Willy menatap tajam kearah Diana yang berada dihadapannya. Hanya ditatap saja rasanya seperti sedang diintimidasi.
Lelaki ini menyeramkan! batin Diana.
"A-aku ... tidak sengaja," ujar Diana seraya menunjukkan ekspresi nyengir kuda. Sesungguhnya ia cukup merasa ngeri berhadapan dengan Willy.
"Bagaimana jika saya meminta ganti rugi atas ulah Anda? Mobil milik Tuan Raymon menjadi kotor karena perbuatan Anda!"
Diana terkesiap.
Uang darimana untuk mengganti rugi?
"Mana? Jangan mengada-ada! Aku hanya menendang botol kosong tadi, tidak ada isinya sama sekali. Tidak mungkin membuat mobil tuan mu itu menjadi kotor." Diana berusaha membela diri. Jujur di dalam hatinya ia merasa takut. Tiba-tiba saja ia ingat pada adegan sebuah film yang pernah ia tonton tentang modus penjahat.
Ia takut jika orang yang dihadapannya adalah penjahat, yang biasa memperjual belikan wanita. Dan sekarang berniat menculiknya.
Diana bergidik ngeri membayangkannya, ia memundurkan tubuhnya dua langkah sebelum akhirnya Willy berhasil mencekal tangannya.
"Anda mau kemana? Ikut saya, dan jangan berteriak!" perintah Willy seraya menarik gadis itu menuju ke mobil yang berhenti tak jauh dari mereka.
"Gawat! Jangan-jangan ia benar-benar bermaksud jahat padaku," gumam Diana dalam hati.
"Lepaskan aku! Kau mau apa, hah? Jangan coba-coba memanfaatkan kelemahan ku atau akan ku buat kau menyesal!" ancamnya sok berani.
Tapi Willy tetap tak bergeming dan tak terpengaruh oleh ancaman kecil Diana. Ia terus menarik tangan Diana hingga mendekat ke mobil.
"Anda lihat? Betapa mobil mewah ini menjadi kotor karena ulah Anda." Willy menunjuk ke bagian yang dimaksud.
Mana? Dasar tidak waras! Tidak ada kotoran apapun disini. Dia pasti sedang berusaha membuatku lengah dan ingin menculik ku.
Diana seketika menoleh pada pria yang tadi membawanya. Ia tidak mau lengah, apalagi sampai benar-benar diculik.
"Kau membohongiku! Mana? Tidak ada bagian yang kotor dari mobil ini. Kau ingin menculik ku, bukan?" Diana memicingkan matanya mencoba mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata untuk menggertak Willy.
"Tidak ada yang akan menculik gadis buruk rupa sepertimu!"
Ditengah penyelidikannya pada Willy, telinga Diana mendengar suara pria yang baru saja keluar dari dalam mobil.
Diana menoleh.
"Apa kau bilang? Hey, biar buruk rupa macam begini juga masih banyak yang bilang aku menarik." Diana merasa tidak terima atas perkataan Raymond. Siapa dia?
Pria itu menyeringai tipis seraya menggelengkan kepala. Batinnya heran, makhluk macam apa yang dia temui hari ini hingga dua kali. Apa benar dia itu manusia? Wanita?
Hahaha ....
Raymond terkekeh dalam hatinya.
"Oh ya? Willy, bawa dia masuk ke mobil!" suaranya terdengar memerintah.
Raymond lalu kembali masuk ke dalam mobil dan duduk kembali.
"Apa? Hei, tunggu! Aku tidak mau! Kalian benar-benar menculik ku?" tanya Diana dengan raut wajah cemas. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika benar ia akan dijual seperti layaknya berita di televisi yang selama ini ia tahu.
Bagaimana nasib ayahnya?
Oh Tuhan ....
Dengan sekuat tenaga ia berusaha meronta, namun rasanya sia-sia saja usahanya. Tangan Willy yang dipenuhi otot itu mencengkeram lengannya dengan kuat. Semakin dia melawan, pergelangan tangannya semakin terasa sakit.
"Tidak ada yang akan menculik Anda, Nona. Ikutlah atau Anda akan lebih menderita jika tuan Raymond menjadi murka," gertak Willy dengan pelan namun penuh penekanan.
"Memangnya siapa dia? Apa haknya untuk murka padaku?"
"Sudah jangan banyak bertanya! Ikuti saja kemauan tuan Raymond!" Willy mendorong tubuh Diana hingga berhasil melesak masuk ke dalam mobil.
"Hei, lepaskan aku! Biarkan aku keluar! Aku masih banyak urusan!" teriaknya. Dengan sekuat tenaga Diana menggedor dan mencoba membuka mobil itu.
"Pelankan suaramu! Telingaku sampai sakit mendengarnya!" ujar Raymond seraya menatap tajam.
"Siapa suruh menahan ku? Keluarkan aku dari sini!" perintah Diana. Matanya mendelik seolah mengancam orang yang ada disampingnya.
"Jalankan mobilnya, Will!"
Raymond tak mengindahkan apa yang dikatakan Diana. Ia kembali ke posisinya, duduk dengan manis sambil melihat pemandangan jalanan kota seolah tanpa beban. Sungguh menyebalkan.
Sementara Diana hanyut dalam pikiran dan ketakutannya. Ia tidak takut akan dimarahi oleh ibu tirinya karena ingkar janji akan membawakan makanan serta belanjaan malam ini. Karena bagi Diana hal itu sudah biasa dan menjadi santapan kesehariannya.
Ia justru takut jika dua pria yang kini berada satu mobil dengannya akan mencelakainya atau melecehkannya lalu membunuhnya dan membuang jasadnya ke tempat yang tidak diketahui oleh orang lain.
Bulu kuduk Diana meremang seketika membayangkannya.
Jika hal itu terjadi, ia tidak akan lagi bisa melihat ayahnya.
Tenang Diana!
Salah satu bagian dari hatinya menyuruhnya tetap tenang, agar ia bisa mencari cara untuk lolos dari dua pria asing ini.
"Tuan," panggil Diana dengan lembut. Ia pikir dengan begitu ia bisa sedikit membujuk atau bahkan membuat dua pria itu bersimpati padanya.
Ya, sedikit berpura-pura tidak masalah. Diana membenarkan posisi duduknya menjadi sedikit lebih manis dan anggun.
"Aku bukanlah gadis yang baik. Aku sangat merepotkan, makan ku juga banyak sekali. Wajahku buruk rupa. Sungguh tidak ada yang menarik dari diriku. Jika kalian ingin menjual ku, tentu itu sangat merugikan kalian. Aku yakin tidak ada yang mau padaku." Diana menatap Raymond dengan tatapan penuh harap. Persis seperti anak kecil yang sedang merayu untuk dibelikan sesuatu.
Matanya juga ia kedipkan beberapa kali saat Raymond membalas tatapannya.
"Apa yang sedang berusaha dia lakukan? Kenapa tiba-tiba berubah jadi manis begitu?" batin Raymond seraya mengernyitkan dahinya.
"Tuan, pikirkan lagi jika Anda ingin menjual ku. Ayolah! Aku ini benar-benar tidak berkualitas. Aku berasal dari kalangan miskin dan tinggal di tempat kumuh. Sangat menjijikkan bukan?" rayu Diana. Ia berharap lelaki dihadapannya akan kaget, jijik lalu menghentikan mobilnya dan melemparnya keluar.
Ya, itu jauh lebih baik daripada harus dijual dan dijadikan wanita penghibur di kelab malam atau rumah bordir.
Tapi kenyataannya Raymond terlihat tak bergeming sedikitpun.
Diana terus berpikir. Harus menggunakan cara apa lagi agar ia bisa bebas dari dua lelaki ini.
"Tuan," panggilnya lagi. Kali ini ia lebih lembut lagi.
"Diam dan jangan berbicara!" sahut Raymond dengan tanpa menoleh, ia menatap lurus kedepan.
Setelah itu Diana tak berani lagi bersuara. Ia semakin ngeri membayangkan jika dirinya akan dicelakai oleh dua orang ini.
Hingga beberapa menit kemudian, mobil masuk kedalam sebuah rumah mewah dengan penjagaan yang ketat.
Diana membelalakkan matanya saat melihatnya.
"Apa ini semacam rumah bordir?" gumamnya dalam hati saat melihat bangunan dua lantai yang nampak megah dan mewah di hadapnnya.
"Turun!" perintah Raymond.