"Tidak mau! Tempat apa ini? Apa kalian benar-benar akan menjual ku?" Diana berusaha melawan. Namun tangannya lagi-lagi seperti hampir remuk di dalam genggaman Willy.
"Diam! Menurut lah pada apa yang dikatakan oleh Tuan muda!" Willy menatap tajam sambil terus memperkuat cengkeramannya.
"Ah ... sakit! Lepaskan aku! Kumohon! Aku akan sangat berterimakasih pada kalian dan akan mengingat kebaikan kalian, please!" Kali ini Diana sudah tak bisa lagi menahan bulir air matanya.
"Pelayan! Bawa dia dan bersihkan tubuhnya!" Willy memerintah salah seorang yang berpakaian seragam pelayan yang sejak tadi menyambut kedatangan tuannya.
"Baik, Tuan."
"Tunggu! Lepaskan aku, kumohon!" Diana sudah tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
Bayangan ayahnya yang terbaring sakit terus melintas di kepalanya. Ia takut jika dirinya akan terjebak di dalam bangunan ini selamanya dan tidak bisa melihat ayahnya lagi.
Semahal ini kah ia harus membayar atas ketidaksengajaannya menendang botol kosong tadi?
Diana menutupi tubuhnya yang saat ini tanpa kain penutup sehelai pun.
Dua orang pelayan melucuti pakaiannya tanpa permisi dan sungkan.
"Nona, silahkan masuk ke dalam bak mandi!" Salah seorang dari mereka menuntun Diana ke sebuah bak mandi yang sudah terisi penuh dan ditaburi kelopak bunga berwarna merah.
Saat Diana masuk kedalamnya, aroma wangi menguar dan mengusik indera penciumannya.
"Nona, kami harap Anda menikmatinya. Jangan tegang!" Orang yang sama beralih ke belakang Diana dan mulai menggosok punggungnya sambil memberi pijatan lembut disana.
Namun alih-alih menikmati perlakuan apa yang ia dapatkan sekarang. Diana justru semakin risau dan was-was. Ia semakin yakin jika dirinya akan dijual malam ini juga.
Sementara disisi ruangan yang lain, Raymond dan asisten pribadinya tengah berada di ruang kerja milik Raymond.
Ruangan bernuansa abu-abu yang sangat rapi dan wangi.
"Tuan, apa Anda yakin?" tanya Willy. Guratan keraguan nampak di wajahnya.
"Hem."
Hanya itu yang keluar dari mulut Raymond.
"Aku ingin kau mengumpulkan semua informasi tentangnya," ujarnya kemudian.
"Baik, Tuan. Saya akan lakukan sesuai dengan perintah Tuan Muda."
Tok ... tok ... tok
Terdengar seseorang mengetuk pintu ruang kerja Raymond, dan Willy segera bergegas membukanya.
"Tuan Willy, saya hanya ingin menyampaikan jika Nona sudah siap." Seorang pelayan menunduk sopan dihadapan Willy.
"Ya ... kau boleh pergi. Pastikan Nona itu tidak kabur. Perketat penjagaan di depan!"
"Baik, Tuan."
Sepeninggal pelayan tadi, Willy pun masuk dan memberitahukan apa yang disampaikan pelayan tadi.
"Bagus! Kau boleh pergi Willy. Aku akan menghubungimu jika aku membutuhkanmu." Raymond berdiri dari tempatnya.
"Baik, Tuan."
Raymond pergi ke kamarnya, sementara Willy bersiap untuk kembali ke apartemennya.
***
Di ranjang yang besar dan empuk, Diana duduk dengan gelisah. Ia dipaksa memakai gaun mini tanpa lengan dengan tali yang diikat di belakang lehernya. Yang hanya sekali tarik saja pasti gaun itu jatuh ke lantai.
Diana meremas jemari tangannya. Ia sudah mencoba bertanya pada pelayan yang melayaninya sejak tadi, namun tak ada informasi apapun yang bisa ia dapatkan.
Jantungnya semakin berdegup tak beraturan saat terdengar seseorang membuka pintu kamar.
"Kalian boleh pergi," ujar Raymond pada seorang pelayan dan juga dua pengawal yang tadi ditugaskan untuk menjaga kamar utama yang merupakan ruangan pribadi Raymond.
"Baik, Tuan." Wanita yang diperkirakan berumur empat puluh tahunan itu pergi sesuai dengan yang dikatakan Raymond.
Diana bertambah gusar kala Raymond melangkah semakin dekat padanya.
"Berdiri!" perintahnya dengan nada penuh aura kekuasaan.
Diana menjejakkan kakinya ke lantai yang sangat mengkilap di dalam kamar Raymond. Ia mengikuti apa yang lelaki itu perintahkan. Namun matanya menatap tajam pada Raymond.
"Apa yang kau inginkan? Lepaskan aku!"
"Katakan siapa namamu!" Raymond menyentuh dagu runcing Diana. Mengusap lembut disana. Namun ia dibuat kecewa karena Diana justru memalingkan wajahnya. Akhirnya lelaki dengan tubuh tinggi tegap itu meraih kembali dengan kasar apa yang tadi dipegangnya.
"Akh .... " pekik Diana.
"Jika kau bisa bersikap manis, aku akan memperlakukanmu dengan baik. Tapi jika kau melawan, aku tak segan akan menyakitimu." Suara Raymon begitu pelan dan penuh penekanan. Membuat Diana bergidik ngeri.
"Apa maksudmu dan apa mau mu? Apa kesalahanku sebegitu fatalnya hingga kau mengurungku disini? Aku punya keluarga. Mereka pasti akan mencari ku, jadi ku minta lepaskan aku!"
"Tidak semudah itu. Aku sudah melepaskan mu tadi pagi. Tapi kau kembali membuat masalah denganku."
"Sudah kubilang jika aku tidak sengaja!" Merasa frustasi, Diana meninggikan suaranya.
"Jangan berani mengeraskan suaramu!"
Raymond semakin maju dan membuat Diana jatuh terduduk di tempat tidur empuk miliknya. Melihat hal itu pria dengan tinggi 180cm itu mendorong tubuh Diana hingga terbaring disana.
Buah dadanya nampak begitu membusung tanpa mengenakan bra.
Tanpa ragu Raymond merangkak naik dan menindih gadis itu.
"Minggir!" Diana berusaha mendorong Raymond dengan sekuat tenaga. Namun usahanya sia-sia saja. Tubuh Raymond jauh lebih besar dan lebih tinggi darinya. Tenaganya juga lebih kuat.
Buliran bening mengalir begitu saja dari pelupuk matanya yang sudah terasa panas sejak tadi.
Raymond melumat bibir tipis Diana dengan penuh nafsu.
"Buka mulutmu!" perintahnya.
"Tidak mau!"
Raymond semakin geram mendengar penolakan itu keluar dari bibir mungil Diana.
"Tidak mau, ya? Oke ... lihat apa yang bisa aku lakukan padamu. Pastikan kau tidak melenguh karena nikmat nanti," ujar Raymond seraya menyeringai.
Raymond tidak lagi bermain dengan bibir Diana. Ia lebih turun dan mengincar leher jenjang dan mulus milik Diana, sementara tangan kirinya mengunci kedua tangan Diana keatas kepala gadis itu. Tangan kanannya bergerilya masuk ke dalam gaun mini yang dikenakan Diana.
Ia meremas dan memilin puncak p******a Diana.
"Jangan! Tolong jangan lakukan ini!"
Raymond tak mengindahkan permintaan Diana, ia kini justru menarik tali dibelakang leher Diana dan menyingkap pakaian gadis itu hingga nampak gundukan kembar yang begitu menggoda.
Raymond yang sudah panas pun tak ragu untuk mencicipi buah kembar itu. Ia mengulum puncaknya dengan lembut, membuat tubuh Diana sedikit bergetar karena sensasi yang ditimbulkan.
Diana merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tanpa sadar ia mendesah pelan, membuat Raymond menyunggingkan senyumnya dan lebih bersemangat untuk melakukan lebih.
Ia semakin turun, membuka paha Diana dengan lebar dan membenamkan wajahnya disana. Raymond menyapukan lidahnya pada area kewanitaan Diana yang sudah basah. Diana kembali bergetar menerima perlakuan tersebut. Ia Merasakan sensasi yang luar biasa nikmat hingga merasa tak tahan saat Raymond mengulum dan menghisap bagian kecil yang berada ditengah miss V nya.
"Akh ...." Diana melenguh sambil memejamkan matanya.
"Hentikan! Aku ingin pipis!" Ia mengangkat kepalanya dan menyangga tubuhnya dengan siku kearah belakang.
"Lepaskan, Sayang!"
Raymond kembali menyerang area sensitif itu dengan lidahnya. Mengecup, menjilat dan mengulumnya dengan lembut.
"Akh ...." Lenguhan panjang itu lolos begitu saja dari bibir tipis Diana seiring dengan keluarnya cairan nikmat dari kewanitaannya. Raymond kembali menyunggingkan senyumnya dan bangkit dari posisinya yang tadi berjongkok menikmati cairan Diana.
Ia kembali menindih tubuh Diana.
"Bagaimana? Kau puas?" tanya Raymond pada Diana.
Gadis itu memerah wajahnya, ia menahan malu setengah mati dan membuang pandangannya kesamping. Ini pengalaman pertamanya, rasa bagaikan melayang ini tidak mungkin bisa ia lupakan nanti.
"Sekarang giliran ku. Buat aku puas malam ini!"
"A-apa?"