi? Anjing? Kamu gak bisa ya kalau gak ngucapin bahasa kotor " Gus Dur menatap tajam pada Nazifah yang baru saja membuka kelopak mata indahnya. Sesaat , Gus Dur sempat terpaku pada mata indah Nazifah namun dengan cepat pria itu menggelengkan kepalanya menghalau rasa kagumnya pada santriwati yang memiliki gelar Badung .
" Gus durian itu ya Gus! Lagian juga bahasa kotor apaan! Anjing kan nama hewan, emangnya salah saya sebut nama hewan " sewot Nazifah
" Kamu!! " Gus Dur mengepal tangannya erat sakingkan kesalnya namun lagi lagi dirinya bisa menguasai emosi yang ada di dirinya
" Apa? Kan Nazifah bener " Tutur Nazifah Tampa rasa bersalah
" Tapi itu bahasa kotor Nazifah " Gus Dur menekan setiap kata yang di ucapkannya
" Bahasa kotor dari mana sih Gus! Kalau tadi saya bilangnya , anjing kauu baru itu namanya bahasa kotor " mulut Nazifah maju kedepan , matanya mendelik menatap pada Gus Dur Tampa takut sedikitpun
" Hihhh gemas sekali rasanya saya sama bibir kamu yang udah ngomong Pake bahasa kotor itu! Rasanya pengen saya tarik hummm " Gus Dur dengan kesal memperagakan tangannya di depan bibir Nazifah seolah olah hendak menarik bibir itu
Dengan cepat Nazifah menutup mulutnya dengan telapak tangannya , " jangan dong Gus ntar kalau saya mau cium suami saya pake apa kalau gak punya bibir " ujarnya masih menutup mulutnya
" Bukan urusan saya! "
" Ya jelas lah urusan Gus! Kan Gus yang narik bibir seksi saya "
" Saya bilang bukan urusan saya nazifah Humairah sagaraskar Selagi kamu bukan istri saya maka bodo amat! Saya gak perduli"
" Loh ya harus perduli lah Gus! Sesama manusia itu harus memperdulikan manusia lainnya "
" Iya tapi bukan kamu! Kamu mah mintaknya di musnahkan saja dari dunia ".
" Enak aja! Saya mah maunya di sayang, di elus , di utututu tayang " .
Gus Dur langsung merinding mendengar ucapan Nazifah yang cukup aneh di telinganya . Kemudian Gus Dur menarik nafasnya panjang , " ayo lanjut jalan! Males saya bicara sama orang gila " ujar Gus Dur yang kembali melangkahkan kakinya . Mau tidak mau Nazifah harus mengikuti langkah Gus Dur agar jilbabnya tidak terlepas
" Gus yang gila! " Gumamnya pelan hingga Gus Dur tidak mendengarkan sedikitpun ucapannya itu .